Takut Menikah

Takut Menikah
William pulang


__ADS_3

Karenina berjalan mendekat, dia menundukkan kepalanya saat bersitatap dengan Mutiara. Dia melihat bergantian kedua temannya, lalu terpaku pada kedua mata Merry seolah bertanya apa yang terjadi tapi Merry malah mengendikkan bahunya dengan cuek.


“A-aku masuk kamar dulu”, katanya. Tapi belum sempat Karenina melangkah Mutiara sudah lebih dulu membuka suara.


“Jadi kamu ngontrak disini”, kata Mutiara tanpa melihat ke arahnya. Merry dan Rara berdiri dan pamit masuk ke kamar mereka masing-masing, kedua teman laknatnya itu juga tidak mau melihatnya yang sedang menjerit memohon agar tidak di tinggalkan bersama Mutiara.


Karenina menarik nafasnya, dia mencoba setenang mungkin menghadapi Mutiara. “Anda ke sini mau ketemu saya?”  kata Karenina balik bertanya.


“Nggak, saya cuma mau lihat kehidupan kamu seperti apa. dan setelah saya melihat saya semakin yakin kalau kamu memang tidak pantas untuk anak saya”.


Karenina menarik nafasnya lagi, Mutiara meliriknya sekilas. Dia tiba-tiba merasa bersalah melihat Karenina dengan wajah lelahnya.


“Saya pergi dulu, tapi kamu jangan senang dulu karena kita pasti akan ketemu lagi”. Mutiara merasa tidak tega meneruskan keisengannya. Dia lalu pergi sebelum mengatakan kata-kata yang sudah dia rancang sejak semalam.


Sepeninggal Mutiara, Karenina merebahkan dirinya ke sofa. Dia seperti sudah tidak punya tenaga bahkan untuk sekedar berjalan ke kamarnya. Karenina memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, lalu dia teringat akan Halim yang mungkin saja akan segera mendatanginya di rumah itu.


“MER, RA” teriak Karenina memanggil kedua temannya. Merry dan Rara yang mendengar Karenina berteriak bergegas menuju sumber suara.


“Kamu kenapa, Nin”, Rara yang duluan sampai di kamar Karenina terkejut melihat Karenina sudah memasukkan baju-bajunya ke dalam koper dengan terburu-buru.


“Jangan di masukin ke hati apa yang tante Mutiara bilang, dia cuma bercanda kok”. Karenina tidak perduli apa yang Rara bilang, dia tidak terlalu fokus. Yang ada di fikirannya sekarang hanyalah bagaimana caranya sembunyi dari Halim, paling tidak sampai malaikat pelindungnya kembali.


“Nina, kamu mau kemana?” giliran Merry yang terkejut melihat ada pakaian Karenina sudah masuk separuh ke dalam koper.


“Aku harus pergi, aku nggak tahu sampai kapan”


“Kenapa? Mau kemana?” Merry menghentikan tangan Karenina yang terus memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.

__ADS_1


“Tante Mutiara nggak seperti apa yang kamu bayangin, dia cuma…”


“Aku nggak perduli sama Nyonya Mutiara, aku punya masalah yang lebih besar dari pada memperdulikan Nyonya Mutiara”. Halim adalah satu-satunya yang Karenina khawatirkan saat ini.


Merry dan Rara saling pandang, mereka sama sekali tidak tahu masalah apa yang sedang teman serumahnya itu hadapi.


“Kamu ada masalah apa, kenapa nggak cerita?” Rara mengangguki ucapan Merry, Karenina termasuk orang yang terbuka, dia sangat jarang menyimpan masalahnya sendiri. Termasuk kemarin saat bertemu Mutiara, dia menceritakan semuanya pada Merry.


Karenina meletakkan baju yang dia pegang, dia menarik nafas sebelum mulai bercerita.


“Mantan pacar aku datang ke Jakarta, dia sudah tahu di mana aku kerja dan sebentar lagi dia pasti akan datang kesini. Aku yakin dia akan melakukan segala cara untuk bawa aku pulang ke Lampung. Aku nggak mau ketemu dia lagi, aku harus pergi dari sini untuk sementara sampai William pulang. Hanya William yang bisa bantu aku hadapi orang itu.”


“Kita juga bisa bantu kamu hadapi dia, kamu nggak perlu pergi”, tegas Merry.


