Takut Menikah

Takut Menikah
Ririn di tangkap?


__ADS_3

Karenina menangis histeris di pelukan William. Dia sangat terguncang dengan penculikan yang dia alami. Tidak tahu apa sebabnya dan mengapa sampai dia harus mengalami kejadian mengerikan dalam hidupnya. William memeluk Karenina dengan erat dan terus membisikkan kata maaf karena terlambat menemukannya hingga dia merasa sangat trauma.


“Will, aku sangat takut” kata Karenina sambil masih terisak dalam pelukan William.  


“Kau sudah bersamaku sayang, tidak ada yang akan menyakitimu lagi” kata William. Dia sangat merasa bersalah, karena amarah Ririn padanya hingga membuat Karenina yang harus membayarnya.


“Sayang, kami ada di sini bersamamu” Mutiara juga memberi kekuatan pada Karenina.


Karenina melepaskan pelukannya, wajah pucatnya masih terlihat jelas. Dia kembali meneteskan air mata mengingat kejadian yang dia alamai kemarin. William dengan lembut mengusap air mata yang mengalir itu.


“Will, aku lapar. Aku tidak mau makan makanan yang mereka berikan, aku takut mereka meracuniku” William tersenyum mendengar Karenina yang meminta makan, dia segera keluar memcarikan makanan untuk Karenina. Tapi Mutiara menahan Willam, dia yang ingin keluar mencari makan untuk Karenina.


“Kamu di sini saja temani, Nina. Dia pasti masih katakutan, biar Ibu yang mencari makan”


“Baiklah, Ayah akan mengantar Ibu sekaligus langsung ke perusahaan”


Kedua orang tua William meninggalkan ruang rawat Karenina setelah memebri semangat pada calon menantu mereka.


“Will..., siapa yang menculikku? Apa tante Rina?” sejak awal, Karenina hanya mencurigai Tantenya.


“Sudahlah, jangan pikirkkan lagi. Biar aku yang mengurus hal itu” kata William dengan lembut.


“Tante Rina?” tanya Karenina sekali lagi. Dia hanya ingin tahu siapa yang ingin menyakitinya, Karenina tidak tahu kalau yang menculiknya bukan hanya ingin menyakitinya, tapi malah melenyapkan dirinya selamanya.


“Bukan” jawaban singkat William cukup melegakannya. Dia tidak ingin membuat hubungan Malik dan Rina memburuk karena kejadian ini.


Karenina makan sangat lahap, Mutiara membawakannya banyak sekali makanan hingga dia tidak tahu mana yang harus dia makan lebih dulu. William di sampingnya juga ikut makan, dia juga makan sangat lahap karena beberapa hari kehilangan nafsu makan.


Setelah makan, Karenina dan William tertidur. Mutiara lega melihat anak dan calon menantunya sudah kembali bersama.


Sementara itu, setelah semua bukti dan saksi sudah di dapatkan, polisi bergerak cepat untuk menangkap dalang dari penculikan Karenina. Mereka saat ini sudah menuju rumah Ririn untuk menangkapnya.

__ADS_1


“Kenapa anak saya di ingin di tangkap, memangnya apa salahnya? Kata Ibu Ririn melihat surat penangkapan Ririn yang di perlihatkan polisi.


“Anak anda terlibat kasus penculikan”


Duaarrr, wanita setengah baya itu memegangi dadanya. Anaknya terlibat kasus penculikan, sepertinya itu sangat tidak mungkin terjadi.


“Anda pasti salah orang, kenapa anak saya harus terlibat kasus penculikan. Memangnya siapa yang telah di culik?”


Polisi tidak mau lagi banyak bicara, kepala polisi yang memerintahkan anak buahnya untuk menggeleda rumah besar itu dan mencari Ririn.


“Apa-apaan ini, kenapa kalian berani sekali menerobos rumahku. Kalian tidak tahu siapa suamiku, haah” tidak seorangpun yang memperdulikan teriakan dan larangang wanita itu, polisi terus saja bergerak mencari keberadaan Ririn.


Diam-diam, Ririn yang mendengar keributan di bawah mengintiap dari atas apa yang terjadi. Saat dia mendengar tentang kata penculikan, Ririn sangat kaget. Dia lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil beberapa barang dan bersembunyi di balkon kamar orang tuanya.


Hal itu membuat polisi tidak bisa menemukan dirinya di manapun, tapi polisi tidak menyerah dan meninggalkan beberapa orang untuk mengawasi rumah itu.


