
William memanggil kepala personalia keruangannya begitu dia tiba di kantor pagi ini. Dia ingin meminta pertanggung jawaban mengenai gosip tentang dirinya yang sedang beredar. Bukan hanya kepala personalia, tapi juga ketiga sekertarisnya.
“Aku ingin kau mengusut tuntas siapa yang sudah menyebarkan gosip di kantorku”. Katanya dengan tegas.
“Apa perusahaan membayar kalian hanya untuk menceritakan kehidupan orang lain, apa kalian duduk di depan komputer hanya untuk berkirim email dan menyebarkan cerita yang di kembangkan dengan baik entah itu melalui jari atau mulut kalian”, suaranya sudah tidak bisa terkontrol. Empat wanita yang ada di ruangan itu merinding ketakutan, terlebih sekertaris yang pernah mendapat ancaman darinya.
“JAWAB…”
“Ti-tidak, Tuan” kata kepala personalia. Dia tidak menyangka William akan menanggapi gosip yang beredar tentangnya. Dia fikir William akan mengabaikan berita itu karena tidak penting untuknya.
Sebenarnya William memang tidak perduli jika itu hanya tentang dirinya, tapi ini menyangkut wanita yang sudah mengisi hidupnya. Karenina pasti akan merasa tidak nyaman menginjakkan kakinya lagi di kantornya setelah berita tentang hubungannya dengan Karenina menyebar dengan cepat. Dan terlebih lagi, banyak orang yang mengatakan bahwa Karenina memberikan tubuhnya sebagai imbalan untuk proyek yang mereka dapatkan.
Jika saja mereka pertemuan mereka di Bali terjadi setelah presentasi hari itu, mungkin saja itu bisa di anggap sebagai imbalan atas proyek yang Dimension dapatkan. Tapi mereka bahkan belum saling mengenal saat itu terjadi, tentu saja itu tidak bisa di anggap sebagai imbalan. Dan William tidak pernah menganggapnya seperti itu.
“Aku tidak mau ada lagi yang membicarakan masalah itu di kantorku, jika aku masih mendengarnya aku akan menganntikan posisimu dengan orang lain. Dan ini berlaku juga untuk kalian, ini adalah peringatan terkhirku”, katanya dengan sorot mata yang tajam.
“Iya, Tuan”. kata mereka menjawab bersamaan.
“Keluarlah dan panggilkan bagian perencanaan yang bernama Rudy ke ruanganku”.
“Baik, Tuan”. Mereka semua memegangi dadanya setelah menutup kembali pintu ruangan William dengan hati-hati sehingga tidak menimbulkan suara.
“Aku selalu bekerja dengan baik agar tidak pernah kena marah Tuan William, sekarang aku malah di marahi karena gosip sialan itu”. Kata kepala personalia dengan berapi-api. Ini adalah pertma kalinya dia kena marah selama bekerja di perusahaan itu.
“Aku akan mencari siapa biang keladinya, aku akan buat perhitungan dengannya”, katanya lagi. “Aku juga mau buat perhitungan dengannya, aku mau robek mulut kurang ajarnya”, sahut yang lain di iringi anggukan kepala yang lainnya.
__ADS_1
Meski sudah tahu ada hubungan yang lain antara William dan Karenina, tapi mereka tidak pernah menyebarkan cerita apapun, apalagi salah satu dari mereka pernah mendapat ancaman dari William. Sudah jelas pelakunya bukan salah satu dari ketiga wanita yang selalu duduk manis di depan ruangan utama.
Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing sehingga tidak punya waktu untuk bergosip dengan yang lain kecuali sesama mereka.
Ryan, tentu saja dia masih sayang kepalanya. Dan juga dia tidak terlalu sering berkumpul dengan karyawan lain. Dia punya banyak pekerjaan yang lebih penting dari pada mengurusi hidup orang lain.
“Apa yang sudah kau katakan pada kekasihku?”. Karyawan yang bernama Rudy itu mengekerutkan keningnya tidak mengerti maksud William, seingatnya dia tidak pernah bertemu dengan wanita yang mengaku sebagai kekasih bossnya dan juga William tidak pernah terlihat jalan bersama seorang wanita kecuali.
