Takut Menikah

Takut Menikah
Bertemu mantan


__ADS_3

Setelah statusnya sebagai kekasih William Anngoro tersebar di Dimension, Karenina tidak bisa lagi bekerja dengan tenang. Teman-temannya terus saja menggoda dan mengganggunya dan Juwita adalah orang yang paling sering melakukannya.


Seperti pagi ini saat mobil William memasuki halaman Dimension, Juwita sudah menunggunya di depan meja front office.


“Ciee ciee yang di antar ayang”, godanya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Susi.


“Ihh, apaan sih Juwi, kayak nggak pernah pacaran aja”, katanya dengan kesal dan terus berjalan menuju ruangan mereka berada. Juwita mengejarnya dan merangkul pinggangnya.


“Kamu sudah ngapain aja sama Tuan William”, Juwita kembali menggodanya membuat pipinya memerah. “Jangan bilang kamu sudah….”.


Karenina melepaskan tangan Juwita dan berjalan dengan cepat meninggalkan temannya yang super kepo dan cerewet itu, namun bukan Juwita bila dia tidak kembali mengejar Karenina.


“Nin, kamu beneran sudah ehem-ehem sama Tuan William”, Karenina dengan cepat membekap mulut Juwita dan melihat orang-orang di sekililing mereka. Semua orang masih sibuk dengan ponsel masing-masing, ritual di pagi hari sebelum memulai kesibukan mereka jadi tidak ada yang sempat mendengar apa yang Juwita ucapkan.


“Juwi, kalau ngomong di saring dong, jangan asal ceplos aja”, bisik Karenina dengan kesalnya. Juwita tidak bisa menahan tawanya “Jadi beneran sudah ya”, lanjutnya lagi masih dengan menutup mulutnya yang tertawa lebar.


Pipi Karenina sudah memerah, matanya menatap tajam Juwita yang masih tertawa. Dengan sepak terjangnya sebagai seorang playgirl, Juwita sudah bisa menebak kalau William dan temannya memang pernah melakukan hubungan terlarang.


“Kamu jangan salah faham, kita cuma pernah ciuaman aja kok”, tegas Karenina dengan raut yang di buat seserius meungkin agar Juwita percaya.


“Iya, iya. Aku percaya kok”, kata Juwita meledek Karenina.


‘Dasar Juwi, aku rasanya mau bawa dia ke hutan amazon dan ninggalin dia di sana biar dia nggak bisa balik lagi ke sini, biar da tidak menggangguku terus’. Kekesalan Karenina sudah sampai di ubun-ubun. Dia masih melihat Juwita melihatnya dan terus tertawa.


Tapi setidaknya Karenina tahu kalau Juwita adalah orang yang bisa dia percaya, dia tidak perlu takut Juwita akan menyebarkan alibinya pada semua orang dan mempermalukannya.


Setelah puas menertawakan Karenina, Juwita lalu memasang mode seriusnya di depan komputernya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


“Will, kita mampir ke supermaket dulu yah. Aku mau beli sesuatu”, pinta Karenina saat perjalanan pulang bersama William. Jika tidak sedang sibuk atau ada pertemuan penting, William selalu menyempatkan diri untuk menjemput Karenina dan mengajaknya makan malam. William tidak akan membiarkan Karenina menolak untuk makan seperti kebiasaannya sebelum bertemu William.


“Aku kan bilang ke supermaket, kok malah ke mall sih”, William bukan membawanya ke supermaket tapi membawanya ke mall dan Karenina sekali lagi tidak punya pilihan selain meurut. Dia keluar dari mobil dengan wajah pasrah. Karenina meminta William melepas jasnya agar  tidak terlalu mencolok, laki-laki itu menurut dan menyampirkan jasnya di kursi mobil.


“Kau mau beli apa? di sini pasti lebih lengkap”, katanya dengan entengnya. Wajah lelah yang tadi Karenina lihat hilang sudah saat laki-laki itu menggenggam tangannya memasuki mall. Sudah hampir seminggu dia kehabisan krim wajahnya tapi selalu malas untuk mampir membelinya.


Mereka memasuki toko kosmetik yang ada di mall itu, Karenina langsung menuju rak di mana barang yang ia cari berada dengan William yang selalu mengikutinya.


“Dapat”, kata Karenina memperlihatkan barang yang ia cari pada William.


“Hanya itu?” Karenina mengangguk sambil tersenyum melihat kerutan di kening William.


“Kenapa tidak pakai yang lebih mahal”, katanya melihat harga krim wajah yang di ambil Karenina dari raknya “Aku cocoknya sama yang ini”, jawab Karenina. Dia menarik tangan William menuju kasir untuk menyelesaikan pembayarannya dan langsung pulang.


