Takut Menikah

Takut Menikah
Mantan


__ADS_3

Seperti yang sudah Yoga katakan sebelumnya, hari ini dia menjemput Karenina di rumah kontrakannya setelah wanita itu mengirimkan alamat lengkap padanya. Ini pertama kalinya Yoga mendatangi rumah Karenina, untuk apa juga dia datang sebelumnya.


Karenina keluar duluan saat Merry dan Rara belum keluar dari kamarnya, Yoga sudah mengiriminya pesan kalau dia sudah ada di depan.


“Maaf ya, aku jadi repotin kamu. Kalau besok kamu nggak mau jemput lagi nggak apa-apa kok”,


“Kenapa kamu cerewet sekali, pasang sabuk pengaman kamu”, Karenina memasang sabuk pengamannya dan Yoga mulai melajukan mobilnya.


‘Dia tampan juga sebenarnya, tapi dia masuk dalam kategori orang menyebalkan di dunia jadi dia tidak menarik’


“Kamu sudah sarapan?” Karenina menggeleng “Aku buru-buru tadi waktu kamu bilang sudah di depan, entar aja di kantor”.


“Kayaknya kamu harus ke S&M sebentar, aku yang akan antar kamu”


“Beneran kamu yang antar, sekalian tunggu aku?” selalu tidak tahu diri, sudah di antar masih minta di tunggu. Dia malas bertemu William kalau sendiri soalnya.


“Tergantung”


“Tergantung apa?”


“Kalau lama aku tinggal, soalnya aku juga banyak kerjaan”, Karenina mencebikkan bibirnya.


“Memangnya mau apa ke S&M?”


“Mau minta tanda tangan Tuan William”


“Lagi…” Yoga mengangguk. Mereka keluar dari mobil saat Yoga sudah memarkinkan mobilnya.


“Titip Nin, tolong simpan di atas meja”, katanya memberikan tas ranselnya pada Karenina.


“Kamu mau kemana?”


“Mau cari sarapan di depan”. Karenina hanya memandang punggung Yoga, dia merasa tidak enak karena merepotkan orang lain.


‘Kenapa juga mau jemput sih, kan dia jadi nggak sempat sarapan’.


“Buat kamu”,


“Ini apa?” Karenina membuka bungkusan yang di berikan Yoga.


“Kamu belum sarapankan?” Yoga memberi roti isi padanya, ternyata dia membeli sarapan untuk Karenina bukan untuk dirinya.


 “Terus buat kamu?”


“Aku sudah sarapan di rumah”. Karenina memandangi Yoga dengan memicingkan matanya.

__ADS_1


“Jangan salah faham, ingat kalau aku perhatian sebagai sesama teman bukan karena aku suka sama kamu. Asal kamu tahu aja kalau kamu nggak masuk kategori wanita impian” . Bukannya terima kasih, Karenina malah melemparinya dengan kertas yang entah penting atau tidak.


Melupakan kata-kata pedis Yoga tadi pagi padanya, sekarang mereka sudah ada di gedung S&M.


“Kan sudah buat janji, kok Tuan Williamnya malah nggak ada sih”, sekertaris William bilang dia sudah keluar sejak makan siang dan belum kembali.


“Titip aja kalau begitu, besok aku ambil berkasnya” Karenina lalu menyimpan berkas yang dia bawa pada sekertaris William.


‘Mana Yoga sudah pulang lagi, terpaksa aku naik taksi lagi’


Karenina duduk  di loby sambil menunggu taksi onlinenya. Saat dia sedang sibuk memainkan ponselnya, William masuk ke dalam gedung itu. Tapi dia tidak sendiri, ada wanita cantik yang berjalan dengan anggun di sampingnya.


‘Ini baru cocok dengan seleranya William Anggoro. Huh, untung aku tidak besar kepala saat dia bilang mau aku jadi kekasihnya. Paling juga dia cuma mau meniduriku. Kali ini aku bangga dengan diriku sendiri yang tidak mudah jatuh cinta, hampir saja aku menangis di pojokan karena patah hati. Tapi kok aku merasa patah hati. Aahh, sudahlah, yang terpenting dia benar-benar tidak akan menggangguku lagi’.


Di ruangan CEO.


“Katakanlah kau mau apa menemuiku, aku memberimu waktu sepuluh menit”. Kata William dengan tegas pada seorang wanita yang tadi memaksa untuk ikut ke dalam gedung perusahaan bersama William.


“Kapan kau pulang? Kenapa tidak mengabariku?”, wanita itu mengabaikan tatapan dingin dan nada bicara William, dia mendekati dan ingin memeluknya tapi William menepis tanngannya.


“Hanya itu yang mau kau katakan?” Katanya lagi tidak mengubah nada suaranya. Wanita itu tidak menyerah untuk menyentuhnya dan sekali lagi William menepis tangannya.