“Iya, Nin. Kita nggak akan biarin siapapun nyakitin kamu apalagi di depan kita”, Sambung Rara. Benarkan, Karenina tidak pernah sendiri, dia di kelilingi orang-orang yang menyayanginya dengan tulus.


“Makasih ya, tapi aku harus tetap pergi. Aku pasti balik lagi kok kalau orang itu sudah kemabli lagi ke Lampung”


“Tapi kamu mau kemana? kamu punya uang?” Karenina diam sejenak.


‘Benar juga, aku mau kemana. Apa aku tinggal di hotel aja pakai kartu yang William kasih ke aku. Tapi kalau Nyonya Mutiara sampai tahu aku pakai uang anaknya dia tambah merendahkan aku nanti’.


“Nina…”


“Hmm”


‘Apa aku tinggal di apartemennya William aja, dia pernah bilang kalau aku boleh datang kapan aja. Dia juga pasti nggak akan marah kalau aku tinggal di sana’.

__ADS_1


“Kamu lagi mikir apa sih, ada aku sama Rara di sini. Kamu bisa bilang apa yang kamu pikirin”


“Aku akan tinggal sementara di apartemenya William, dia juga kan lagi ke luar kota. Jadi tidak ada siapa-siapa di apartemennya”. Hanya tempat itu yang Karenina anggap cukup aman untuk bersembunyi saat ini.


Merry dan Rara mengantar Karenina ke apartemen William, Karenina hanya menyebutkan nama apartemennya dan Merry langsung tahu di mana letak tempat itu.


“Kamu yakin mau tinggal disini?” mereka sudah sampai di depan gedung tinggi itu, mobil Merry tidak bisa masuk ke area parkir yang khusus untuk pemilik unit jadilah mereka lewat pintu utama seperti tamu.


Merry dan Rara meninggalkan Karenina setelah melihat Karenina masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju unit apartemen William.


‘Dasar Halim sialan, aku harus sampai tinggal disini gara-gara dia’. Sumpah serapah tidak berhenti Karenina ucapkan, dia semakin membenci laki-laki yang pernah singgah di hatinya itu.


Karenina juga memaki dirinya sendiri, bagaimana dulu dia tergila-gila pada Halim hanya karena laki-laki itu memiliki wajah yang tampan. Bagaimana dia merasa bangga bisa menjadi kekasih dari laki-laki yang cukup populer di kampusnya waktu itu.


“Dulu kok aku gitu banget, lihat laki-laki cakep sedikit  langsung aja klepek-klepek. Nggak lihat dulu backgroundnya kayak apa. Dasar aku.”


Setelah lelah mengoceh dan memaki, Karenina bergebas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelahnya, dia masuk ke dalam ruang ganti dan melihat baju-baju yang William bilang di sediakan untuk dirinya. Karenina tersenyum melihat baju-baju itu.


“Semoga William tidak akan menjadi seperti Halim”. Karenina tidak memakai baju yang William sediakan untuknya, dia malah memakai kemeja William sebagai baju tidurnya.


“Aku pinjam baju kamu ya, nanti aku cuci kok kalau habis aku pakai”, katanya meminta izin pada baju-bajunya dan bukan langsung pada orangnya. Karenina mencium kemeja William yang masih melekat bau laki-laki itu.


“Aku rindu banget sama William, dia rindu aku nggak yah”. Karenina mematikan lampu utama dan mulai memejamkan matanya. Dia merasa sangat nyama berada di tempat itu.


Saat Karenina tertidur dengan lelapnya, seseorang tiba-tiba membuka pintu kamar. Keningnya mengkerut  mendapati seorang wanita tertidur dengan damai di atas tempat tidurnya. Lalu kedua sudut bibirnya tertarik melihat siapa wanita itu. Ya, William pulang saat waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Dia bermaksud memberi kejutan pada Karenina pagi harinya, tapi malah kekasihnya itu sudah lebih dulu memberinya kejutan yang luar biasa.


Semua rasa lelah yang ada hilang seketika, William naik ke tempat tidur bergabung dengan Karenina di bawah selimut setelah membersihkan dirinya lebih dulu. Dia memeluk Karenina dari belakang lalu ikut terlelap dengan damai.

__ADS_1


__ADS_2