TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Kabar Bahagia.


__ADS_3

Sesampainya di rumah, bapak dan ibu mertua tidur bersama Sandro di teras rumah bagian belakang karena cukup adem dan nyaman.


Sandro berada di dalam kelambu jaring berwarna putih itu, sementara kedua mertuaku tidur di samping kiri-kanannya.


Aku dan istri perlahan-lahan untuk kebelakang agar tidak membangunkan bapak-ibu mertua yang terlihat tidur pulas.


"kalian sudah pulang? dah makan ?"


Tiba-tiba saja ibu mertua bangun dan bertanya dengan nada suara yang pelan, agar Sandro anak kami tidak terbangun.


"sudah bu, oh apa Sandro sudah lama tidurnya?."


"belum, baru aja setengah jam yang lalu sama atok nya.


Gimana kerja samanya, lancar?"


"Alhamdulillah lancar bu, tapi apa ibu dan bapak mengenal bang Antoni?"


"Antoni?"


Bapak mertua terbangun karena mendengar nama Antoni yang baru saja aku sebut.


"pemilik hotel mewah itu kan? bapak mertua nya itu sahabat bapak waktu sekolah, tapi duluan dia menghadap sang Pencipta.


kenapa rupanya? apa cerita lain?"


Seketika itu juga ku langsung mendekat ke arahnya dan meraih tangan bapak-ibu mertua.


"bapak.....


ibu......


Bernat minta maaf karena telah mengirimkan Clara, yaitu istri pertama Damar kemari.


Bernat ngak tau kalau si Clara itu menyusahkan bapak dan ibu disini."


"Bernat......


Bapak tau kalau niat mu sungguh mulia, hanya ingin menyelematkan ponakan mu itu.


Mengira kalau kakak ipar mu, bisa berubah menjadi lebih baik seperti yang kamu harapkan.


Tapi si Clara itu sungguh-sungguh membingungkan dan membuat bapak dan ibu harus dan terpaksa mengusirnya dari sini bersama warga lain.


Jadi perempuan kok ngak ada harga dirinya, setiap suami orang yang terlihat kaya, langsung di godain.


Maaf kalau bapak dan ibu ngak cerita, ngak mau dong menggangu putri dan menantu ku yang sedang berbahagia terganggu karena perempuan itu.


Disini itu ya, bapak dan ibu masih di pandang baik oleh para warga dan tentunya akan di tolong dong.

__ADS_1


Saat ini juga para warga semakin menyanjung bapak dan ibu, karena kamu nak Bernat. bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang buat buat para ibu-ibu disini.


Rata-rata daerah sini, pekerjaan nya hanya lah buruh pabrik dan hanya menerima laki-laki saja, sehingga para istri nganggur.


Sementara saat ini, selain mereka mendapatkan penghasilan yang bisa membantu perekonomian keluarga, serta bisa mendapatkan sayur-sayuran, bumbu dapur, telur ayam, daging ayam dan kekeluargaan yang harmonis.


Untuk apa bapak memikirkan perempuan itu, disini kami sudah berbahagia tanpanya.


Ngak usah terlalu di pikirkan nak Bernat, yang perlu kita pikirkan itu adalah menambahkan lahan peternakan agar bisa merekrut ibu-ibu disekitar sini.


Karena mereka juga ingin kerja disini, agar bisa membantu perekonomian keluarga mereka."


Lalu bapak-ibu mertua tersenyum dan itu membuatku sedikit lebih lega, sementara istriku langsung ke dapur untuk membuat minuman untuk kami.


"Rencananya juga kami akan membuka peternakan lagi, untuk memenuhi permintaan pasar internasional.


Awalnya ragu akan tenaga kerja yang kurang nantinya, tapi bapak berkata kalau sudah tersedia tenaga kerja, ya lanjutkan aja..."


"betul sekali anak muda...."


Sanggah ibu mertuaku dengan luwesnya yang membuat kami tertawa.


"bang...."


Arpin dan Boy menghampiri kami, seraya membawa dokumen yang sudah di jilid rapi dan terlihat tebal.


