
Karenina sudah berada di bawah selimut saat ponselnya bergetar pertanda pesan masuk. Dengan malas dia meraba nakas tempatnya terakhir kali menyimpan ponselnya.
‘Kau sudah tidur?’ Karenina membulatkan matanya melihat siapa yang mengirimanya pesan. “Sinting”. Dia menyimpan nomor pensel William dengan nama sinting. Dia menyimpan kembali ponselnya, mengabaikan pesan dari William.
Ponsel itu berdering membuatnya terlonjak karena terkejut, entah kenapa dia sangat terkejut padahalkan dia sudah sering menerima panggilan telepon. Atau mungkin siapa yang menelponnya yang membuatnya terkejut. iKarenina mengabaikannya lagi, dan menonaktifkan ponselnya. dia menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, setelah lelah berguling kiri kanan diapun tertidur dengan damainya.
Keesokan paginya, di depan rumah kontrakan yang tidak juga bisa di bilang sederhana itu sebuah kejadian beberapa hari yang lalu terulang kembali. Kali ini dengan beberpa pemain tambahan. Karenina berdiri lemas melihat pemandangan yang tersaji di depannya.
Yoga sudah berdiri di samping mobilnya untuk menjemput Karenina, dia sudah menjadikannya sebagai rutinitasnya setiap pagi. Di samping mobil Yoga ada mobil kekasih Rara, laki-laki itu juga berdiri di samping mobilnya dengan kerennya. Lalu di belakangnya ada mobil laki-laki yang Merry bilang belum resmi menjadi kekasihnya, dia tidak berdiri di samping mobilnya karena ada jauh di belakang. Dia berdiri di depan pagar tepat di samping sebuah mobil yang paling mahal di antara mobil yang lain.
Ada empat mobil dengan berbagai merk yang sedang menunggu penumapang spesial mereka sedangkan di rumah itu hanya ada tiga penghuninya. Lalu mobil siapakah yang akan pergi tanpa penumpang.
Oke, mari kita lupakan tentang penumpang dan beralih ke suasana di depan rumah kontrakan itu.
Merry dan Karenina saling tatap seolah sedang bertelapati.
“Kamu sudah janji nggak akan bawa Laki-laki brengsek itu ke sini”. Mungkin begitu arti tatapan mata bulat sempurna Merry pada Karenina.
“Aku nggak tahu Mer, kenapa Ryan bisa muncul ada di sini. Eh, laki-laki menyebalkan ini maksudku”. Dan mungkin seperti itulah Karenna menjawab dengan gelengen kepala dan wajah tidak berdosanya.
“Cepat bawa dia pergi dari sini”, Merry melirik mobil mahal itu memberi kode pada Karenina masih lewat telepatinya. Karenina menggeleng lagi.
‘Gila apa aku pergi dengannya, apa nanti kata Yoga kalau aku tidak ikut dengannya. Dia sudah jauh-jauh datang kemari menjemputku’
“Ayo Mer”, laki-laki yang menjemput Merry memegang tangannya dan menariknya lembut. Merry mengikutinya tapi laki-laki yang dia sebut brengsek itu menahan tangannya.
“Mer”, katanya pelan. Mereka saling pandang beberapa detik sebelum Merry menyentak tangannya. Laki-laki yang menjemput Merry mendorong pundak Ryan dengan kasar. Ryan yang tidak terima langsung mengayunkan tangannya yang terkepal tapi tidak sampai mendarat di wajah teman Merry itu karena seseorang memegang tangannya.
“Jangan buat keributan di depan rumah orang lain, Ryan”. Kata seseorang dengan bijak tidak sadar bahwa dialah penyebab dari semua ketegangan di pagi yang cerah ini.
Ryan hanya bisa mengepalkan tangannya ketika Merry sudah berlalu dari pandangannya. Yoga menunduk hormat pada laki-laki yang memegang tangan Ryan tadi.
__ADS_1
“Tuan William”, itu sapa dari Adhit kekasih Rara sambil menundukkan kepalanya sopan. “Kamu kenal?” tanya Rara dengan suara pelannya yang hanya bisa di dengar Adhit. Dia juga sudah masuk ke dalam mobil setelah pamit pada Karenina.
“Dia CEO S&M Company” jawab Adhit. “Boss besar aku”, lanjutnya.
Rara menganggukkan kepalanya. “Dia jemput Nina. Wah, Nina hebat. Sekalinya dapat gandengan langsung yang tajir melintir”. Kata Rara
‘Tapi Merry kenapa tadi ya, dia kayak kesal banget sama Nina. Apa jangan-jangan dia juga naksir sama Bossnya Adhit itu. Pantasan waktu itu dia teriak-teriak sama Nina. Huh, kayaknya akan ada perang di rumah nih sebentar’.
