TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Kiriman Pengacara.


__ADS_3

Kami dilarang pergi dan susana semakin kaku, sementara kedua ayah mertuanya bang Firman sudah emosi tingkat tinggi.


"saya tidak perduli dengan anak dan istrimu itu, kamu pergi dari rumah ku dan sini dompet mu dan juga handphone mu."


Kak Shela mengambil tas kecil yang disandang oleh bang Firman dengan cara paksa.


Mengambil dompet dan mengeluarkan KTP dan juga SIM nya, lalu dilemparkan ke arah bang Firman.


"Sesuai dengan perjanjian pranikah kita, bahwa semua harta Ku dan anak kita ini tidak pernah menjadi milik mu."


Kak Shela membanting handphone milik bang Firman hingga handphone itu terbelah dua, dan mengoyak tas kecil itu.


"Berhubung sewa rumah itu sudah berakhir besok, dan suruh istri dan anak mu pergi dari sana."


Dengan emosi yang meluap-luap kak Shela berkata demikian, lalu meraih handphone.


Dari percakapan melalui handphone nya itu, menyuruh seseorang untuk segera mengunci rumah dan tidak memperbolehkan bang Firman masuk ke rumah itu.


Selesai menelpon dan kemudian menelpon orang lain lagi, dan kali ini meminta agar rumah kontrakan yang dimaksud agar segera di kosongkan karena mau di gunakan sebagai gudang.


"ingat ya bangsat, semua pakaian mu serta barang-barang mu yang lain. saya yang membeli itu.


tak satupun yang bisa kau ambil, sini jam tangan mu dan juga sepatu yang kau pake itu serta jaket itu."


Sangat sadis karena kak Shela mengambil paksa jam tangan yang dikenakan oleh bang Jepri.


Demikian juga dengan sepatu dan juga jaketnya.


Lalu melemparkan semua barang yang di ambil nya dari bang Firman.


Sepertinya ada yang menghubungi handphone kak Shela dan langsung menjawab panggilan itu.


'biarkan aja dia mati, siapa suruh dia mencuri anjing ras yang galak.'


Hanya itu terdengar dari mulut kak Shela, lalu menutup panggilan telepon itu, kemudian menatap bang Firman.


"mungkin itu istri pertama mu, di gigit anjing bulldog ketika hendak mencuri di klinik hewan.


kaki kirinya hampir putus di gigit anjing bulldog itu, tapi tenang aja sudah dibawa ke rumah sakit kok, paling kaki istrimu itu akan di potong."


Kepanikan itu semakin menjadi-jadi dan jelas terlihat dari raut wajah bang Firman.


"kak Aulia, saya serahkan pria parasit ini untuk Mu, kakak harus mengetahui kalau pria parasit ini tidak memiliki apapun, jika mengaku mempunyai rumah, itu adalah bohong.


Silahkan dibawa kak, karena...."


"tidak akan Shela, saya juga ngak butuh pria parasit ini, saya ikhlas membayar cicilan hutang gadai SK itu.

__ADS_1


Jangan pernah lagi datang ke rumah, dan sampai ketemu di pengadilan."


Ujar kak Aulia dan mengajak kedua putrinya serta kedua orangtuanya untuk pulang.


"ini semua gara-gara kau bang Damar, kau memintaku untuk membawa si idiot ini dan lihat semua jadi berantakan.


Saya ngak mau tahu, kamu harus bertanggungjawab."


"kok aku, ini gara-gara Bernat lah. ngapain dia mencari-cari si idiot ini?


Kamu mintak ganti rugi sama Bernat dong, masa sama aku."


Bang Firman dan bang Damar berdebat dan saling menyalahkan satu sama lainnya, terlihat kak Shela tersenyum ke arahku.


"benar kata kakak kan Bernat, mereka-mereka tidak ada yang ikhlas merawat Jepri.


bawa pulang abang mu, dan semoga kamu terhindar dari parasit seperti mereka.


