Takut Menikah

Takut Menikah
Berakhir dengan indah


__ADS_3

Mobil Willam memasuki sebuah halaman rumah yang cukup besar setelah seorang penjaga keamanan membukakan pagar.


“Ini rumah siapa?” Karenina merasa sangat asing, dia belum pernah mendatangi rumah ini sebelumnya. “Rumah kamu juga?” tanyanya lagi. William tidak menjawab apapun, dia turun dan menarik lembut Karenina keluar dari mobil.


“Kau akan tahu” jawabnya singkat. Walaupun masih kesal, Karenina tetap mengikuti langkah William.


Mereka sampai di depan pintu utama rumah itu, William mengetuk pintu dengan sopan lalu seorang pelayan wanita membukakan pintu.


“Tolong panggilkan Ririn”, mata Karenina membulat menatap Willam dengan mulut yang menganga saat William menyebut sebuah nama yang baru beberapa saat tadi di ketahuinya adalah masa lalu kekasihnya 


“Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut” katanya dengan tegas melihat reaksi Karenina yang sudah bisa dia duga.


William menarik tangan Karenina masuk ke dalam dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu, beberapa saat kemudian Ririn berjalan turun dari tangga, di belakangnya ada Ibunya yang juga ikut menemuinya.


“Will...” katanya dengan wajah secerah mentari pagi. Ririn berlari kecil dan secepat kilat memeluk William dengan senyuman licik ke arah Karenina.


‘Aku kan sudah bilang, gadis kampungan ini tidak ada apa-apanya di bandungkan aku’, katanya dengan bangga.


Tapi sepertinya Ririn terlalu percaya diri, William melepaskan tangan Ririn dengan kasar membuat wanita itu dan Ibunya terkejut.


“Berikan ponselmu”, kata William yang terdenngar sangat menakutkan, William seperti ini yang seperti Karenina lihat saat awal pertemuan mereka.


Ririn dan ibunya saling pandang, kenapa William meminta ponselnya. Sedangkan Karenina hanya bisa terdiam menyaksikan sebuah drama horor di depannya.


“Kau mau aku yang mengambilnya sendiri”, suara William masih terdengar normal tapi tetap menakutkan bagi Karenina.


“Nak William, silahkan duduk dulu. Ada masalah apa antara kalian, mari kita bicarakan baik-baik”, pandangan William beralih menatap wanita yang mungkin seusia ibunya. Tatapan matanya yang tadinya seolah akan menerkam mangsanya seketika melunak.


“Maaf Tante, tidak ada masalah apapun. Aku hanya ingin melihat ponselnya sebentar saja” kata William dengan sopan. Ibu Ririn melirik lirik memberi tanda untuk segera memberikan ponsenya pada William. Dengan kesal Ririn berjalan ke arah tangga menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya.


Ririn menyodorkan ponselnya pada William, “Buka”, kata William saat menyalakan ponsel Ririn yang terkunci.


William berdecih saat layar ponsel itu menampilkan fotonya yang memeluk Ririn dengan mesra, “Ini yang kau lihat?” tanya nya melirik Karenina, wanita itu memalingkan wajahnya merasa sangat malu pada semua orang yang berdiri di depannya.

__ADS_1


‘Kenapa harus membawaku melihat situasi ini sih, biarkan saja aku marah sebentar, kalau otakku sudah berfikir dengan jernih aku pasti akan memaklumi. Aku malu sekali pada mantanmu dan ibunya, mereka pasti berfikir aku ini sangat cemburuan, walaupun memang sih aku cemburu setengah mati’.


“Kau puas?” kata William menatap Karenina dengan kesal. Wanita itu hanya bisa menundukkan kepalanya, malu.


Semua foto yang ada dirinya di dalam ponsel Ririn sudah terhapus, setelah itu William mengembalikan ponsel itu kepada Ririn.


“Aku harap calon istriku tidak akan melihat fotoku denganmu lagi”, Ririn dan Ibunya kembali saling pandang, ‘calon istri?’.


“Aku dan wanita di sampingku ini akan segera menikah, jadi jangan berani-beraninya kau menganggunya”.


“Tidak Will, kau tidak bisa melakukan ini padaku. Kau harus memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku”, pinta Ririn dengan memelas. “Aku masih sangat mencintai kamu, maafkan aku”, lanjutnya lagi di sertai dengan air mata yang mulai menetes. Karenina bisa melihat air mata itu tidak di buat-buat. Wanita yang sedang menangis di depannya itu memang sungguh-sungguh mencintai William.