Kembali ke depan rumah kontrakan Karenina.
William menarik tangan Karenina, mereka sudah sangat terlambat karena sedikti drama tadi.
“Will, aku sama Yoga aja”, katanya melepaskan tangan William dan berjalan menuju letak mobil Yoga. William kembali menariknya, kali ini dengan sedikit paksaan.
“Aku akan mengantarnya”, katanya pada Yoga sebelum memasukkan Karenina secara paksa ke dalam mobilnya.
“Maaf Tuan William, sepertinya Karenina tidak ingin ikut bersama anda”, kata Yoga dengan berani menghalangi William yang akan masuk ke dalam mobil. Karenina di dalam mobil melihat aura mencekam yang keluar di sekitar William membuka kaca jendela mobil.
Yoga masuk ke dalam mobilnya begitu mobil yang membawa temannya itu sudah mulai melaju.
“Kamu liatkan tadi, aku bukan larang kamu tanpa alasan”,
“Memangnya ada apa”
“Apaaa, kamu bilang ada apa”, Karenina mendesah pasrah, tidak ada gunanya protes karena William tidak akan perduli.
“Jangan salahkan aku”, Karenina melotot tajam “Ini salahmu yang tidak mau menjawab teleponmu semalam”.
“Apaa, jadi karena aku tidak jawab teleponmu kau membawa Ryan menjemputku dan membuat kekacauan ini”. William hanya mengendikkan bahunya, tidak perduli dengan apa yang terjadi.
“Will, aku kan sudah bilang padamu kalau Merry tidak mau bertemu Ryan, aku juga sudah janji padanya tidak akan membuatnya bertemu Ryan lagi. Kenapa kau melakukan semua ini padaku sih. Rara pasti akan marah, waktu itu saja dia teriak-teriak padaku”.
__ADS_1
“Berani sekali dia teriak padamu”. Ryan yang sedari tadi diam saja padahal dia pemeran utama pagi ini melirik kedua orang yang ada di kursi penumpang.
“Ck, sudahlah. Tidak ada gunanya juga bicara padamu”. Karenina mengalihkan pandangannya pada Ryan. Dia sudah tidak sabar memberondongnya dengan pertanyaan.
“Kenapa Merry bisa semarah itu sama kamu, memangnya apa yang sudah kau lakukan padanya? oke, aku nggak perduli sama hubungan kalian tapi aku mohon jangan datang lagi menjemputku atau lebih tepatnya jangan datang lagi ke rumahku. Aku tidak mau membuat hubunganku dengan temanku jadi tidak baik”
“Kenapa kau memohn padanya Karenina”
“Diamlah Will, aku sedang bicara denga Ryan”.
“Bicara denganku saja”, William mengalihkan pandangan Karenina padanya.
‘Hiks hiks hiksss, aku mau menghilang saja dari dunia ini. Aku benar-benar menyesal sudah menawarkan bantuanku di Bali waktu. apa lagi…. Hiks hikss’
“Ini kan bukan jalan ke Dimension, kau mau membawaku ke mana”
“Ke S&M, kau belum ambil dokumenmu yang kemarin kan”
“Tapi aku harus absen dulu, nanti habis makan siang baru aku ke S&M”. Tidak ada tanda-tanda mobil akan berbelok arah, mobil itu terus melaju menuju salah satu gedung tertinggi di kota itu.
Ryan turun lebih dulu membuka pintu untuk William di sebelah kanan lalu memutari mobil membuka pintu untuk Karenina di sebelah kiri (Asal aja yah kiri kanannya).
Laki-laki itu menunjukkan wajah tenangnya setelah tadi hampir saja dia memukul teman Merry.
“Ryan, kau tidak mau cerita padaku apa yang terjadi denganmu dan Merry. Tenang saja aku bisa menyimpan rahasia kok”.
“Bukannya anda bilang tidak perduli”. Karenina terkekeh “Aku asal ngomong saja tadi” katanya memukul lengan Ryan.
“Karenina” suara teriakan dari dalam gedung bukan saja hanya membuat Karenina berbalik, tapi semua orang yang ada di loby itu juga ikut berbalik mencari sumber suara yang mereka sudah tahu siapa pemilikinya.
“Masuklah Nona, persiapkan diri anda menghadapi fans Tuan William”, Ryan menahan tawanya setengah mati melihat wajah merah Karenina.
__ADS_1
‘William, kenapa kau melakukan ini padaku’.