Takut Menikah

Takut Menikah
William sakit


__ADS_3

Pak Luis mengatakan bahwa Tuan William tidak bisa di hubungi, sekertarisnya mengatakan kalau sejak pagi Tuan William tidak ada kabar sama sekali. Ryan yang sedang menggantikannya mengikuti rapat  menghubungi Karenina untuk meminta bantuannya.


“Nona, tolong ke apartemen Tuan William dan lihat dia. Tadi pagi saat saya menjemputnya dia sedang demam, saya tidak bisa menemaninya karena ada rapat penting”, kata Ryan dari ujung telepon.


“Kenapa tidak kau hubungi orang tuanya” balas Karenina “Aku juga sedang sibuk”. Lanjutnya lagi.


“Kalau Tuan William tahu saya menghubungi orang tuanya, saya bisa tinggal nama, Nona” terdengar helaan nafas dari Karenina. “Baiklah” jawabnya lalu.


Saat makan siang, Karenina meninggalkan pekerjaannya, dia sudah meminta izin pada Rendra. Tentu mengatakan kalau dia yang sedang tidak enak badan. Mana mungkin dia mau bilang kalau ingin melihat William yang katanya sedang sakit.


Karenina sampai di depan unit apartemen William, di lalu menekan angka-angka yang sudah di beritahu Ryan sebelumnya.


‘Jangan salahkan aku ya masuk tanpa ijin, salahkan saja asistenmu itu’.


Karenina membuka pintu kamar William, dia mendapatinya tertidur di bawah selimut. Karenina meletakkkan punggung tangannya di kening William, lalu matanya membulat dengan sempurna.


“Gila, kau seperti terbakar”, Karenina mengambil baskom kecil dan mengisinya dengan air dingin, dia mengambil handuk kecil di kamar mandi dan mulai mengonpres William. Dia berlari keluar apartemen mencari apotik tapi tidak ada, lalu akhirnya ke supermaket dan mencari obat apa saja yang bisa untuk menurunkan demam.


Setelah meminumkan obat pada William, Karenina mengganti air di baskon dengan yang baru, dia kembali meletakkan kain basah itu di kening William.


“Kau bisa sakit juga ya, aku fikir kau itu dewa ternyata kau manusia biasa juga”, Karenina terkekeh sendiri dengan ucapannya. Dia sudah lega karena demam William sudah mulai turun.


“Kau pasti belum makan, aku masak bubur untuk mu dulu yah”, katanya yang tidak mungkin mendapat respon dari William yang entah tidur atau pingsan. Karenina meninggalkan William dengan handuk basah yang masih menempel di kening laki-laki itu.


Karenina sebelumnya tidak pernah menggunakan peralatan yang ada di kitchen set di dapur itu, tapi dia dengan cepat mempelajarinya. Dia mulai memasak untuk William kalau laki-laki itu bangun nanti. Dia juga memasak untuk dirinya sendiri, memakai bahan-bahan yang ada di kulkas William tanpa meminta izin lebih dulu pada yang punya.


“Nanti William ngamuk kalau lihat dapurnya seperti habis kena badai”, Karenina geleng-geleng kepala melihat dapur William yang berantakan, padahal yang dia masak hanya bubur dan ayam goreng yang dia tumis dengan kentang dan wortel. Dia lalu mulai mencuci peralatan yang dia pakai, membersihkan sampah yang berserakan dan menyapu juga mengepel lantai yang kotor bekas percikan minyak.


Setelah dapur itu kembali bersih, dia lalu kembali ke dalam kamar dan melihat keadaan William. Laki-laki itu masih tidur, Karenina mengambil kain basah di keningnya, merendamya kembali ke dalam baskon lalu menempelkannya lagi setelah memerasnya.

__ADS_1


Karenina manarik kursi dan duduk di samping tempat tidur William, dia memandangi wajah yang sedang tertidur itu, tangannya terulur menyusuri setiap inci wajah putih bersih itu.


‘Sakitpun dia masih kelihatan tampan’.


Cahaya matahari di luar sana sudah mulai meredup, awan  keemasan menghiasi langit senja. Pemandangan yang sangit cantik di nikmati dari jendela apartemen itu. William perlahan membuka matanya, dia meraba keningnya yang terasa basah. Dia mengambil kain itu, lalu melihat ke sampingnya. Karenina tertidur dengan kepalanya tepat di samping William.


Ada rasa hangat menelusup ke dalam hatinya melihat Karenina tertidur di sampingnya, dia yakin Karenina yang sudah menempelkan kain basah itu di keningnya. Dia bangun lalu mengangkat Karenina bermaksud memindahkannya di tempat tidur, tapi wanita itu terlonjak saat merasa ada tangan yang memeluknya.


“Will, kau sudah bangun?” tanyanya mengucek matanya.


