
Karenina yang sudah sangat kelelahan tertidur pulas hingga dia tidak melihat William pergi ke kantor pagi ini. Dia merutuki dirinya karena ketiduran tanpa berbicara dengan William mengenai Ririn.
“Huh, tubuhku sakit semua. Nanti malam aku mau protes kalau dia mau lagi. Tapi nanti aku jadi istri durhaka” Karenina masuk kamar mandi dengan tertatih dan jangan lupakan wajahnya yang di tekuk.
Karena tidak punya kekuatan untuk memasak apapun, dia juga tidak punya nafsu makan sama sekali, tapi dia harus tetap makan untuk mengisi tenaganya. Jadilah Karenina memesan online. Karenina hanya makan beberapa suap saja, lehernya serasa tidak mau menerima makanan apapun. Karenina lalu kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya. Bukan malas, tapi perasaannya memang sedang tidak baik.
Seluruh tubuhnya terasa sangat lelah sehingga dia hanya ingin berbaring dan memejamkan matanya. Untungnya dia memang seorang pengangguran dan hanya tinggal berdua bersama suaminya saja jadi dia bisa melakukan apapun yang dia mau.
Saat sedang berbaring, Karenina terpaksa membuka matanya medengar bel yang tidak berhenti berbunyi. Dengan malas Karenina berjalan membuka pintu. Ada Merry dengan mata dan pipi yang basah berdiri di depan pintu.
“Ninaa...” kata Merry yang langsung memeluk Karenina.
“Merry, ada apa? Kenapa kamu nangis?” Karenina mengajak Merry masuk lalu mereka duduk di ruang tengah.
Karenina memaksakan dirinya untuk berjalan ke dapur dan mengambilkan sebotol air dingin untuk Merry.
“Kenapa, Mer?” tanya Karenina sekali lagi.
“Tadi mama datang ke kantor aku, Nin” katanya.
“Terus...?”
“Mama minta maaf sama aku dan bilang yang sejujurnya?” Karenina mengkerutkan keningnya belum menangkap apa yang terjadi.
“Mama bilang kalau dia tidak pernah memberikan sepeserpun uang pada Ryan” Karenina lalu teringat cerita Merry beberapa waktu yang lalu. Bola matanya seketika membualat.
“Dia bahkan menolak uang yang Mama tawarkan untuk meninggalkan aku” lanjut Merry lagi.
“Lalu...?”
__ADS_1
“Dia meninggalkan aku karena Mama mengancam dia kalau Mama akan membuang aku dan tidak menganggap aku anak lagi kalau sampai Ryan masih melanjutkan hubungannya dengan ku. Ryan tidak mau melihat aku hidup susah makanya dia meninggalkan aku waktu itu” tangis Merry kembali pecah. Karenina sejenak melupakan tubuh lemahnya dan memeluk Merry.
“Aku salah faham selama bertahun-tahun, Nin” sambungnya lagi.
“Mungkin sekarang saatnya kamu dan Ryan bersatu lagi. Mungkin hati Mama kamu sudah melunak dan sudah bisa menerima Ryan. Jadi sekarang semuanya tergantung sama kamu, Mer. Kamu mau pertahankan gengsi kamu dan memulai hubungan yang baru sama Ryan, atau kamu amu mempertahankan ego kamu tapi konsekuensinya kamu akan kehilangan Ryan. Kalau aku lihat-lihat sih, Ryan laki-laki yang baik” kata Karenina memberi masukan panjang lebar pada Merry.
“Menurut kamu aku harus bagaimana?”
“Ikuti kata hati kamu, kalau kamu memang masih punya perasaan pada Ryan, temui dia dan minta maaf padanya. Aku yakin dia pasti akan memaafkan kamu. Dia juga pasti masih sayang banget sama kamu, Mer”
Merry menunduk, egonya masih terlalu tinggi untuk menemui Ryan dan minta maaf. Apalagi terkahir kali mereka bertemu dia bahkan mengancam laki-laki itu agar tidak lagi mendekatinya. Kalau soal perasaannya, walalupun dia sudah berulang kali berganti pasangan tapi di hatinya tetap hanya ada satu nama yang tidak akan pernah dia lupakan.
