
Hari ini William mengantar Karenina untuk menjenguk Ririn di penjara. Karenina meminta pada William untuk menunggunya di luar dan tidak ikut menemui Ririn.
Ririn datang dengan tangan terborgol bersama seorang polisi wanita yang memegang lengannya. Karenina berdiri dan menyambutnya. Dia merasa miris elihat kondisi Ririn saat ini.
Ririn menunduk malu melihat Karenina, wanita angkug yang arogan itu benar-benar sudah sepenuhnya menyadari kesalahannya.
“Aku tahu kalau sudah sangat terlambat, tapi maaf” ucapan Ririn terjeda, dia menunduk malu menatap Karenina. “Maaf sudah melakukan semua itu sama kamu” katanya melanjutkan ucapannya.
“Kenapa kamu melakukan itu, kamu tahu kalau bukan aku penyebab kamu dan William berpisah. Aku ada jauh setelah kamu dan Wiliiam sudah tidak bersama” kata Karenina.
“Aku tahu, tapi aku bodoh karena berfikir hatinya masih menyimpan tempat untukku” mereka berdua diam. Sekali lagi Karenina mengamati Ririn. Tubuhnya senakin kurus, wajahnya kusam tidak lagi terawat. Sepertinya dia membiarkan dirinya hancur di dalam penjara itu. Lalu mata Karenina tertuju pada pergelangan tangan yang masih di perban.
“Kamu masih punya banyak kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik, kenapa kamu sia-siakan hidup kamu.” Tanpa Karenina duga, Ririn berlutut di depannya dengan memegang kakinya membuat Karenina sontak menjauh karena trauma.
“Aku mohon, bantu aku melepaskan Papa dan Mama. Mereka sama sekali tidak bersalah, jangan hukum mereka, jangan hancurkan perusahaan Papa” kata Ririn memohon.
Karenina yang sudah tidak lagi terkejut mendekati Ririn dan membantu wanita itu berdiri.
“Iya, aku janji akan membantumu. Tapi kalau kau melakukan hal yang sama, aku tidak akan memafkanmu” Ririn mendongak, matanya yang berair menatap Karenina dengan sungguh.
“Benar, Mama dan Papa bisa lepas dari masalahku. Kamu benar-benar mau membantuku?” tanya Ririn tidak percaya.
“Aku akan coba membujuk Ayah dan William” Ririn kembali menunduk, air matanya jatuh membasahi lantai.
“Pantas saja William mencintaimu walaupun kau jauh dari standarnya”
“Apa maksudmu, ake jelek? Aku akui memang aku tidak cantik, tapi aku juga tdak jelek-jelek amat tahu” Karenina tersinggung, dia memanyunkan bibirnya sebagai bentuk protes pada Ririn.
__ADS_1
“Terimakasih, aku benar-benar merasa lebih baik setelah bertemu denganmu,” kata Ririn dengan tulus.
Karenina meninggalkan ruangan itu dengan perassaan lega, pembicaraannya dengan Ririn ternyata tidak semenegangkan dengan apa yang dia bayangkan. Wanita itu terlihat benar-benar sudah menyesali semua perbuatannya. Sekarang Karenina hanya berfikir bagaimana caranya dia bisa membujuk William agar mau membantu Ririn agra wanita itu dan kedua orangtuanya bisa segera di bebaskan dari penjara. Karenina yakin, Ririn benar-benarakan beubah. Kejadian ini akan memberinya pelajaran yang sangat berharga.
William melangkah cepat mendekati Karenina, dia memegang lengannya dan melihat istrinya itu dengan seksama.
“Apa dia menyakitimu?” tanya William dengan serius.
“Tidak mungkin dia berani menyakitiku, di sanakan juga ada petugas yang menjaganya” kata Karenina kesal dengan prasangka William. Bukan tanpa alasan William berprasangka seperti itu, dia sudah melihat seperti apa Ririn saat itu, jadi tentu saja dia takut Ririn kembali melukai istrinya.
Mereka sudah kembali tinggal di apartemen William walaupun Mutiara mati-matian meminta mereka untuk tetap tinggal bersama. William tidak mau Karenina merasa tertekan tinggal bersama Ibunya yang rasa ingin tahunya sangat besar. William ingin memberikan kebebasan penuh pada Karenina untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Itu sebagai balasan karena Karenina sudah rela berhenti bekerja dan hanya tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga.
