TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Bang Jepri Siuman.


__ADS_3

Lalu kami di hampiri seorang perawat perempuan yang membawa berkas dan kemudian diserahkan kepada dokter itu.


"apakah bentol-bentol itu dan ruam itu bisa hilang dok? dan kenapa bang Jepri seperti tertidur pulas gitu?"


"kulit pasien sangat sensitif terhadap cat silver itu, sehingga membuat iritasi pada kulit, bentol-bentol serta ruam.


Bentol merah itu berair karena efek dari cat, dan campurannya yang masuk ke tubuh melalui pori-pori kulit.


Tadi kami sudah memberikan bentol-bentol merah itu serta ruam, dan juga sudah menyuntikkan vitamin serta antihistamin untuk memblokir histamin oleh tubuh yang menjadi pemicu kemunculan bentol dan ruam itu.


Obat yang disuntikkan secara langsung kepada pasien, terdapat penenang agar pasien bisa tertidur dan tidak menggaruk kulit nya yang bisa menyebabkan kemerahan.


Setelah infus habis, baru pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap.


Kemudian nanti tambah infus dengan tambahan obat melalui cairan infus, jika pasien sudah siuman, lalu di beri makan dan tambahan obat.


Mudah-mudahan tidak ada komplikasi lain pada pasien, dalam dua hari ini pasien harus rawat inap.


Untung aja pasien sudah mandi sebelum dibawa ke sini, kalau tidak akan semakin iritasi pada kulit.


Tentunya kami akan kesusahan untuk membersihkan kulit pasien.


Setelah habis infus berikutnya, nanti kami akan melakukan pengecekan ulang.


apakah sudah paham bapak?"


"saya rasa sudah cukup dan saya sangat menginginkan perawatan medis yang terbaik untuk abang saya dokter."


"baiklah pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin.


Saya mau tanya pak, sudah berapa hari pasien tidak makan?"


"kenapa dokter bertanya seperti itu?"


"Dehidrasi dan lambungnya seperti mengeluarkan aroma asam yang kuat melalui pernafasannya, ketika memegang perutnya. pasien mengalami kesakitan yang luar biasa.


Infus itu sepertinya bekerja dengan baik pak, sehingga membuatnya tenang.


Setelah siuman nanti, tolong diberi makan yang lembut dengan kadar garam yang ringan."


"seperti bubur ayam atau bubur sumsum?"


"lebih baik bubur ayam aja dan tanpa penyedap rasa dan garam yang minim."


Segera aku menghubungi Riyan, untuk membawa makanan untuk kami dan juga bubur ayam serta pakaian ganti.


Infus sudah habis dan langsung digantikan dengan infus yang baru, beberapa suntikan masuk ke botol infus itu.


Perawat langsung membawa bang Jepri ke ruang rawat inap dan mempersiapkan semua keperluan medis.


Tentunya ruangan VIP, sesuai dengan jenis asuransi bang Jepri dan setelah sampai di ruang rawat inap, perawat langsung mempersiapkan peralatan medis serta hal lainnya.

__ADS_1


"pasien masih belum siuman karena masih pengaruh obat penenang, kalau pasien sudah bangun atau jika membutuhkan medis, silahkan tombol itu dan petugas kami akan segera datang.


kalau begitu kami pamit ya pak, untuk mengurus pasien lain."


Perawat itu sudah pergi, dan tinggal aku bersama bang Jidan di ruang rawat ini.


"Sudah keterlaluan dan kita harus bertindak Bernat."


"tahan aja dulu bang, kita harus menunggu sampai bang Jepri sadar dan catatan medisnya keluar."


"oke......


perlahan saja, abang sambil kerja di sini ya."


"silahkan bang, kalau mau pulang juga silahkan, terimakasih ya bang."


"ngaklah Bernat, abang nunggu adik-adik mu datang. dan abang selalu mendukungmu."


Bang Jidan bisa menenangkan pikiran ini untuk sementara, perkaranya yang menyejukkan mampu membuat hati ini tenang.


Tidak berapa lama Riyan dan Togu sudah tiba di ruangan ini, dan membawa pesanan Ku.