“Kau ketiduran saat merawat orang sakit, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganku saat kau tidur tadi”. Sepertinya laki-laki itu sudah kembali mendapatkan energinya, dia menarik sudut bibirnya saat melihat wajah bersalah Karenina.


“Maaf”, ucap Karenina merasa bersalah. William terkekeh dan membelai rambutnya.


“Bagaimana kau bisa ada disini?”


“Kenapa, kau boleh datang kapanpun kemari” Karenina berdecak “Siapa yang mau datang kemari”.


“Aku tidak tahu mau menghubungi siapa tadi, kau demam tinggi dan aku sangat panik. Aku mau menghubungi orang tuamu tapi aku tidak punya nomor telepon mereka, aku mau pangggl dokter tapi tidak ada dokter yang aku tahu, jadi aku ke luar cari apotik… hehee” dia tergelak sebelum melanjutkan ceritanya.


“Tapi aku juga tidak melihat ada apotik di sekitar sini, jadi aku beli obat asal saja yang penting bisa menurunkan demam”, katanya melanjutkan tawanya, William ikut tertawa dengannya, bukan karena mendengar ceritanya tapi karena mendengar tawanya.


“Kotak obat ada di dalam situ”, kata William menunjuk laci nakas dengan matanya. Karenina mengendikkan bahunya cuek.


“Aku juga masak untukmu”


“Benarkah”, William lagi-lagi merasa ada kehangatan yang menjalar di dalam hatinya. “Kau makan dulu, terus minum obat lagi”. Karenina bangun dari duduknya menuju dapur. Dia menghangatkan bubur yang tadi dia masak. Dia ingat kalau William tidak suka makanan yang sudah dingin.


“Ini”, Karenina menyodorkan mangkok yang sudah dia lapisi piring di bawahnya. William melihat mangkok itu lalu melihat Karenina.

__ADS_1


“Suapi aku”, katanya dengan manja. Karenina mencibir lalu kembali duduk di tempatnya tadi dan mulai menyuapi William. Kening William mengkerut saat sendok berisi bubur masuk ke dalam mulutnya.


“Apa ini yang kau masak” katanya dengan wajahnya yang menunjukkan kalau dia tidak suka bubur itu.


“Bubur”, jawab Karenina.


“Kau tidak menambahkan kaldu”, dia memegang mangkuk melihat isinya “Tidak ada irisan daging atau daun seledri, kau bisa masak atau tidak” katanya dengan kesal, tidak tahu diri.


“Ini bubur biasa, jangan lihat rasanya. Aku membuatnya dengan tulus dan penuh cinta, kalau kau tidak mau makan aku akan membuangnya dan membuat yang baru”, mendengar Karenina mengatakan kata-kata romantis, William mengambil mangkok itu dia melupakan rasa hambarnya dan mulai memakan buburnya dengan lahap.


Karenina membulatkan matanya, dia tidak percaya William akan menghabiskan buburnya setelah mencelanya tadi. Dia mengambil mangkok kosong dari tangan William dan memberinya air putih yang sudah dia siapkan.


“Aku simpan ini dulu ya” katanya. Setelah menyimpan mangkok kosong di wastafel, Karenina kembali ke kamar William tapi dia sudah tidak menemukan laki-laki itu di atas tempat tidur. Karenina lalu kembali ke dapur dan makan makanan yang dia masak tadi, dia memang belum makan sejak siang tadi.


Setelah makan, karenina mencuci piring kotornya dan William lalu kembali ke kamar William melihat keadaan laki-laki itu. William sudah keluar dari ruang gantinya, dia terlihat lebih segar.


“Kau sudah baik-baik sajakan” Karenina meletakkan punggung tangannya di kening William, masih hangat rupanya.


“Sudah minum obat?” tanyanya lagi, William menggeleng, “Aku buka ini ya”, Karenina membuka laci nakas setelah William mengangguk. Dia mengambil kotak obat dan mencari obat demam di dalamnya. William mengambil obat dari tangan Karenina lalu meminumnya.


“Kau tidak gerah dengan pakaianmu?” Karenina melihat dirinya, dia memang masih memakai baju kantornya.


“Kalau kamu sudah baikan, aku mau pulang”, katanya. William memegangi kepalanya, dia berbaring dan menarik selimutnya sampai dada.


“Aku merasa sedikit pusing, demamku juga mungkin naik lagi nanti malam. apa kau tega meningalkanku sendirian”. Karenina diam sejenak, dia lalu menghela nafas dan duduk di samping William.


“Telepon Tuan Sebastian dan Nyonya Mutiara saja, atau adikmu yang tempo hari jalan denganmu”, katanya dengan lembut mencoba membujuk William. Laki-laki itu menggeleng, dia menggenggam tangan Karenina.


“Aku hanya mau ditemani olehmu”, katanya (Modus). Karenia yang polos dan bodoh itu lalu menyetujuinya setelah melakukan penawaran yang membuat William tidak bisa menolak.

__ADS_1


__ADS_2