“Kenapa Will, kau masih bekum memaafkanku”,


“Aku datang untung menyambung hubungan kita yang sempat terputus, Will. Kau tahu aku masih sangat mencintaimu”. Terdengar William mendengus lalu tergelak dengan aura yang tidak biasa.


“Pulanglah, aku sedang banyak pekerjaan”.


“Aku serius Will, aku tidak pernah sedetikpun berhenti mencinta…”


“Kau mau berjalan keluar sendiri atau aku pangilkan satpan untuk mengusirmu”


“Will…”


“KELUAR…” Ririn terlonjak mendengar teriakan William.


“Aku akan datang lagi”, katanya lalu meninggalkan ruangan William.


‘Aku pasti akan membutamu kembali padaku Will, aku tahu kau masih mencintaiku’.


“Kau lihat wanita yang keluar dari ruanganku tadi” William bertanya lewat sambungan intercom kepada salah satu sekertarisnya.


“Beri tahu yang lain untuk tidak membiarkannya masuk ke ruanganku”, katanya menegaskan.


“Apa perwakilan S&M sudah datang?” tanyanya lagi.

__ADS_1


 “Sudah, Tuan. Mungkin sekitar sepuluh menit sebelum anda kembali”


“Baiklah, aku mengerti”, William menutup teleponnya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar mengingat seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangannya.


Wanita cantik itu adalah cinta pertamanya, dia sangat mencintainya. William menjaga kehormatannya dengan setulus hati, dia bahkan tidak pernah mau mencium bibirnya. Mereka hanya sebatas pegangan tangan dan kecupan di pipi dan kening. Mereka sudah menjalin hubungan sejak masih kuliah.


Suatu hari William tanpa sengaja melihatnya sedang berciuman mesra dengan seorang laki-laki yang William tidak kenal. Hari itu adalah hari di mana William akan melamarnya dan menikahinya saat mereka lulus kuliah.


William yang sangat marah meminta salah satu anak buah Ayahnya untuk diam-diam mengikuti kekasihnya itu, dan hasil yang dia dapatkan sungguh sangat menyakiti hatinya.


Wanita itu ternyata sudah menyerahkan hal yang paling William lindungi pada orang lain, dan dia sudah melakukannya bahkan sebelum mereka bersama.


“Kurang ajar, dia mempermainkan aku yang benar-benar mencintainya” William merobek semua foto yang berhasil anak buah Ayahnya dapatkan untuknya.


“Apa saya masih harus mengikutinya, Tuan Muda?”


“Tidak perlu, terima kasih Om” kata William. “Tolong jangan beritahu Ayahku tentang hal ini”, tambahnya.


“Baik Tuan Muda”.


Sejak saat itu William menghindari Ririn dengan melanjutkan studynya ke luar negeri. Dia tidak tertarik lagi untuk menjalani hubungan yang serius dengan seorang wanita. Dia berubah menjadi arogan dan dingin juga mempermainkan wanita sesuka hatinya.


Ririn terus menghubunginya tapi William tidak pernah meresponnya, hingga Ririn mengejarnya sampai keluar negeri.


“Kenapa kau menghindariku seperti ini, Will, apa salahku, beritahu aku. Jangan diamkan aku seperti ini”. William mengepalkan tangannya, ada rasa sakit yang ingin sekali dia tunjukkan pada wanita yang sedang berdiri di depannya itu.


“Aku bosan padamu, aku ingin mencari wanita yang bisa memuaskanku. Disini aku temukan banyak wanita seperti itu”.


Ririn menelan ludahnya dengan kasar, kata-kata William barusan seperti sebuah jebakan untuknya. Dia sudah bertingkah sok polos di depan William selama ini, kalau dia berubah jadi posesif William akan tahu kalau dia tidak sepolos yang William bayangkan.


“Kau mau memberiku kepuasan”, William mulai menyusuri  wajah Ririn dengan tangannya. Ririn mulai terbawa suasana, dia melupakan aktingnya selama ini dan mecium bibir William dengan posesif dan tanpa sadar menunjukkan keahliannya.


William menyambut ciuman itu dengan kasar dan tak kalah posesif, tangannya bahkan dengan lancang mengerayagi tubuh Ririn yang masih terbalut pakaian lengkap. Ririn tidak mau kalah, dia bahkan memegang kejantanan William dan meremasnya.


“Aku juga bisa memberimu kepuasan kalau hanya itu yang kau cari”, bisik Ririn dengan nada sensualnya. Dia menunjukkan dirinya yang sebenarnya hanya dengan sedikit jebakan dari William.


William menghempaskannya dengan kasar saat Ririn mengangkat kaos yang William pakai.


“Pulanglah, jangan pernah datang menemuiku. Kita selesai sampai disini”.


Hari ini adalah pertama kalinya mereka bertemu sejak kejadian itu. William sudah benar-benar melupakan wanita itu, dia bahkan lupa kalau dia pernah mencintainya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2