Sepertinya Merry masih butuh waktu untuk menentukan keputusannya, setidaknya saat ini dia sudah mengetahui kebenarannya. Dan itu sudah membuat hatinya sangat lega mengetahui Ryan tidak seperti apa yang dia pikirkan.
“Nin, kamu kenapa pucat banget? Sudah makan?” Merry melihat wajah pucat Karenina.
“Kayaknya kamu harus periksa ke dokter deh, Nin” Merry menilisik wajah Karenina, wanita itu memang sedang mereasa sangat lemas, tapi dia tetap memaksakan terlihat baik-baik saja.
“Aku kayaknya hanya butuh obat deh, badanku sakit semua”
“Ya, sudah aku carin kamu obat dulu kalau begitu. Supaya saat suami kamu pulang kamu sudah segar lagi” Karenina mengangguk, sepertinya dia memang membutuhkan obat untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Sambil menunggu Merry membawakan obat, Karenina membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja dan menyimpan piring kotor di wastafel. Dia sama sekali tidak berniat mencucinya, dia hanya meninggalkannya saja di situ dan kembali ke kamar menunggu Merry. Ah, untung saja wanita itu datang mengunjunginya, walaupun tujuannya hanya untuk curhat tapi Karenina senang Merry datang.
Tidak lama kemudian, Merry datang membawa beberapa macam obat dan vitamin untuk Karenina. Setelah meminumnya, Karenina jatuh tertidur dengan lelapnya. Melihat Karenina tertidur, merry lalu meninggalkan apartemen William.
Karenina terbangun saat merasakan sentuhan hangat di keningnya. dia mebuka mata dan melihat William sedang tersenyum hangat padanya.
“Dasar pemalas” canda William. Dia duduk di samping Karenina yang juga sudah duduk dengan kaki bersilang di atas tempat tidur.
__ADS_1
“Will, maaf yah. Aku tidak masak lagi, tadi aku sangat...”
“Iya, siapa yang memintamu untuk masak. Kalau kau lelah kau pesan saja makanan”
“Maksudku memasak untukmu”
“Tidak apa-apa, sayang. Aku sudah memasak makan malam untukmu” bola mata Karenina membulat. Lalu dia memperhatikan William yang sudah dengan pakaian santainya, juga melihat jendela dan ternyata sudah gelap.
“Aku tidur berapa lama siih. Tadi pagi aku tidak melihatmu pergi dan sekarang aku tidak menjemputmu saat kau pulang. Will, apa kau menyesal menikah denganku. Tapi aku juga heran kenapa aku jadi cepat lelah padahal biasanya aku tidak seperti ini” kata Karenina yang membuat William tersenyum.
“Iya, aku memang menyesal menikah denganmu”
Def, jantung Karenna rasanya berdetak hebat.
“Aku menyesal karena terlalu lama menunggumu, harusnya aku langsung menikahimu saja saat kita bertemu lagi setelah pertemuan kita di Bali waktu itu”
“Williaaammm...” William menarik bibir Karenina yang cemberut, lalu menciumnya sekilas.
“Mandi sana, setelah itu kita makan” Karenina yang merasa jauh lebih baik setelah minum obat dan vitamin langsung mengguyur dirinya di kamar mandi. Setelah selesai mandi, Karenina lalu menyusul William di dapur.
“Wah, baunya saja sudah enak. Pasti rasanya juga enak” Karenina menarik kursi di samping William dan mereka pun makan malam romantis bersama.
Setelah makan malam romantis itu, Karenina membersihkan dapur dan juga mencuci piring sementara William langsung masuk ke kamar dan membuka laptopnya. Karenna menyusul William di kamar setelah dapur sudah bersoh seperti biasanya.
Karenina mengganti bajunya dengan baju tidur biasa dan bukan yang seperti jala ikan kesukaan William itu. setelah itu dia naik ke tempat tidur bermaksud langsung tidur, tapi sayangnya William tidak mengijinkannya tidur lebih dulu. William mematikan layar laptopnya dan menyimpan benda itu di atas meja.
“Kau belum membayar makan malammu” kata William.
Lalu dia kembali menggerayangi tubuh istrinya malam itu, Karenina yang merasa tidak sanggup melayani William hari ini hanya bisa pasrah dan membiarkan William menguasai tubuhnya.
__ADS_1