“Ririn”, Ibunya memeluk anaknya yang sedang menangis, hatinya ikut sakit melihat anak satu-satunya mengemis cinta pada laki-laki yang berhati dingin seperti William, pandangan wanita itu lalu tertuju pada Karenina. Dengan tajam dia menatap Karenina.


“Sudahlah, banyak laki-laki di luar sana yang lebih baik darinya. Jangan merendahkan dirimu seperti ini”, katanya memberi kekuatan pada putri kesayangannya.


“Aku rasa kau yang paling tahu kalau Ibumu sangat benar, di luar sana memang sangat banyak yang lebih baik dariku. Bukankah dulu kau sudah menemukan yang lebih baik dariku” kata William sarkas.


“Kami permisi”, William menarik tangan Karenina keluar dari rumah itu. karenina sempat berbalik dan melihat dua wanita itu sedang menatapnya dengan penuh kebencian.


Karenina merasa takut sekaligus malu masuk ke dalam mobil William. Dia benar-benar sudah membuat kekacauan dengan kecemburuannya. Tapi wajar sajakan dia marah melihat kekasihnya memeluk wanita lain walaupun itu hanya sebuah foto lama.


“Maaf”, kata Karenina berusaha mencairkan suasana yang sangat tidak nyaman di dalam mobil.


“Maaf untuk apa?” tanya William.


“Kau marah?” Karenina balik bertanya.


“Marah kenapa, apa ada hal yang membuatku marah?” Karenina mengerucutkan bibirnya, sepertinya William benar-benar marah padanya.


Mobil william memasuki basement apartemenya. Karenina ingin menolak untuk ikut ke dalam apartemen William tapi dia takut untuk mengatakannya, akhirnya dia mengikuti langkah William menuju lift yang akan membawa mereka ke unit apartemen William.


Karenina membuka lemari es dan mencari sesuatu yang bisa dia minum sementara William masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


‘Huft, harusnya tadi aku minta turun saja di tengah jalan. Kenapa malah ikut masuk ke dalam apartemenya. Kalau dia membunuhku di sini bagaimana’.


Sementara Karenina sibuk dengan pikiran-pikiran konyolnya, bel di apartemen berbunyi. Karenina terpaksa membuka pintu setelah melihat ke arah kamar William tidak ada tanda-tanda laki-laki itu akan keluar.


Seorang pelayan restoran di apartemen itu datang membawa dua kantong besar makanan. Karenina mengambilnya dan mengucapkan terima kasih pada pelayan itu.


“Walaupun sedang marah kau tidak lupa makan juga ya”, Karenina mengatur makanan itu di atas meja makan, tepat setelahnya William keluar kamar dengan pakaian yang lebih santai.


“Will, ayo makan”, Karenina melupakan dirinya yang marah dan cemburu buta tadi, dia merasa harus mengambil hati William agar laki-laki itu tidak marah lagi padanya.


William menarik kursi di samping Karenina, wanita itu dengan sigap mengisi piring William dengan nasi dan lauk pauknya setelah itu mengisi piringnya sendiri. Karenina makan dengan lahap, setelah tadi makan dengan terpaksa.


William meliriknya dan tersenyum kecil. ‘Senang rasanya melihat mu makan dengan lahap seperti itu’.


“Makanannya enak?” tanya William lembut, Karenina mengangguk lalu terdiam sesaat dengan makanan di mulutnya.


“Kau sudah tidak marah?” tanyanya setelah menelan makanan yang barusan dia kunyah sampai hancur.


“Dari tadi kau bertanya terus, memangnya aku terlihat seperti orang marah?” Karenina mengangguk dengan cepat.


William menghabiskan makanan yang tersisa di piringnya, “Aku tidak marah padamu, hanya kecewa saja karena kau tidak percaya padaku”.


Karenina memasang wajah lemas mendengarnya, William memang sudah mengatakan bahwa dia dan Ririn sudah berakhir sejak lama tapi tetap saja dia tidak percaya.


“Maaf”, William mengusap lembut rambutnya.


“Sudahlah, habiskan makananmu baru aku akan mengantarmu pulang” kata William.


“Tapi aku belum mau pulang”, William menaikkan sebelah alisnya.


“Kau mau tinggal disini bersamaku”, katanya menggoda Karenina.


Karenina menggeleng, “Ajak aku jalan-jalan”, katanya dengan manja. William tertawa lalu kemudian mengangguk. 

__ADS_1


Pertengkaran yang melelahkan akhirnya berakhir dengan indah.


__ADS_2