Lalu Arpin duduk di samping ku dan kemudian Boy menghidupkan notebook nya.


"Arpin dan boy sudah membuat perencanaan pengadaan peternakan kita disini dan kami berdua sudah konsultasi pada bang Riyan, tentang luas tanah yang masih tersedia."


"yoii bang.....


Inilah gambaran yang sudah kami rancang, dan ini lebih luas dari yang sekarang, mungkin nantinya dua kali lipat dari ada sekarang.


Mulai dari pengolahan limbah ternak, lahan pakan dan penyimpanan bahan pakan.


Kami berdua sudah konsultasi kepada kak Risa, kak Naura dan kak Ekavira serta kak Diana.


Kami sama-sama melakukan riset dan kemudian akan menetapkan sistem ini disini, dan juga sudah mempertimbangkan cuaca di daerah sini."


Benar-benar salut akan perencanaan mereka, untuk membuka sayap lebar peternakan ini.


Riyan dan istrinya juga sudah tiba disini dan membawa dokumen juga.


"kami sudah berdiskusi melalui zoom, akan semua rencana ini dan berikut ini adalah dana yang di perlukan bang."


Riyan menyerahkan proposal pendanaan dan itu sangat-sangat rapi dan terlihat profesional banget.


"siapa yang membuat perencanaan proposal pendanaan ini?"

__ADS_1


"Setelah zoom kemarin itu, lalu Riyan dan istri membuat perencanaan itu dan juga sudah aku kirimkan ke email kak Risa agar diberikan ke abang."


"mungkin karena ribet kali ya, makanya abang belum sempat baca."


Riyan dan istrinya hanya tersenyum dan pengadaan ini sepertinya masih bisa di handle.


"Kas dari hasil penjualan produk peternakan kita hanya seratus lima puluh juta rupiah, dan itu sudah di sisihkan biaya pakan, perawatan ternak dan gaji serta bonus para karyawan dua bulan mendatang.


Untuk membantu modal, kemungkinan bisa dipakai setengahnya. karena masih ada bagi hasil bagi penanaman modal."


"tenang....... tenang........


Modal dari pada investor bahkan masih lebih untuk pembiayaan pengadaan ini.


Abang yakin bisa memenuhinya dan bahkan pakan tiga bulan ke depannya serta gaji para pegawai nantinya masih mencukupi dari modal investor kita.


Jika sudah membuka lahan baru, dan mudah-mudahan bisa berjaya dan bisa memenuhi permintaan bang Yusuf di pasaran internasional nantinya.


Kita disini kan masih merintis, dan mudah-mudahan bisa mengimbangi yang di medan agar mereka tidak keteteran untuk memenuhi pasar bang Yusuf."


"siap....."


Karena semangat nya kami berkata siap secara bersama-sama yang akhirnya membangunkan Sandro anak ku dan langsung di gendong oleh istri nya Riyan.


"biar ibu aja yang menggendong, kalian ngobrol aja ya."


"ntar lah bu, biar Naura belajar mengurus bayi. karena saat ini Naura sudah hamil."


Riyan langsung mendekati istrinya dan terlihat sangat terkejut mendengar ucapan istrinya.


"kok ngak bilang sama abang?"


"maaf ya, karena kemarin sore itu baru periksa ke bidan. tapi karena sahabat ku datang dari medan jadi lupa ngabarin nya.


maaf ya bang Riyan sayang....."


Riyan memeluk istrinya dan juga bayiku, setelah mereka puas berpelukan, barulah kami memberi mereka selamat.


Para karyawan lainnya yang kebetulan sedang istrihat langsung berduyun-duyun mendatangi Naura dan mengucapkan selamat kepadanya.


Terlihat Naura tidak mau melepaskan pelukannya dari anakku dan menyalami satu persatu dari para pekerja.


"bapak dan ibu sudah tau?'


"sudah bang, karena bapak dan mama yang menemani Naura ke bidan langganan."


Kebahagiaan kami semakin lengkap, dengan bertambahnya anggota keluarga yang baru.


Keluarga ku yang terbentuk karena saling menyayangi dan membutuhkan.

__ADS_1


__ADS_2