“Nina”, William berhenti di depan rak sebuah merk lipstik yagn cukup terkenal. Karenina ikut berhenti di samping William.


“Jangan berani-berani ya kau pakai warna seperti itu kalau tidak di depanku. Kau boleh pakai lipstik warna merah kalau hanya berdua denganku”, katanya kesal melihat senyum Karenina saat dia memperlihatkan lipstik itu padanya.


“Kan kau sendiri yang bilang kalau aku akan cantik pakai lipstik itu” Karenina mengambil kembali lipstik yang sudah William simpan kembali di tempatnya.


“Aku mau”, rengeknya pada William.


“Tidak, kau boleh mengambil semuanya  asal jangan warna itu”, Karenina memanyunkan bibirnya dan meninggalkan William.


“Nina”, Karenina menghentikan langkahnya, bukan suara William yang dia dengar memanggilnya, dia menoleh mencari sumber suara. Karenina mengahampiri William dengan cepat dan berdiri di belakang punggung kokoh kekasihnya saat dia melihat dan megenali suara yang memanggilnya.


“Kau kenal dia”? tanya William, Karenina mengangguk dari balik punggung William.

__ADS_1


“Nina, aku mencarimu kemana-mana. Kita harus bicara berdua”, kata laki-laki yang tadi memanggilnya. Karenina menggenggam tangan William dengan erat saat laki-laki itu semakin mendekat.


“Siapa dia Nina, kenapa kau menggenggam tangannya seperti itu”, dia masih saja mengikuti Karenina dan William.


Mereka sampai di kasir dan laki-laki itu masih terus mengikuti mereka. Karenina dengan cepat memberikan barang yang tadi dia ambil pada kasir, rasanya dia ingin cepat pergi dari tempat itu.


“Kau mau lipstik itu, aku akan membelikannya untukmu kalau dia tidak sanggup membelinya”, katanya lagi dengan sombongnya. William sama sekali tidak terpengaruh pada apa yang dia ucapkan, William memeluk bahu Karenina, menjaganya agar laki-laki itu tidak menyakiti kekasihnya.


Kasir menyebutkan total belanjaannya, Karenina akan mengeluarkan dompetnya tapi William menahannya. “Biar aku yang bayar”, katanya.


William meraba kantong celana bahannya depan belakang dan tidak menemukan dompetnya.


“Sial, dompetku ada di jasku. Aku lupa mengambilnya tadi”. Laki-laki itu menaikkan sudut bibinya mengejek William.


“Heeh, Nina kau lihatkan, dia tidak punya uang. Dia pasti hanya berbohong kalau dia lupa dompetnya, itu sudah menjadi cara laki-laki miskin agar mereka tidak perlu mengeluarkan uangnya. Biar aku yang membayarnya untukmu”. Laki-laki itu akan mengeluarkan dompetnya tapi Karenina dengan cepat memberikan kartu debitnya pada kasir.


“Tidak perlu, aku bisa bayar sendiri kok”, kata Karenina dengan ketus. William menatap Karenina dengan kesal melihat kartu yang Karenina pakai membayar.


“Nina, pulanglah ke Lampung. Ayo kita menikah”. William menghentikan langkahnya, dia memberikan tatapan yang tenang pada laki-laki yang ternyata sudah sejak tadi mengikuti mereka.


“Jangan mengganggunya, dia takut padamu”, kata William masih dengan tenangnya.


“Kau siapa, kau tidak punya hak untuk ikut campur. Ini urusanku dengan Karenina, karena dia calon istriku”, Karenina mengeratkan genggaman tangannya, William menyadarinya dan membawa Karenina berdiri di depannya dan mencium pipi wanita itu dengan lembut.


“Siapa bilang dia calon istrimu, dia wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Jadi jangan menganggunya lagi”, William memberi penekanan pada kata terakhirnya. Dia mulai menunjukkan sisi arogannya pada laki-laki itu.


William memeluk pinggang Karenina dan membawanya meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


“Nina, kau lihatkan dia bahkan tidak mampu membayar beberapa ratus ribu, bagaimana dia bisa menghidupimu. Jangan tergoda dengan wajahnya, lihatlah masa depanmu. Aku tidak akan membiarkanmu berkerja, aku yang akan memenuhi semua kebutuhanmu. Kareninaaa!!!” laki-laki itu terUs berteriak dan menjadi pusat perhatian orang-orang, sementara William dan Karenina sudah menghilang dari hadapannya.


__ADS_2