
William menghentikan langkahnya saat ia baru saja memasuki gedung perusahaannya sekembalinya dari makan siang. Dia masih mempertahankan wajah datarnya saat seorang wanita mendekatinya.
“Kita harus bicara Will”, kata wanita itu yang tidak lain adalah mantan kekasihnya, Ririn. Farel yang bersamanya memicingkan mata melihat wanita yang pernah menjadi yang spesial untuk sepupunya itu.
“Aku akan kembali nanti”, bisiknya “Ah, jangan lupa untuk transfer gajiku selama menjadi supir untuk pacarmu”, kali ini dia tidak berbisik, malah dengan sengaja membesarkan suaranya. Ririn seperti terkejut mendengan William mempunyai seorang kekasih.
“Apa yang mau kau katakan?” katanya dengan tegas tanpa melepaskan kaca mata hitam yang masih bertengger di pangkal hidungnya.
“Tidak disini, Will”, Ririn melihat keadaan sekitarnya yang terlihat ramai karyawan lalu lalang. Ada yang keluar karena memiliki urusan di luar kantor, atau ada juga yang baru masuk sehabis makan siang. Dan tidak sedikit yang memperhatikan mereka walaupun hanya curi-curi pandang.
“Baiklah, kita duduk di sofa”
“Will”
“Aku sudah bilang padamu jangan pernah datang lagi menemuiku, kau tidak mengerti juga. Sekarang pergilah sebelum aku meminta penjaga keamanan yang membawamu pergi” William tidak teriak-teriak mengatakannya. Dia mengatakannya dengan suara yang pelan tapi tetap saja menakutkan.
“Katakan padaku apa salahku, agar aku bisa memperbaikinya, Will. Kau meninggalkanku bertahun-tahun yang lalu tanpa memberi kesempatan padaku untuk memperbaiki kesalahanku yang tidak kuketahui apa itu” mengabaikan rasa malunya, Ririn mengatakan apa yang ingin dia katakan walaupun hanya dia dan William saja yang mendengarnya.
“Iya, Tuan” William memanggil reseptionis dengan jentikan tangannya. “Panggil penjaga keamanan untuk membawa wanita ini keluar dan masukkan dalam daftar hitam orang yang tidak boleh menginjakkan kakinya di perusahaan ini”.
Ririn terperanjak di tempatnya, William sangat keterlaluan padanya. Dia lalu pergi sebelum penjaga keamanan datang membawanya pergi dengan paksa.
Dia menyesal, dia sangat menyesal sudah mengkhianati cinta tulus William padanya. Hanya karena tidak bisa mengendalikan naf*sunya, dia kehilangan orang yang tulus mencintainya. Ririn yakin William sudah tahu semua tentangnya lima tahun lalu. Dia masih sangat muda waktu itu, masih sangat mudah untuk terpangaruh dengan pergaulan di sekitarnya. Apalagi dia berteman dengan orang-orang broken home dengan sebabnya masing-masing, orang-orang yang hanya mencari kehangatan yang tidak mereka dapatkan di rumah.
Dia juga butuh kehangatan tapi William tidak pernah memberikannya. William sangat menghormati dirinya dan keluarga mereka juga saling mengenal, lalu saat ada orang lain yang menawarinya kehangatan dan kenikmatan dunia tanpa berpikir dia menerimanya dan menjadikannya sebagai candu.
“Aku menyesal Will, aku menyesal. Mafkan aku” katanya dengan lirih. Dia mengahpus air mata yang jatuh tanpa dia sadari lalu mulai melajukan mobilnya kembali ke rumahnya. Hanya Ayahnya yang mungkin bisa membuat William kembali padanya.
Karenina tidak lagi keberatan dengan William yang mengantar atau menjemputnya seperti hari ini, Karenina sudah menunggunya hampir satu jam tapi tidak ada tanda-tanda William akan datang. Kantor sudah sepi, semua orang sudah pulang sejak tadi. Karenina sudah menghubungi ponsel William tapi tidak ada jawaban walaupun tersambung.
Dengan tidak sabaran Karenina berjalan keluar dari area gedung Dimension, lebih baik menunggu di pinggir jalan raya yang ramai lalu lintas. Baru saja Karenina sampai di depan, mobil William sudah terlihat dari kejauhan.
“Maaf, pertemuannya lebih lama dari yang ku kira ternyata” Karenina menampakkan wajah kesalnya, dan William hanya terkekeh lalu mencubit pipinya karena gemas.
“Kenapa tidak jawab teleponku”
“Aku lupa di atas mejaku, maafkan aku”
“sudahlah, sekarang kau sudah ada disini”. Tidak seperti biasanya Karenina yang banyak bicara dan protes.
“Langsung pulang saja ya”, kata Karenina, dia sangat lelah hari ini. Dan besok dia harus ke lokasi proyek yang letaknya cukup jauh. Dia ingin istirahat untuk mempersiapkan hari esok.
“Kita makan dulu” kata William, Karenina menggeleng secepat kilat.
__ADS_1
“Aku pulang saja, aku capek banget hari ini. Lagian kau pasti kan juga sudah makan di pertemuanmu tadi”
“Aku sengaja ngga makan biar bisa makan sama kamu”. Seperti ada sesuatu yang menyusupi hatinya, dia terharu mendengarnya.
