
Dengan membawa banyak uang, Ririn berhasil meninggalkan rumahnya. Dia belum puas jika keinginannya belum terwujudkan. Wanita cantik itu terus berjalan dengan membawa ransel penuh uang. Dia berhasil menyewa sebuah penginapan untuk tempatnya beristirahat malam ini. Karena besok dia akan kembali melanjutkan rencana yang sudah dia susun dengan matang.
Pagi sudah kembali datang menyapa. Merry dan Rara sudah bersiap berangkat kerja. Mereka terkejut melihat sarapan sudah tersaji di atas meja.
“Kita sudah seperti tinggal di hotel aja, Mer. Sudah tinggal di tempat di tempat asyik begini, dapat gratis breakfast juga” kata Rara dengan tertawa. Bagaimana tidak, mereka tinggal di apartemen mewah dengan fasilitas kelas satu. Dan juga, sudah ada sarapan saat mereka bangun. Itu tentu bukan layanan dari apartemen, tapi sengaja Karenina buat untuk sarapan teman-temannya.
“Iya, aku aja semalam tidur nyenyak banget” kata Merry yang setuju dengan ucapa Rara.
“Eh, tapi ngomong-ngomong Nina mana?”
“Iya, yah. Nina mana?” Merry dan Rara lalu bangkit dari duduk manis mereka di meja makan, mereka mencari Karenina di kamarnya tapi tidak menemukan di mana gadis itu berada. Kedua wanita itu lalu saling pandang kemudian tersenyum ketika menyadari pikiran mereka sama tentang keberadaan Karenina.
“Kau bangun jam berapa menyiapkan ini semua?” tanya William melihat sarapan yang Karenina buat untuknya. Bukan hanya untuk William sih, tapi juga untuk Rara dan Merry, maklum Karenina kan sekarang pengangguran. Jadi dia punya banyak waktu untuk melakukan apapun yang dia mau.
“Kau tidak siap-siap ke kantor, ini sudah hampir jam tujuh. Nanti kau terlambat” tanya William lagi.
Karenina tidak menggubris celoteh William, dia hanya fokus memasangkan dasi William. Selesai, dasi biru bergaris putih itu sangat cocok dengan setelan jas yang William kenakan.
‘Ganteng banget sih calon suamiku, dan aku yang memiliki wajah itu. Bukan hanya wajahnya, tapi juga seluruh hatinya’
William hanya geleng-geleng kepala melihat Karenina yang senyum-senyum sambil melihatnya.
“Nina...”
“ya...”
“Kau tidak ke kantor?” William mengulang pertanyaannya.
Karenina mengalungkan lengannya di leher William, laki-laki itu sudah duduk di kursi dan siao untuk menikmati sarapan yang di buatkan calon istrinya. Karenina lalu mencium pipi William dengan lembut membuat William serasa membeku. Di berbalik melihat Karenina, mata mereka bertemu. Karenina tersenyum dan memberi kecupan lembut di bibir William.
__ADS_1
“Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diriku kemarin” ucapan Karenina membuat William menaikkan sebelah alisnya. dia cukup terkejut mendengarnya. Yang dia tahu, Karenina sangat mencintai pekerjaannya. Lalu kenapa wanita itu tiba-tiba berhenti bekerja.
Tapi sepertinya William tidak butuh jawaban dari pertanyaan yang ada di kepalanya, dia menarik Karenina sehingga wanita itu jatuh terduduk di pangkuan William, William mengusap lembut kepalanya. Wajah tampannya di hiasi senyum membuat hati Karenina serasa ingin meledak melihatnya.
‘Aduh, aku tidak tahan kalau begini. Sudahlah, Will. Jangan tersenyum seperti itu, mataku tidak kuat melihatnya’
“Will...”
“Heemm”
“Jangan tersenyum seperti ini kepada perempuan lain, yah. Nanti kau akan membuatnya jatuh cinta, dan dia akan mengejarmu sampai kau juga jatuh cinta padanya”
William melebarkan senyumnya, lalu wajahnya berubah serius saat dia menyatukan bibirnya dengan bibir manis Karenina.
Pagi itu William bukan hanya sarapan makanan yang di buatkn oleh calon istrinya, tapi juga sarapan dengan bibir manis Karenina.
Saat mengantar William keluar, mereka bertemu Rara dan Merry yang juga akan berangkat kerja. William hanya menyapa teman Karenina itu dengan tersenyum seadanya. Karenina tidak hanya mengantar William sampai di lift, tapi mengantar Merry dan Rara sampai di loby apartemen.
