Takut Menikah

Takut Menikah
Ryan dan Merry


__ADS_3

Mereka akhirnya pulang dengan Ryan sebagai supir, setelah sering keluar masuk S&M Karenina baru tahu kalau Ryan itu asisten dan bukan supir.


“Turunkan sebelum rumah ya, ini jam pulang teman-temanku” kata Karenina memberi tahu Ryan.


“Memangnya kenapa kalau teman-temanmu melihat aku mengantarmu”


“Mereka sangat kepo, aku malas meladeni pertanyaan mereka” bisa di bayangkan bagaimana hebohnya Rara dan Merry jika melihat ada seorang pangeran tampan yang mengantar teman jomblonya.  


“Kau jawab saja kau di antar kekasihmu, apa susahnya”, enteng sekali William mengatakannya, dia tidak tahu saja bagaimana Merry dan Rara akan memberondong Karenina dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus memuaskan kekepoan mereka. Dan juga mereka belum resmi menjadi sepasang kekasih karena Karneina masih tidak mau menjadi kekasihnya.


“Jangan bicara sembarangan, aku kan bukan kekasihmu”, pandangan Karenina bertemu dengan pandangan Ryan saat laki-laki itu meliriknya lewat kaca spion.


‘Jangan melihatku seperti itu, aku tahu aku bukan seleranya. Aku juga tahu diri kali’.


Karenina sok bisa menebak apa yang di fikirkan Ryan saat pandangan mereka bertemu lewat kaca spion, dia mengira Ryan sedang menilai dirinya padahal Ryan hanya tidak sengaja melirik ke arahnya. Ryan sudah tahu kalau Karenina orang yang spesial untuk William sejak hari di mana dia dan William bertemu lagi setelah liburan itu.


Mobil benar-benar berhenti di depan rumah kontrakannya. “Will, kau benar-benar yah. Aku tidak mau lagi ikut pulang denganmu”. Ryan keluar dari mobil membuka pintu untuk Karenina, wanita itu belum keluar bukan karena menunggu di bukakan pintu tapi dia sedang menunjukkan kekesalannya pada William walaupun laki-lak itu tampak tidak perduli.


“Kau tidak mau memberiku ucapan terima kasih karena sudah mengantar sampai depan rumahmu”, seandainya bisa di lihat dengan mata, mungkin akan terlihat gumpalan asap keluar dari kelapa Karenina. Wanita itu keluar dari mobil yang sudah terbuka. Ryan menunduk sopan padanya tapi dia hanya mendesis saat melewatinya.


‘Ini lagi, kenapa kau ikut-ikutan Tuanmu. Aku bukan kekasihnya, jangan terlalu formal padaku’.


Bersamaan Karenina yang keluar dari mobil, ada mobil lain yang berhenti tepat di sampingnya. Karenina tidak mengenali mobil itu karena baru hari ini dia melihatnya.


Merry, itu Merry yang juga pulang di antar kekasih barunya mungkin. Wajah Karenina sudah panik, dia memberi kode pada Ryan agar cepat meninggalkan tempat itu tapi Ryan seperti membeku di tempatnya setelah melihat wanita yang keluar dari mobil itu.


“Merry…” katanya meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sedang tidak salah lihat. “Benar, kau Merry”, Ryan berjalan mendekatinya  tapi Merry malah menghidarinya. Laki-laki yang mengantar  Merry keluar dari mobilnya saat melihat wanita yang sedang dia taksir terlihat tidak nyaman.


“Mer, kau tidak apa-apa. Kau kenal dia?” tanyanya beruntun. Karenina yang tadinya mau menghindar malah mendekat dan merangkul pundak sahabatnya itu.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Karenina pelan saat melihat seolah ada api yang membara di mata Merry.


“Ada apa Ryan, kenapa kau belum masuk juga”, melihat Ryan yang belum juga kembali masuk kedalam mobil membuat William keluar dari mobil dan seketika semua mata tertuju padanya. Karenina sudah membuang nafasnya kesal melihatnya ikut keluar dan bersuara.

__ADS_1


‘Suasana macam apa sih ini, kalau ada Rara maka lengkaplah sudah’.


“Masuk yuk ,Nin”, ajak Merry menarik tangan Karenina, tapi belum juga mereka sempat membuka pagar Ryan menahan Merry dengan memegang lengannya, ketika Merry berbalik dan melihat Ryan yang memegang lengannya, dia menyentak tangan itu dengan kasar.


“Mer, aku mencarimu kemana-mana, aku sangat merindukanmu”, Merry tidak bicara apapun, dia hanya memberi tatapan tajam penuh kebencian.


“Jangan mengganggunya, dia sepertinya tidak mengenalmu”, laki-laki yang mengantar Merry maju dan menahan pundak Ryan ketika dia akan kembali menahan Merry. Karenina yang sudah membuka pagar menarik tangan Merry  dan kedua wanita itu hilang di balik pintu kayu.


