
Setelah tidur dengan nyaman sepanjang malam, Karenina bangun dengan perassan yang lebih segar. Lebam di pipinya sudah mulai samar, dia menggunakan sedikit make up untuk menutupinya agar Malik tidak melihatnya. Karenina tidak mau Malik merasa bersalah melihatnya.
Dengan menyakinkan dirinya untuk lebih berani dan tidak takut lagi, Karenina mendatangi rumah Malik, dia bermaksud mengajak laki-laki itu jalan-jalan sebelum dia kembali ke Jakarta.
“Sudah berani pulang”, bukan Rina tapi dia di sambut tatapan sinis sepupunya yang baru kelihatan. Mereka berada di usia yang sama, harusnya bisa menjadi teman yang baik bukan. Tapi Kia, sepupunya memilih mengikuti ibunya dan membenci Karenina. Kia menganggap Karenina mengambil separuh kasih sayang ayahnya darinya.
Karenina menarik nafas, dia mengingat taman-temannya di Jakarta. Mereka semua tidak memiliki hubungan darah dengannya, tapi memperlakukannya lebih dari sekedar teman. Sangat jauh berbeda dari sepupunya yang jelas-jelas keluarga kandung.
‘Coba aja Kia seperti Rara, Merry atau Juwita, aku pasti senang banget. Punya saudara yang bisa aku ajak cerita’.
Karenina meliwatinya dan memilih mengabaikannya. Berbeda dengan Rina yang tidak pernah menyakitinya secara fisik, Kia bisa dengan berani menyakitinya. Dia pernah beberapa kali mendorong atau menarik rambut Karenina karena kesal padanya. Dan jika Malik mengetahuinya maka ayahnya itu akan menghukumnya, dan semakin bertambah pula kebenciannya pada Karenina.
Seperti sekarang, dia mencekal lengan Karenina dengan kuat saat sepupunya itu melewatinya hingga membuat Karenina meringis.
“Kamu tambah kurang ajar yah, di tanya bukannya jawab malah main pergi aja. Kamu sudah merasa hebat karena Halim tergila-gila sama kamu”. Karenina menyentak tangannya yang di cekal Kia.
“Aku mau ketemu sama om Malik”, walaupun Kia sangat membencinya tapi Karenina tidak bisa membenci sepupunya itu sebesar Kia membencinya. Masih ada sedikit rasa sayang dalam dirinya. Karenina bahkan berharap suaru hari Kia bisa menyayanginya walau sedikit saja.
“Ayah lagi tidur. Kamu balik aja ke Jakarta nggak usah balik kesini lagi”,
“Kia, kenapa kamu selalu seperti itu pada Nina. Dia itu saudara kamu, apa kamu tidak bisa berbuat baik sedikit saja”, Malik keluar dari kamar, dia terbangun mendengar anaknya teriak-teriak.
“Kurang baik apalagi, aku bahkan membagi kasih sayang ayah dengan dia”. Kia meliriknya sinis lalu meninggalkannya. Mungkin salah satu alasan Karenina tidak bisa membenci Kia adalah karenia dia merasa sudah mengambil banyak kasih sayang Malik darinya.
Kia harusnya mendapat kasih sayang Malik seutuhnya tanpa harus berbagi dengannya, bahkan terkadang Malik memarahi anak kandungnya itu hanya karena mengambil mainannya.
“Jangan dengarkan dia, kamu tahukan kalau dia memang seperti itu”, Karenina menganguk dengan senyuman. Dia mendekat ke arah Malik dan bersandar di bahu laki-laki tua itu.
“Aku tadinya mau ajak om jalan-jalan, tapi kayaknya kaki om masih sakit” Karenina melirik kaki Malik yang di perban. Dia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan pada Malik.
“Apa ini Nina”, Malik menerima amlop coklat dari Karenina dan membuka isinya, Malik menghela nafas lalu memberikan kembali amlop itu pada Karenina.
__ADS_1
“Kamu jauh lebih butuh” katanya.
“Aku datang setelah tiga tahun dan nggak bawa apa-apa, anggap aja sebagai oleh-oleh. Kalau bisa om bawa Kia jalan-jalan dan beliin dia sesuatu tapi jangan bilang dari aku”,
“Kamu mengirim uang setiap bulan, itu lebih dari cukup”
“Yang ini lain”
“Tapi…”
“Aku masih ada” katanya buru-buru memotong perkataan Malik yang masih ingin menolak. Malik lalu menyimpan uang pemberian Karenina di balik baju kaosnya, tidak ingin sampai Rina melihatnya dan menghabiskannya untuk sesuatu yang tidak perlu.
“Jangan pergi dulu ya Nin, tante masakin ikan teri dengan sambel cobek kesukaan kamu”, Karenina yang mendengar nama makanan itu seolah terhipnotis, sudah sejak lama dia merindukan makanan yang menjadi favoritnya itu.
Kadang Rina hanya memberinya ikan teri dan sambel untuk dia makan dengan nasi, tapi Karenina ternyata sangat menyukainya.
‘Kenapa tante Rina tiba-tiba jadi baik, aku jadi takut. Tapi aku mau makan ikan teri, aku nggak pernah makan sejak tinggal di Jakarta’.
