TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Hasil Otopsi.


__ADS_3

Bang Jidan menerima dokumen itu dan kemudian menatapku lagi.


"alergi akut sampai menyerang organ dalam Jepri, seperti ginjal, pangkreas dan lainnya, iritasi kulit yang menyebabkan ruam dan bentol-bentol merah dan akhirnya infeksi karena tidak mendapatkan perawatan medis.


Ditambah lagi pengecatan ulang terhadap kulit yang sudah luka, dan menyebabkan iritasi semakin banyak dan infeksi.


penyebab utamanya adalah cat silver itu, uji laboratorium terhadap darah, dimana cat silver sudah memasuki tubuh dan menyerang sel darah merah yang membuatnya berubah warna.


Pemicu utama nya adalah zat kimia berbahaya pada campuran cat silver itu, yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah dan menghambat peredaran darah.


Asam lambung yang tinggi, dikarenakan beberapa hari ini Jepri tidak makan.


Asam lambung itu mengiritasi lambung, dan sudah naik sampai ke ulu hati.


Dari hasil otopsi lambung, tidak terdapat apapun jenis makanan yang akan di cerna oleh asam lambung.


Intinya asam lambung yang berlebihan membuat pembuluh darah di area lambung pecah.


Itulah kenapa Jepri sempat mimisan dan mengeluarkan banyak darah dari hidung nya serta dari mulutnya dan juga kejang-kejang, yang disebabkan tekanan asam lambung yang tinggi dan menyebabkan pembuluh darah pada lambung pecah.


Semua laporan hasil otopsi dan penyebab kematian almarhum sudah lengkap dan kita bisa mengadukan penggugat."


"silahkan bang, dan mereka wajib menanggung akibatnya, Bernat ngak ikhlas jika mereka masih berkeliaran tanpa mendapatkan hukuman.


Mereka harus membayar akan apa yang telah mereka lakukan."


"om mendukung mu Bernat, hukum mereka semua, om kamu ini ada untuk mu."


Ujar om Bayu, begitu yang lainnya untuk mendukung ku.


Mereka adalah saudara kandung Ku dan juga ayah kandung kami sendiri, tapi tega berbuat seperti ini.**


Pagi hari kami sudah selesai sarapan, om Bayu dan ibu Dian serta keluarganya masing-masing sudah pulang ke rumah nya, karena ada keluarga yang menunggu serta pekerjaan.


Bersama Riyan, Togu dan juga Juna. kami pergi ziarah ke makam Jepri.


Ternyata disana sudah ada Tiara, kepala bagian keuangan kami, mak Lisa, Sion, Lamhot dan juga yang lainnya yang berziarah ke makam bang Jepri.


Satu persatu dari mereka memelukku dan terus menerus menguatkan diri ini.


Kami yang disini dipertemukan karena pekerjaan, tapi sudah seperti keluarga. berbeda dengan keluarga sendiri, mulai bang Jepri kritis di rumah sakit, dan sampai sekarang hingga dimakamkan.


Tidak satupun diantara mereka yang datang, minimal ziarah kemari setelah bang Jepri di makamkan.


Selesai ziarah, ketiga adik-adik ku ini langsung mengajakku pulang dan memintaku untuk istrihat.


Sesampainya di rumah, mereka bertiga menghampiri ku yang berada di kamar, dan Riyan membawa jamu yang katanya sebagai penambah tenaga.

__ADS_1


"semuanya sudah di urus kak Tiara ya, segala masalah biayanya.


Sisanya sudah di urus oleh bang Jidan, dan Togu meminta ke bang Jidan untuk datang besok kemari.


biar abang bisa istrihat hari ini, pokoknya abang harus istrihat hari ini dan jangan pergi kemana-mana."


"benar kata Togu bang, dan jamu itu akan membantu abang bisa tidur lelap.


Abang istrihat ya, kali ini aja abang nurut sama kami ya.


Cukup sudah abang kerja keras selama ini, tolong luang waktu untuk diri sendiri.