Cukup kakak aja yang menjadi inang parasit, dan sudah kakak basmi."


Ucap kak Shela yang akhirnya memperbolehkan kami pulang, segera aku raih tangan bang Jepri yang sudah tidur di samping ku dan akhirnya terbangun.


"tanggung jawab kau Bernat, gara-gara kau semua kacau seperti ini."


"eh anjing, sadar diri kau parasit...."


"terimakasih ya Bernat, karena kamu. kakak terhindar dari pria parasit ini."


Aku hanya mengangguk dan mengajak pak Bima dan rekannya untuk pulang.


Kami naik mobil meninggalkan rumah kak Shela.


Sepanjang perjalanan tiada hentinya pak Bima bicara mengenai kejadian yang barusan terjadi.**


Alarm berbunyi dan aku segera melihat ke samping dan ternyata bang Jepri masih tertidur pulas.


"syukurlah kalau abang masih disini."


Bicara kepada diri sendiri, karena takut bang Jepri pergi lagi.


Segera aku bangunkan untuk segera mandi, sementara aku mempersiapkan pakaiannya dan menunggu nya selesai mandi.


Bang Jepri sudah siap untuk beraktivitas seperti biasanya dan aku mengajaknya untuk sarapan bersama ketiga karyawan yang di rumah ini.


Karyawan yang menjadi sahabatku dan juga keluarga Ku.


Saat kami sarapan terdengar suara ketukan pintu, dan Juna langsung bergerak untuk melihat tamu yang mengetuk pintu itu.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian Juna sudah tiba di meja makan ini dengan raut wajahnya yang sedikit cemas.


"didepan ada lima pria dewasa bang, katanya pengacara dari dokter Damar."


"iya udah, biar abang aja yang menghadapi. lanjutkan makan aja, karena abang sudah siap makan."


Lalu berjalan ke arah ruang tamu, dan kelima pria itu langsung berdiri menyambut Ku.


"apa yang bisa saya bantu pak?"


"kenalkan saya Rifai dan ini semua rekan-rekan saya, maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk menyampaikan somasi sekaligus negosiasi kepada pak Bernat."


"somasi? untuk apa pak? karena saya merasa tidak pernah merugikan orang lain atau merampas hak orang lain."


"bukan itu pak Bernat, kami datang ke sini adalah mengenai perwalian dari Jepri.


klien kami juga menginginkan perwalian dari Jepri."


"kenapa bang Jepri butuh perwalian pak? emangnya ada apa dengan bang Jepri?"


"katanya idiot, dan butuh perwalian."


"tutup mulutmu kotor mu itu, abang ku tidak idiot, anda semua dan klien anda yang idiot. saya tidak somasi anda.


Pergi dari sini sebelum saya teriak maling, biar para warga disini mengajar kalian.


pergi......


pergi....."


Aku mengusir mereka karena mengatai bang Jepri idiot, abang ku tidak idiot, dia jenius dan hanya memerlukan kasih sayang ku aja.


Mendengar suara teriakan ku, keluarga dan sahabat-sahabat ku yang sedang sarapan di dapur langsung menghampiriku di ruang tamu ini.


"Damar menginginkan perwalian bang Jepri, kenapa mereka selalu mengganggu?"


"sabar ya bang Bernat, bila perlu kita menggandeng pengacara aja.


Juna mengenal pengacara hebat dan berkualitas tinggi di daerah sini, karena kami satu pengajian."


Ujar Juna yang berusaha menenangkan hati ini, dan segera aku memeluk bang Jepri.


Abang ku satu-satunya yang memanggil ku dengan panggilan adek.


Lalu aku berangkat ke kantor, sementara bang Jepri bekerja di rumah ini bersama ketiga sahabat itu.


Sesampainya di dalam ruangan, Tiara menghampiriku dengan membawa surat dan beberapa dokumen yang harus aku tandatangani.

__ADS_1


__ADS_2