
Nadia merebahkan tubuhnya di sofa di rumah yang berada di lantai 2 bengkelnya, sepulang dari kantor polisi Nadia meminta semua pegawainya pulang meski jam kerja belum usai karena kini jam masih menunjukkan pukul 2 siang. Nadia hanya menatap kosong langit-langit ruang tamu sambil memijat-mijat pangkal hidungnya, saat ini Nadia benar-benar merasa pusing dengan beberapa masalah yang datang bertubi-tubi. Rasanya Nadia ingin beristirahat sejenak menghilangkan sakit dikepalanya.
Apalagi dengan sikap Ariya yang selalu muncul dimana pun bagaimana hantu tak diundang. Nadia benar-benar harus menjauhi dan menghindari untuk berdekatan dengannya. Enak saja setelah dulu meninggalkannya tanpa pernah memberikan penjelasan atau sekedar memperbaiki hubungan satu sama lain, tiba-tiba kini datang ingin memulai semuanya dari awal. Bagaikan gelas yang pecah meski diperbaiki semuanya tidak akan sama.
Tok...tok...tok..
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Nadia.
"Masuk" ucap Nadia tanpa beranjak dari posisinya.
Ceklek
Pintu terbuka terlihat Winda, Haris, Rian, Dewa dan pegawai yang lain masuk ruangan. Nadia pun merubah posisi menjadi duduk.
"Loh kenapa kalian belum pulang?" Dahi Nadia berkerut aneh dengan sikap mereka yang hanya berdiri diam menundukan kepala.
"Nad, kamu marah ya sama kita? Maaf ya kalo kita udah bikin masalah." Haris mengubah gaya bicara lo-gue dengan aku-kamu takut apabila Nadia sedang marah karna semenjak perjalanan pulang Nadia hanya terdiam meski berkali-kali diajak bicara.
"Kenapa kalian berpikir kayak gitu?" Tanya Nadia
"Soalnya dari tadi kamu diem aja, ga mau ngomong sama kita trus tiba-tiba nyuruh pulang." Jelas Haris sementara yang lain hanya diam saja takut Nadia marah dengan mereka.
"Engga kok, saya diem karna saya cuma lagi pusing aja. Saya nyuruh kalian pulang karna saya ingin kalian beristirahat, kalian juga pasti cape dan kaget dengan kejadian hari ini jadi beristirahatlah." Jelas Nadia membuat semuanya menghela nafas lega.
"Maaf ya, karna hari ini kita udah bikin masalah dan bikin kamu tambah pusing."
"Gak papa anggap aja ini pelajaran, kalo terjadi lagi lebih baik langsung telpon polisi daripada ribut malah merugikan diri sendiri. Dah pulang dan istirahat." Jelas Nadia.
Semua orang pun pulang. Tapi ternyata Haris balik lagi menghampiri Nadia.
__ADS_1
"Kenapa lagi?" tanya Nadia.
"Gue minta maaf ya, gue malah nambah masalah buat lo, tadinya gue pikir gue bisa nyelesaiin masalah ini sendiri, gue gak mau hubungin lo karna gue takut bikin lo tambah pusing. Tapi ternyata malah tambah rumit." Ucap Haris
"Dah, gak papa. Sana-sana gue mau istirahat." Ucap Nadia mendorong tubuh Haris.
"Tunggu-tunggu! ada yang mau gue tanyain." ucap Haris.
"Apaan?" ucap Nadia.
"Cowok tadi sebenernya siapa sih? Pacar lo?" Tanya Haris penasaran.
"Dia mantan gue." Jawab Nadia sambil menurunkan pandangannya.
Flashback
Nadia dan Ariya kala itu terikat dengan hubungan sepasang kekasih, Ariya pun telah menyematkan cincin bahwa ia serius untuk melangkah ke jenjang yang lebih jauh Ariya ingin menikahi Nadia. Ariya yang hendak menempuh kuliah pasca sarjana di luar negri ingin serta memboyong Nadia bersamanya yang kala itu Nadia sedang menempuh kuliah semester 4, ia benar-benar takut saat ia kuliah di luar negri Nadia malah dipersunting orang lain.