“Will, malam ini kau mau makan apa? Aku akan memasakkanmu makanan yang enak yang di buat oleh chef Karenina” Karenina dengan manjanya mengelus lembut dada polos suaminya.
“Bagaimana kalau kau menyajikan dirimu saja, aku mau memakan Karenina malam ini,” bukannya kesal, tangan Karenina malah semakin liar menjelajahi tubuh William.
“Itu makanan penutup, aku akan menyajikannya spesial untuk suamiku tersayang”
“Siapa lagi kalau bukan Tuan William Anggoro” William yang gemas dengan Karenina lalu ******* bibir wanita itu. Jadilah William memakan istrinya sebagai makanan pembuka untuk makan malam.
Setelah selesai, seperti biasa William selalu memberi kecupan mesra di kening istrinya.
“Karena kau sudah memberikan makanan pembuka, aku yang akan masak untuk makan malamnya. Kau siap-siap saja untuk makanan penutupnya” kata William lalu berlalu meninggalkan Karenina yang masih tergeletak di atas tempat tidur.
“Lagi...?” Karenina merasa sudah tidak punya tenaga jika William maih ingin melanjutkannya malam nanti.
“Aku sudah tidak kuat, tapi aku juga yang sudah memancingnya. Hiks hiks hikss” Karenina merasa menyesal sudah membangunkan singa William yang tertidur tadi.
__ADS_1
“Harusnya nanti malam saja aku menggodanya” celotehnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
Bukan karena genit Karenina melakukan itu, dia ingin membujuk William agar membantunya melepaskan Ririn dan orang tuanya. Dia sudah berjanji pada Ririn tadi. Karenina tahu tidak akan mudah, tapi dia akan tetap berusaha.
Entahlah, bodoh atau hatinya memang seluas samudra.
William sudah selesai dengan masakannya, dia menyajikannya di atas meja makan dan menarik lembut tangan istrinya lalu mendudukkannya di kursi.
“Bagaimana?” tanya William ketika Karenina memasukkan irisan daging ke dalam mulutnya.
“Enak” jawabnya.
“Hanya enak, tidak ada pujian yang lain?”
“Enak, sangat enak. Dagingnya lembut, saosnya juga pas. Pokoknya sangat enak, masakan restoran saja mungkin kalah dengan masakan suamiku” puji Karenina. Bukan hanya sekedar memuji, tapi masakan William memang sangat enak.
“Ini tidak gratis, kau harus membayarnya”
“Apa, kau memasakkan istrimu sendiri dan meminta di bayar. Aku juga mau bayar pakai apa, uang saja aku minta padamu” Karenina cemberut, tapi dia tetao mengiris daging dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Siapa bilang aku mau di bayar pakai uang?” Karenina mengkerutkan keningnya.
“Lalu kau mau di bayar pakai apa? Daun” Karenina terkikik sendiri, tidak bisa membayangkan dia memetik daun dan memberikannya pada William.
“Sudahlah, aku akan menagihmu nanti malam” William memberi kode padanya. Karenina seketika mengerti apa maksud William.
William sudah menunggu Karenina di atas tempat tidur, wanita itu sudah hampir setengah jam berada di kamar mandi. Dia sangat malas meladeni William malam ini, walau makan banyak tadi, tapi dia seperti sudah tidak punya tenaga melayani William hari ini.
__ADS_1
“Aku capek, apa tidak bisa besok saja. Biarkan aku istirahat dulu malam ini” keluhnya. Karenina lalu keluar dari kamar mandi dengan baju tidur yang sama saja dengan tidak memakai apa-apa.
“Kenapa lama sekali” William menarik Karenina dan mulai mencumbui istrinya. Walaupun mereka melakukannya hampir setiap hari, William merasa tidak ada puasnya menjamah tubuh karenina. Dia sudah kecanduan denga tubuh indah istrinya, dia juga sudah lama menahan dirinya dan sekaranglah saatnya melampiaskan semua apa yang sudah dia tahan selama ini.