Karenina menelan ludahnya, dia yang tadinya sudah akan pergi lalu mengikuti semua orang ke meja makan. Mereka berempat duduk di meja makan, sangat jarang Karenina bisa bergabung saat makan bersama. Dia hanya bisa duduk di meja makan bila omnya ada di rumah dan mengajaknya makan.
Seperti rencananya, Karenina tertidur pulas setelah menghabiskan dua piring nasi. Rina membujuk Kia agar mau meminjamkan kamarnya pada Karenina. Walaupun kesal setengah mati pada ibunya, Kia akhirnya menginjinkan Karenina tidur di kamarnya.
Saat Karenina tidur dengan perut yang kekenyangan, saat itu keluarga besar Halim datang dengan membawa seserahan sekaligus menentukan tanggal pernikahan Karenina dan Halim.
“Bukannya Nina sudah memperingatkan kamu untuk tidak mengatur hidupnya, kenapa kamu malah nekat menerima lamaran keluarga Halim”, Malik menarik istrinya menjauh dari tamu-tamunya.
“Ini juga untuk masa depan Nina, dia pasti akan bahagia menikah dengan Halim. Masa depannya akan terjamin”. Rina mengabaikan suaminya dan kembali menemui tamu-tamunya.
“Sebaiknya pernikahan mereka di lakukan secepatnya, ijab qabulnya saja dulu, pestanya kan bisa menyusul” usul Rina yang di setuji keluarga Halim.
“Tante….”Karenina datang dengan wajah baru bangun tidur, Malik yang membangunkannya.
__ADS_1
“Aku nggak mau menikah, aku sudah bilang kan sama tante”. Semua orang yang ada di ruang tamu yang sempit itu melihatnya dengan terkejut, apalagi penampilannya yang berantakan.
Rina berdiri dan menarik tangan Karenina, tapi Karenina menyentaknya dengan kasar.
“Kenapa nggak Kia aja yang tante nikahkan dengan Halim, kenapa harus aku. Aku sudah bilang sama tante, tante nggak ada hak ikut campur kehidupan aku!!!”.
Wajah Rina memerah, dia masih memberi senyum pada orang tua Halim walau hatinya sangat ingin mencincang habis Karenina sekarang juga.
“Kamu pikir kamu siapa berani menolak anak saya. Kamu itu hanya anak yatim piatu miskin yang tidak punya apa-apa. Harusnya kamu bersyukur kami mau menerima kamu menjadi menantu, hidup kamu akan lebih terjamin tanpa kamu harus bekerja dan jauh dari keluarga kamu.”, Ibu Halim akhirnya angkat bicara.
“Lihat penampilan kamu, sudah seperti gembel. Saya juga tidak tahu kenapa anak saya bisa tergila-gila sama kamu. Atau jangan-jangan kamu pelet dia?”, lanjutnya.
“Maaf kan Karenina, saya akan bicara sama dia”, Rina mencoba meredakan amarah calon besannya yang sedang membara. Ibu halim dan keluarganya yang lain jelas merasa tersinggung dengan penolakan langsung Karenina.
“Tidak perlu, saya tidak akan merestui mereka lagi. Kamu akan menangis darah begitu melihat Halim menikah dengan wanita yang sederajat dengan kami dan pastinya jauh lebih cantik dari pada kamu. Dasar orang miskin, tidak tahu diri”, masih melanjutkan memaki.
Karenina tidak merasa tersinggung dengan ucapan ibunya Halim yang cukup menghinanya. Dia malah bersorak dalam hatinya melihat tamu-tamu tantenya itu pergi dengan amarah yang membara. Tunggu, Karenina masih harus menghadapi Rina. Dia melihat Rina yang ternyata sudah memandangnya dengan mata yang menyala.
Rina menjambak rambutnya, mendorongnya hingga pungungnya membentur lantai cukup keras. Tidak puas dengan itu, Rina menampar pipinya kiri kanan. Malik dan Kia yang barusan muncul dengan cepat memisahkan mereka.
“APA YANG KAMU LAKUKAN!!!”. Malik sudah melayangkan tangannya di udara, wajahnya tidak kalah kesal melihat lebam di wajah Karenina.
“Om”
“Ayah”. Teriak Kia dan Karenina bersamaan.
“Gara-gara dia, aku kehilangan sumber uangku. Biarkan aku memukulnya, dasar anak kurang ajar”, Kia yang membantu Karenina berdiri menjadi tameng untuk sepupunya. Dia melindungi Karenina dari amukan ibunya yang belum selesai.
“Apa uang yang aku kasih masih kurang, kenapa masih harus menjual Nina”. Rina mengkerutkan keningnya, sejak kapan anaknya itu membela sepupunya.
“Kenapa kamu malah membela dia, kamu ingat kalau dia itu sudah merampas Ayah kamu dari kamu”. Kia menghela nafas dan membuang muka saat tatapannya dan ibunya bertemu.
__ADS_1
“Sudahlah, bu. Aku akan mencarikan ibu uang yang banyak kalau hanya uang yang ibu inginkan”, katanya lelah melihat tingkah ibunya yang selalu bergaya ala orang kaya itu. Kia lalu kembali masuk ke kamarnya setelah Malik mengantar Karenina keluar.
Sementara Rina, dia tinggal mematung di tempatnya. Dia tidak menyangka anak kandungnya akan membela Karenina dan mengatakan kata-kata yang cukup menyinggungnya.