Jika bukan abang yang menghargai diri abang sendiri, lalu siapa lagi?


ingat ya bang, kami bertiga akan berjaga-jaga disini, untuk memastikan bang Bernat istrihat."


Begitulah ocehan dari Riyan, dan aku hanya mengangguk setuju. lalu mereka meninggalkan ku di kamar ini.


Dikamar ini sendirian, dan pikiran melayang entah kemana.


Sejenak teringat kalau bulan depan sudah genap sudah usia Ku dua puluh sembilan tahun.


Sejak umur delapan tahun, sudah harus kerja demi keluarga hingga umur yang sekarang yang sudah hampir berkepala tiga.


Tidak ada waktu untuk diri sendiri, semua demi keluarga.


Pantas aja jomblo, alias masih sendiri di usia yang hampir dua puluh sembilan tahun.


apa itu cinta? bahkan aku tidak waktu untuk meraba yang namanya cinta.


Pendidikan hanya tamatan sekolah dasar, dan emangnya ada gadis yang bersedia menjadi istriku dengan status pendidikan yang rendah?


Entahlah....


Jodoh itu di tangan Tuhan, tapi harus dicari dan tidak mungkin datang begitu saja seperti angin.


"Bernat....... Bernat..... Bernat......"


Siapa lagi yang memanggil Ku, dan suara kegaduhan terdengar di ruang tamu.


Lalu aku keluar dari kamar dan menuju ruang tamu, dan sudah ada dua orang perempuan bersama anak kecil.


"Bernat masih ingat sama kakak? saya kak Reva, istri abang mu si Damar.


kita kan sudah pernah ketemu waktu mau jual rumah ini. ingat kan?"


"saya malas mengingat nya, tujuan kalian datang kemari apa?"

__ADS_1


"mari kita duduk dulu, kakak pegal menggendong ponakan mu ini."


Ujar kak Reva, yang menggendong bayi. lalu siapa perempuan yang satunya ini lagi? perempuan yang datang bersama dua anak kecil, satu laki-laki dan satunya lagi perempuan.


"abang mu si Damar sudah di penjara, tadi malam di angkat polisi di rumah.


Kakak baru mengetahui kalau kakak adalah istri keduanya, dan mbak ini istri pertama abang mu.


Nama mbak siapa?"


"nama saya Clara, dan ponakan mu yang laki namanya Arun dan yang perempuan Ica"


"Riyan.....


tolong ambil berkas abang dek, tas ransel berwarna biru ya."


Aku butuh berkas itu, karena seingat ku dulu saat mentransfer uang untuk bang Damar, selalu atas nama Clara, ketika aku tanya bang Damar dan jawab nya bahwa nama itu adalah administrasi kampus.


Riyan sudah menghampiri kami dan memberikan tas ransel tersebut.


Langsung ku buka dan mengambil map yang berisikan bukti transfer selama ini.


"ini nomor rekening kakak ya?"


Istri pertama nya itu memperhatikan bukti transfer itu, dan kemudian mengganguk dan terlihat dari raut wajahnya yang terlihat bingung.


"apa kakak selalu menerima transferan uang setiap bulan nya?"


"iya...


kan wajar, seorang suami yang menafkahi anak dan istri nya.


Abang mu itu tidak mengijinkan kakak kerja dan otomatis abang mu itu wajib menafkahi kakak dan ponakan mu ini."


Ujarnya dan istri pertama dari bang Damar menjawabnya dengan santai.


Buset dah.......


Ternyata beberapa tahun terakhir ini, aku juga yang menafkahi istri bang Damar.


Alasannya karena bang Damar belum di gaji walaupun sudah menjadi dokter muda.


Rutin setiap bulan mengirim uang dan di pertengahan bulan minta uang tambahan dan rekening atas nama bang Damar.


Berarti kiriman di awal bulan untuk bang Damar, dan pertengahan bulan untuk bang Damar sendiri.


Aku seperti sapi perah untuk Damar, dan ini baru bang Damar, bagaimana dengan bang Firman serta bang Anggi?

__ADS_1


Entahlah....


Benar-benar syok saat mengetahui keadaan yang sebenarnya.


__ADS_2