"Togu sama Juna harus suite bang, karena kami berdua juga ingin menjenguk bang Jepri, tapi Togu yang menang.


Abang-abang dah pada makan belum?"


Ujar Togu, lalu bang Jidan langsung menyambar bontot makanan yang dibawa oleh Togu dan Riyan.


Tapi masakan Riyan yang enak membuat kami berdua rela menunggu disini."


Riyan hanya tersenyum mendengar ucapan dari bang Jidan, lalu kami makan bersama-sama.**


Tidak berselang lama setelah bang Jidan pulang, akhirnya bang Jepri siuman juga.


"lapar dek...."


Bang Jepri yang sudah bangun dan langsung mintak makan, sesuai dengan pesan dokter kalau bang Jepri harus diberikan makan dengan makanan yang lembut.


Antara kelaparan atau enaknya masakan Riyan, bang Jepri melahap semua makanannya.


Selesai makan lalu aku menekan tombol yang ada diatas ranjang, beberapa menit kemudian datanglah dokter laki-laki yang didampingi oleh dua perawat perempuan.


Dokter yang didampingi oleh satu perawat memeriksa seluruh tubuh bang Jepri, sementara perawat yang satunya lagi meriksa infus bang Jepri.


"apakah pasien sudah makan pak?"


"sudah dok, tadi makan bubur ayam seperti pesan dokter di IGD."


"banyak makan atau ada yang di muntahkan?"


"lumayan banyak dokter dan sampai saat ini belum ada muntah."

__ADS_1


"bagus...."


Jawab dokter itu, lalu memeriksa perut bang Jepri.


"apakah perut mu masih gembung atau merasa hal lain?"


"n....g....a.......k ...... dokter, su....dah enakkan. boleh aku pulang sama adek?"


"mohon tunggu dulu ya, adek mu akan tetap disini sampai kamu benar-benar kuat."


Aku memegang tangan bang Jepri, dan dia tersenyum kepadaku.


Lega rasanya karena akhirnya aku melihat senyuman itu lagi.


"kemajuannya bagus dan mudah-mudahan semakin membaik, untuk saat ini kami hanya memberikan dua obat saja di tambah suntik di infus, untuk mempercepat pengeringan ruam pada kulit."


Selesai sudah dokter dan dua perawat itu bertugas dan langsung pamit keluar dari ruangan rawat ini.


"kok bang Jepri bisa seperti ini bang? apa yang abang lakukan disana?"


Riyan yang bertanya kepada bang Jepri dan segera aku raih handphone ku untuk merekam pernyataannya.


"uhmmm........ b....e....gitu.....


makan susah, b....e....ras pun tak da. a......Ir nya payah.


Nimba s.....u....mur dulu, su.....su.....dah gitu keruh dan ba.......u.....


Abang d......i...... suruh ke lampu me.....rah.....


Kaa..aaaa tanya untuk cari uuuuuang...."


"dah berapa hari lah abang ngak makan? ngak rindu abang masakan Riyan?"


Seketika bang Jepri langsung meneteskan air matanya karena di singgung masakan Riyan.


Seperti biasa bang Jepri selalu request makanan ke Riyan, mungkin itu yang membuat nya meneteskan air mata.


Bang Jepri masih diam, lalu Riyan meraih tangan Jepri.


"Abang tahu ngak, Riyan semangat masak nya karena permintaan dari abang.


Karena makanan yang abang request itu, sehingga Riyan repot mau masak menu apa.


Bang Jepri kan tahu sendiri, kalau semua abang-abang yang di rumah di tanya mau di masak dan jawabannya hanya terserah.


Mana ada menu makanan terserah, bingung kadang-kadang bang Jepri.


Ngak ada lagi kawan ke pasar, dan ngak ada kawan Riyan memilih buah-buahan yang segar.


Bang Jepri rindu ngak sama Riyan?"

__ADS_1


Awalnya bang Jepri tersenyum mendengar ucapan dari Riyan tapi akhirnya meneteskan air matanya lagi.


__ADS_2