“Ryan, masuklah”, Ryan masih membeku memandangi pintu yang tertutup rapat. Dia menunduk, memejamkan mata dan menarik nafas dalam. Setelah merasa lebih baik dia berjalan kembali menuju mobil, William berdiri di samping mobilnya dengan berkacak pinggang. Dia ingin marah tapi melihat wajah sayu Ryan membuatnya menahan kekesalannya.


“Sebaiknya kau jangan menganggunya, aku tidak akan tinggal diam jika melihatmu mendekatinya”, laki-laki yang tadi mengantar Merry memberinya peringatan sebelum laki-laki itu kembali melajukan mobilnya. Ryan kembali duduk di belakang kemudi dan membawa mobil beserta penumpangnya meninggalkan tempat itu.


Hanya ada hening di dalam mobil, William tidak bertanya apapun karena dia memang tidak perduli. Sementara Ryan, walaupun tatapannya lurus ke depan tapi fikirannya tentu ada di tempat lain. Pikirannya tertuju pada wanita yang dia temui tadi, wanita yang sangat dia rindukan selama ini.


Karenina menyimpan tasnya di sofa lalu menuju dapur mengambil segelas air dingin untuk Merry.


“Minum dulu, Mer”, Merry mengambil gelas dari tangan Karenina dan menghabiskan air dingin di gelas itu. Karenina baru sekali ini melihat Rara seperti itu, tidak ada senyum yang terukir di wajahnya seperti biasa yang hanya ada wajah yang menahan amarah yang membara.


“Kamu sudah merasa mendingan”, bertanya lagi melihat  Merry yang sudah bisa mengendalikan dirinya. Wanita itu mengangguk dan menyimpan gelas kosong di atas meja.


“Ryan”, kata Karenina memperjelas maksud Merry.


“Jangan sebut namanya”, Karenina sontak menutup mulutnya.


‘Sepertinya pernah ada pertikaian hebat di antara mereka’.


“Dia asisten CEO di S&M”, jawab Karenina.


“Apa, jadi sekarang dia sudah menjadi asisten CEO?” pekik Merry, dia terlihat kembali kepanasan dan mengambil gelas yang tadi dia letakkan, tapi dia menyimpan gelas itu kembali saat menyadari kalau gelas itu sudah kosong. Karenina mengambil gelas itu dan masuk ke dapur mengambil segelas air dingin lagi untuk Merry.


“Kamu pulang di antar dia? Ada hubungan apa kamu sama dia?” Merry menyusulnya ke dapur, tatapannya terlihat sangat mengintimidasi Karenina.


‘Ihh, Merry kenapa sih. Dia tidak berfikir kalau aku ada hubungan dengn Ryan kan. Rara mana lagi’

__ADS_1


“A-aku nggak ada hubungan apa-apa kok sama Ryan”


“Jangan sebut namanya, aku kan sudah bilang jangan sebut namanya”


“I-iya, iya. Aku tidak akan menyebut namanya lagi” Karenina takut mendengar Merry berteriak.


“Ada apa sih, kenapa kamu teriak-teriak sama Nina”, Rara datang sudah seperti penyelamat untuk Karenina.


“Raraaa”. Karenina berlari ke arah Rara dan berdiri di belakang wanita itu.


“Aku nggak perduli apapun hubungan kamu dengan laki-laki brengsek itu, tapi jangan pernah membawanya kemari. Aku tidak mau melihatnya”.


“Mer, kamu salah faham. Aku tidak ada hubungan apa-apa sama Ry…” Merry melototinya dengan tajam saat dia akan kembali menyebut nama itu.


“Maksud aku laki-laki itu”, katanya dari balik punggung Rara.


“Ada apa sih, laki-laki siapa yag sedang kalian bicarakan”, Rara yang tidak mengerti mencoba bertanya agar dia juga bisa ikut memahami situasi antara Merry dan Karenina.


“Beneran, Mer. Kamu tahu aku kan, aku tidak akan semudah itu suka sama orang lain”. Karenina sudah berani berdiri di depan Merry sekarang.


‘Kenapa aku sembunyi sih, aku sudah seperti pelakor yang tertangkap basah saja padahalkan aku tidak melakukan apapun. Dasar Merry sialan’


Tiba-tiba Merry memeluk Karenina, ada butiran bening yang mengalir di pipinya membasahi pundak Karenina.


“Maafin aku ya, Nin. Aku sudah teriak-teriak sama kamu”, katanya penuh penyesalan melampiaskan kemarahannya pada orang yang salah. Rara geleng-geleng kepala dan masuk kamarnya, percuma juga dia berdiri di situ karena tidak ada yang mau menceritakan apa yang terjadi padanya.


   


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2