Ariya bahkan menolak dijodohkan orang tuanya dengan anak kolega orang tuanya sesama kalangan pengacara dengan alasan telah memiliki calon pilihannya sendiri. Ia pun mengutarakan keinginannya kepada orang tuanya bahwa ia ingin menikahi seseorang yaitu Nadia dan membujuk kedua orang tuanya agar mendukung niat baiknya. Ariya kemudian menceritakan siapa Nadia, latar belakang dan kehidupan Nadia. Orang tua Ariya tidak mengatakan apapun selain mengatakan untuk membawa Nadia ke rumah agar dapat mengenal lebih jauh.
...****************...
Hingga tiba saat Nadia berada di rumah Ariya, nampak semuanya berjalan seadanya. Nadia, Ariya dan kedua orang tuanya berbincang-bincang tentang kehidupan sehari-hari Nadia dan latar belakangnya. Orang tua Ariya sesekali bertanya kepada Nadia dan Nadia menjawab semua pertanyaan orang tua Ariya apa adanya tanpa ada yang di tutup-tutupi.
"Tante langsung aja pada intinya. Maksud dari mengundang kamu kesini adalah untuk menegaskan bahwa kami tidak merestui hubungan kalian." Ucap Ibu Ranti, Ibu dari Ariya.
Nadia hanya tersenyum dan menundukkan kepala, ia sadar bahwa ia memiliki kemungkinan yang besar ditolak sebagai calon menantu dikarenakan perbedaan tingkat sosial yang dimilikinya.
"Mah, tolonglah mah, Nadia ini anak baik-baik kok. Tolong hargai pilihan Ariya." Bela Ariya berusaha memohon untuk direstui.
__ADS_1
"Bagaimana bisa disebut anak baik-baik kalau asal-usulnya saja tidak jelas." ucap Ranti sedikit menaikan nada bicaranya dengan tatapan menghina dan menyepelekan Nadia.
"Apa maksud Tante?" ucap Nadia, matanya mulai panas dan memerah namun Nadia masih berusaha menahan emosi, kenapa orang tua Ariya malah menyinggung asal-usulnya.
"Kamu saja belum pernah tahu bagaimana rupa ayah kamu. Apalagi dengan kenyataan ibu kamu yang berganti-ganti pasangan kawin-cerai, apakah kamu yakin kalau kamu keturunan baik-baik?"
'Deg'
Air mata yang ditahan menetes lolos begitu saja. Telinganya terasa berdenging dan panas. Dadanya bergemuruh, nyeri dan sesak berbaur menjadi satu. Kenapa harus bawa-bawa ibunya.
"Mah! Cukup Mah!" Ariya sedikit menaikan nada bicaranya.
"Ariya!" Suara Ayah Ariya menggema di seisi ruangan, menandakan bahwa tidak boleh ada yang menyela pembicaraan. Pak Wijaya tidak suka apabila Ariya bertindak tidak sopan pada ibunya.
"Bagaimana jika kenyataannya kamu adalah anak haram? Bisa hancur reputasi keluarga saya. Jangan kamu pikir dengan mendekati anak saya kamu bisa panjat sosial! Saya tidak akan membiarkannya! Dengar ya! Pantang anak saya memakai barang murahan!" Hardik Ranti yang mencaci Nadia sambil menunjuk-nunjuk Nadia.
"Cukup Tante!" Nadia berdiri sudah tidak kuat lagi mendengar semua hinaan.
"Bila memang Tante tidak merestui bilang saja. Tidak perlu menghina apalagi menghina Ibu saya. Saya mengerti, sangat mengerti dan lebih mengerti ternyata pendidikan bagus tidak bisa menjamin akhlaknya juga bagus." Nadia meraih tasnya dan berlalu pergi meninggalkan kediaman Ariya.
Ariya menyusul Nadia berusaha menahan Nadia.
"Nad, Nadia tunggu." ucap Ariya berusaha menghentikan. Namun Nadia terus berlalu meski berada di bawah guyuran hujan.
"Nadia" Ariya akhirnya dapat meraih tangan Nadia. Nadia pun berhenti, Nadia tampak kacau pakaiannya mulai basah, air matanya tidak bisa berhenti bahkan matanya mulai sembab dan hidungnya pun memerah dan sedikit bengkak. Nadia menatap Ariya dengan tatapan kesedihan dan kekecewaan, Nadia melepas cincin di jari manisnya kemudian melemparkannya ke dada Ariya.
"Kita Putus!"
...
__ADS_1