‘Nina, kenapa kamu jadi lebai sih’
“Ya sudah kita makan dulu kalau kamu memang belum makan”, senyum kemenangan terbit di bibir William. Secepat kilat dia melajukan mobilnya mencari restoran yang dekat dari tempatnya sekarang.
“Mau makan apa?” Karenina menggeleng “Aku masih kenyang” William berdecak, di pesankan pasta untuk Karenina.
“Will, aku selalu lupa mau tanya sama kamu?” ada yang mengganjal di hatinya, tapi dia selalu lupa bertanya pada William
“Waktu itu aku lihat kamu sama perempuan, cantik banget lagi. Dia siapa?” William memicingkan matanya dengan kening yang berkerut.
“Siapa, dimana kau melihatku?”
“Di kantormu, waktu aku membawa dokumen untuk kau tandatangani”, William terlihat berfikir.
“Oh, dia mantan pacarku”, jawabnya dengan jujur ketika sudah mengingat wanita yang di maksud Karenina.
“Mau apa dia menemuimu” tanyanya penasaran, bukan sekedar penasaran tapi dia benar-benar ingin tahu.
“Dia ingin kembali padaku”, lagi, William menjawabnya jujur lagi kali ini.
“Lalu?”
“Lalu kau menerimanya?”
“Jangan bicara omong kosong, aku tidak mau menerima barang bekas”. Karenina seperti tersedak ludahnya sendiri. Bukankah dia juga…
“Will, aku juga bekasmu kan”
“Apa maksudmu?”
“Kau juga pernah meniduriku kan, berarti aku bekasmu juga” katanya sangat pelan. William mengerti maksud Karenina, dia menggenggam tangan wanita itu.
“Jangan bilang seperti itu, kau sangat berbeda dengannya. Dengarkan aku Karenina, jangan pernah merendahkan dirimu di depanku karena aku tidak pernah memandangmu rendah. Bagiku kau wanita yang sangat berharga, kau istimewa” Karenina mendongakkan kepalanya, dia menatap kedua bola mata William tapi dia tidak bisa menebak apakah itu jujur atau hanya sebuah gombalan dia benar-benar buta dalam hal itu.
“Tapi dia sangat cantik”
“Aku sudah bilangkan aku mengubah seleraku, sekarang hanya kau yang menjadi seleraku. Aku tidak butuh wanita cantik lagi sekarang”. Karenina akhirnya tersenyum, walaupun dia tidak bisa membaca mata William tapi ucapannya terdengar tidak di buat-buat.
William mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, dia memang mengajak Karenina makan malam untuk memberikan benda itu padanya.
__ADS_1
“Pakailah”, William menyodorkan sebuah kartu kredit tanpa batas padanya.
“Kenapa, kenapa memberiku kartu kredit?”
“Pakailah untuk semua keperluanmu, kau bisa menabung gajimu untukmu sendiri”
“Maksudmu?”
“Kau bisa menyimpan semua uangmu untuk mu sendiri, dan kau pakai kartu itu untuk semua keperluanmu”.
Karenina sering melihat Merry menggunakan kartu pacarya untuk berbelanja, dia pernah berfikir untuk mencari pacar agar ada yang bisa memberikan kartu ajaibnya padanya dan dia bisa berbelanja sepuasnya. Tapi saat ada yang memberikan kartu ajaib padanya, kenapa rasanya jadi tidak nyaman.
“A-akuu, aku tidak mau”
“Aku mohon”
‘Dia memohon, dia yang ingin memberi dan dia yang memohon. Will kau mau apa sebenarnya’
“Pakailah, emmm”. Karenina menghela nafas dan akhirnya menerima kartu yang William berikan.
“Apa aku juga bisa mengambil uang tunai dari kartu ini”
“Kau butuh uang”, William meraba kantongnya “Sial, aku lupa ponselku. Kau butuh uang berapa, aku akan transfer besok pagi ke rekeningmu”, Karenina diam melongo, tidak menyangka William seserius itu menanggapi candaannya.
“Aku hanya bercanda, Will” katanya. “Lalu apa ada limitnya?” katanya lagi sudah memegang kartu itu.
“Kartu itu tanpa batas”
“Aku tahu maksudku, limit yang ku pakai”
“Kau bisa memakai sesukamu”
“Benarkah, apa aku juga bisa membeli apartemen dan mobil”
“Kau mau, aku akan suruh Ryan mengurusnya kalau kau mau”. Karenina tertawa, akhirnya dia bisa tertawa setelah pembicaraannya semalam dengan Merry.
“Aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali”
“Tapi aku tidak bercanda, aku akan suruh Ryan mencarikan apartemen untukmu. Atau kau mau tinggal di apartemenku, maksudku di lantai yang berbeda”.
“Aku akan melarikan diri darimu kalau kau melakukan hal yang di luar batas, Will”
“Kau fikir bisa lari dariku”
__ADS_1
“Tentu saja”
“Kau belum mengenal William Anggoro rupanya. Sudahlah, habisakn makananmu dan kita pulang” Karenina sedari tadi hanya memainkan pastanya, entah kenapa dia ketularan William tidak suka makanan dingin.