Saat polisi keluar dari rumah, Ibu Ririn bergegas mencari keberadaan anaknya. Dia tahu Ririn pasti bersembunyi di suatu tempat.


“Mama...” kata Ririn dengan suara berbisik.


“Ssstt, pelankan suara, Mama. Polisi masih ada di luar” katanya mengingatkan Ibunya kalau polisi masih berjaga di sekitar rumahnya.


“Kenapa kau sampai sebodoh itu, sayang. Siapa yang kau culik?” tanya Ibunya sekali lagi. Ririn yang tanpa wajah menyesal duduk sambil berpangku kaki di tempat tidur ibunya.


“Aku menyuruh orang menculik calon istri William?”


“Apa, kau sudah gila” tanpa sadar wanita paruh baya itu kembali teriak.


“Apa Mama mau mereka menemukan ku di sini” Ririn kembali mengingatkan Ibunya kalau di luar masih ada beberapa polisi.


“Tapi kenapa sampai kau melakukan hal sebodoh itu, Ririn. Memangnya tidak ada laki-laki lain selain William. Dia sudah mencampakkanmu dan kau masih ingin dia kembali padamu. Dimana otakmu”

__ADS_1


Wanita itu terlihat frustasi, dia menelpon suaminya dan menceritakan apa yang terjadi. Sama halnya dengan dirinya, suaminya di seberang sana juga tidak kalah terkejutnya. Dia memaki kebodohan anaknya yang berani berurusan dengan keluarga besar Anggoro.


Ayah Ririn buru-buru pulang kerumah setelah mendapat telepon dari istrinya.


“Apa yang kau lakukan” Hartono, Ayah Ririn memarahi anaknya habis-habisan. Dia tidak mengerti mengapa sampai Ririn bisa seceroboh itu berurusan dengan keluarga Anggoro.


“Papa kan punya banyak kenalan petinggi polisi, Papa bisa urus ini kan” kata Ririn dengan santainya.


Plak... satu tamparan Hartono berikan pada anaknya. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebesar apapun kesalahannya. Dia menyesali sikapnya yang selalu membela anaknya bahkan ketika dia salah sekalipun.


“Papa...”


“Sayang...”


Teriak Ririn dan ibunya bersamaan.


“Apa kau punya otak, kau bodoh, hah”


“Sayang, di luar banyak polisi, kecilkan suaramu”


“Kau tahu bagaimana berpengaruhnya keluarga Anggoro, kita hanya secuil debu di bandingkan mereka” kata Hartono dengan penuh penekanan walaupun dia mengatakannya dengan suara berbisik.


“Dia belum menjadi keluarga Anggoro, Pa. Mereka belum menikah. Keluarga Anggoro tidak akan terlalu perduli” kata Ririn sambil masih memegangi pipinya yang serasa panas setalh di tampat Hartono.


“Kau sangat naif, berapa lamu kau mengenal William. Apa kau tidak tahu seperti apa dia. dia berani menikahi wanita itu pasti karena sangat mencintainya. Dan kau menculik wanita yang dia cintai, kau tahu apa yang akan dia lakukan. Di mana otakmu, Ririn. Kalau kau benar-benar menginginkan William, kenapa dulu kau melakukan hal murahan seperti itu di belakangnya”


“Papa...” giliran Ririn yang berteriak tidak terima dengan ucapan Ayahnya yang adalah kebenaran.


“Papa tidak mau ikut campur kali ini, kau harus menanggung akibat kesalahan mu sendiri” kata hartono dengan tegas. Melawan Anggoro sama saja dengan menghancurkan perusahaannya sendiri.


“Sayang, Ririn anak kita satu-satunya. Apa kau tega melihatnya di penjara” kata Ibunya, dia berusaha membujuk suaminya agar melakukan sesuatu untuk menyelamtkan anak mereka.

__ADS_1


“Ini juga salahmu, kau terlalu memanjakannya. Kau selalu mengikuti semua keinginannya. Lihatkan, dia sampai berani melanggar hukum hanya untuk kepuasannya” Hartono malah balik mengomeli istrinya.


Mereka tidak tahu saja, apapun yang mereka lakukan tidak akan bisa menyelamtakan Ririn dari hukuman. Sebastian Anggoro sudah meminta dengan tegas kepada pihak kepolisian agar kasus ini di tangani dengan dengan seadil-adilnya.


__ADS_2