“Apa maksud anda, Tuan. Saya belum pernah bertemu dengan kekasih anda” katanya menjawab dengan jujur menurut pemikirannya.
“Aku bukan bicara sebagai seorang pimpinan kepada bawahannya, tapi aku bicara sebagai laki-laki yang merasa keberatan seseorang telah menghina kekasihnya”. William berdiri berjalan mengitari Rudy, tangannya terkepal kuat dengan rahang yang mengeras. Ingin sekali di arahakan tinjunya pada laki-laki itu.
Karenina memang tidak mengadu padanya tentang kejadian di lokasi proyek hari itu, William tahu dari Farel yang kebetulan ada di sana untuk mengawasi jalannya proyek itu. Tapi William tahu kalau kekasihnya itu terluka dengan apa yang karyawannya ucapkan.
Tatapan William semakin mengintimidasinya membuat laki-laki itu semakin tidak mengerti. Lalu matanya membulat ketika dia mengingat sesuatu.
Wajahnya langsung berubah pias ketika menyadari maskud William, dia beberapa kali melihat bagaimana beringasnya William ketika marah dan mungkin kali ini dia yang akan menjadi objek kemarahan William itu.
‘Apa aku akan kehilangan pekerjaanku. Ah sial, kenapa aku tidak bisa mengontrol mulut dan mataku. Apa aku berlutut saja dan minta maaf, tapi di mana harga diriku sebagai laki-laki’
“Maa-maafkan saya, Tuan” katanya dengan terbata.
“Sudah ku bilang, aku tidak bicara sebagai Tuan William. Aku laki-laki yang sedang marah karena ada orang yang menghina kekasihku” katanya lagi dengan nada gusar dan kembali duduk di sofa yang empuk dengan menyilangkan kakinya. Terlihat beberapa kali dia menarik nafas dengan memejamkan mata.
Bagaimana pegawainya itu bisa menganggapnya sebagai laki-laki biasa jika aura yang dia keluarkan sudah sangat jelas menunjukkan kalau dia seorang pemimpin yang berwibawa. Walaupun William tidak berteriak seperti ketika marah jika karyawannya melakukan kesalahan, tapi justru terlihat lebih menakutkan dari pada dia teriak-teriak.
__ADS_1
“Maafkan saya”, katanya dengan suara pelan dan kepala yang tertunduk.
“Kau sudah tahu apa kesalahanmu?”
“Sudah, Tuan”
“Minta maaf padanya di depan semua orang yang ada hari itu”,
“Baik, Tuan”
“Keluarlah dan jangan bicara omong kosong lagi atau aku bukan hanya membuatmu kehilangan pekerjaan tapi juga semua gigimu. Apa kau megerti”.
“Iya, Tuan”.
“Ada apa lagi”, Rudy masih berdiri di tempatnya saat William sudah menyuruhnya keluar, laki-laki itu masih menunduukan kepalanya saat berjalan sampai berada tepat di depan William.
“Saya tidak akan di pecatkan, Tuan”. Katanya dengan ragu.
“Sudah berapa kali aku bilang padamu kalau aku bicara sebagai kekasih dari wanita yang kau hina, apa itu masih kurang jelas untukmu. Aku bukan orang yang akan mencapur urusan pribadi dengan pekerjaan walaupun aku sangat ingin menghajarmu”.
“Terima kasih, Tuan”
“Keluarlah sebelum aku benar-benar merobek mulutmu itu”, Rudy menundukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan William.
William menghela nafasnya setelah Rudy keluar dari ruangannya, dia sebenarnya ingin sekali memukul laki-laki itu karena sudah berani menghina kekasihnya, tapi dia sebisa mungkin mengontrol dirinya agar tidak sampai melakukannya.
__ADS_1
Ayahnya selalu mengajarkannya untuk memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan, dan itu menjadi salah satu kunci sukses Ayahnya yang ingin dia coba.
“Jika dia bukan karyawanku, aku pasti sudah menghajarya habis-habisan. Dasar brengs*ek”. William melanjutkan pekerjaannya yang sudah tertunda sejak pagi tadi. Membaca laporan-laporan yang sudah tersusun rapi di atas mejanya.