Saat Rara dan Merry sudah menghilang dari balik pintu kaca yang besar, Ririn yang sedang duduk di loby mengikuti Karenina. Dia berdandan sangat cantik bak model papan atas hingga tidak ada seorangpun yang menaruh curiga padanya. Apa lagi dia mengatakan kepada petugas keamanan apartemen bahwa dia sudah memliki janji dengan salah satu penghuni apartemen ini.
Karenina dan Ririn berada di dalam lift yang sama. Karenina sama sekali tidak curiga dengan wanita cantik yang berdiri di belakangnya. Dia bahkan tidak mengenali wajah Ririn dengan baik karena wanita itu memakai riasa yang sangat tebal.
‘Wanita kampungan, kau akan menjadi alasan Willian untuk hidup menderita sepanjang hidupnya. Dia akan hancur dan seperti aku’
Ririn tiba-tiba mendorong Karenina masuk saat wanita itu sudah berdiri di depan pintu apartemen William. Karenina jatuh tersungkur sedangkan Ririn menutup pintu dengan kakinya.
“Siapa kau...” Karenina mulai ketakutan, dai teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu saat dia di culik.
Karenina lalu membulatkan matanya saat dia sudah mengenali wanita di depannya itu. “Kau ceroboh sekali, Karenina”
__ADS_1
“Kau mau apa?” Karenina berdiri, dengan berani dia menantang Ririn.
“Kau beruntung William cepat menemukanmu waktu itu. Ck, harusnya sekarang William sudah menangisimu di pemakaman”
“Jadi kau yang menculikku” tebak Karenina. Ririn hanya tersenyum dan terus melangkah mendekati Karenina perlahan.
“Terus kau mau apa sekarang?”
Ririn tertawa dengan nyaring, wanita itu seperti sudah kehilangan akal sehatnya karena cinta yang tidak lagi di anggap. Tapi sayang, Karenina sama sekali tidak gentar melihat Ririn. Dia bukan wanita cengeng yang penakut seperti dugaan Ririn.
Tapi nyali Karenina menciut saat dia melihat Ririn mengeluarkan sebilah pisa* dari dalam tasnya. Karenina segera mundur ketika Ririn terus melangkah mendekatinya.
“Aku akan pastikan William akan menangisimu di pemakaman kali ini”
“Kau sudah gila, yah. Kau mau membunuhku” teriak Karenina.
“Iya, aku memang mau kau mati agar William sengsara. Aku mau melihatnya hancur seperti aku”
“Sinting” teriak Karenina lagi. Karenina mengambil ponselnya dan menekan tombol satu untuk panggilang cepat pada nomor William. Karenina berhasil menekan tombol itu sebelum Ririn menyerangnya.
Karenina menghidar, dia berlari dengan cepat masuk ke kamar tapi Ririn lebih cepat sehinnga dia berhasil menahan pintu sebelum Karenina menutupnya.
“Jangan persulit aku, wanita kampungan. Atau aku akan mencabik-cabik tubuhmu hingga kau berteriak momohon untuk segera mati” seru Ririn sambil mendorong pintu kamar. Dia berhasil masuk dan Karenina jatuh tersungkur di lantai.
Ririn mengarahkan pisa*nya tepat di atas dada Karenina tapi Karenina berhasil menghindar dan mendorong Ririn hingga pisa*nya jatuh dan terlempar entah ke mana. Ririn yang sudah kemasukan setan mencekik Karenina dan membenturkan kepalanya ke tembok berkali-kali. Karenina yang sudah hampir kehabisan nafas menjabak rambut Ririn hingga wanita itu melepaskan satu tangannya untuk melepaskan tangan Karenina dari rambutnya.
Kesempatan itu membuat Karenina berhasil melepaskan tangan Ririn yang satu dari lehernya. Dia mendorong Ririn hingga wanita itu terlempar. Karenna ssegera berlari keluar, tapi Ririn bangun mengejarnya dengan cepat.
Ririn kembali berhasil mencekik Karenina, dan kali ini Karenina sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melepaskan tangan Ririn yang mencekik lehernya. Tubuhnya sudah sangat lemah, belum lagi kepalanya yang sudah mengeluarkah darah akibat benturan dari Ririn.
__ADS_1
Saat Karenina sudah hampir menyerah, pintu apartemen terbuka, William dan beberapa polisi masuk dan segera menolong Karenina.