
Hari-hari yang ku tunggu-tunggu akhirnya tiba, yaitu hari pernikahan kami.
Dari rumah ini dan bersama rombongan kami berangkat menuju rumah saudara laki-lakinya calon istri Ku.
Untuk melaksanakan ijab qobul dan lanjut dengan resepsi pernikahan.
Kami telah tiba di halaman rumah calon mempelai wanita ku dan langsung disambut oleh tuan rumah dan rombongan.
Di ruang tamu yang sudah di hias dan disini aku menunggu Risa calon istri Ku dengan perasaan yang tak karuan.
Jantung ku semakin berdebar kencang, ketika Risa sudah tiba di sini.
Cantik, anggun dan begitu mempesona. lalu mamanya meminta untuk duduk disampingnya sementara aku berhadapan langsung dengan penghulu.
"sebentar dulu, ada yang ingin rasa tanya sama calon suamiku."
Sanggah Risa dan kemudian datang mendekati seraya memberikan selembar kertas dan itu merupakan promo sebuah hotel.
"bang.....
Risa sudah memboking hotel di pinggir danau Toba di arah Parapat sana, berikut dengan mobil dan supir nya.
Selesai akad nikah kita langsung ke sana kan untuk malam pertama?"
"Risa......."
Sang calon ayah mertua menegurnya, dan tamu undangan masih menahan tawanya.
"habis resepsi baru kita berangkat ke sana."
"okey lah kalau begitu, laksanakan tugas abang dengan sebaik mungkin ya."
hahahaha hahahaha haha haha hahahaha haha haha hahahaha hahahaha hahahaha
Lagi-lagi kami harus tertawa dan itu bisa membuat ku rileks dan tidak tegang lagi.
Akhirnya selesai juga dan berjalan lancar, lanjut acara adat jawa kemudian resepsi.
Acara resepsi sudah seperti lautan manusia, karena memang aku mengudang seluruh karyawan, kolega dan juga rekan-rekan bisnis serta para tetangga Ku.
Termasuk para tetangga hampir semuanya datang, dan bahagia rasanya karena banyak yang menghadiri pesta pernikahan kami ini.
Jam Tujuh malam acara resepsi harus berakhir dan tamu undangan satu persatu sudah pada pulang.
Risa memang luar biasa dan baru saja selesai resepsi, mobil yang dipesannya sudah tiba di depan ini.
"ayo bang."
"kita ngak pakaian dulu? terus pakaian kita gimana dan siapa mengurus semua ini?"
Togu, Riyan dan Juna langsung menghampiriku, lalu mereka bertiga memelukku satu persatu seraya memberikan selamat kepada ku dan Risa.
"pakaian abang sudah kami taru di bagasi mobil."
"benar itu bang, pakaian istri abang juga sudah masukkan ke bagasi mobil."
__ADS_1
Sahut Diana, yang menyambung ucapan Togu.
"nak Bernat.....
semua ini biar bapak dan adik-adik Mu yang urus, kamu tidak perlu merasa risau.
Tolong bahagia kan anakku dan selamat untuk pernikahan kalian berdua.
Berbahagia lah anakku dan semoga awet sampai kakek nenek nantinya."
"Amin....."
Dengan serentak kami mengamini doa itu dan Risa langsung menarik tanganku untuk masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Risa langsung bersandar di dadaku dan kami berdua masih mengenakan pakaian adat pernikahan.
Mungkin karena kelelahan dan mata ini terasa begitu berat dan pada akhirnya aku tertidur.
Sama-sama aku dengar ada yang memanggil namaku dan ternyata suara itu adalah milik supir yang membawa kami ke tempat ini.
"sudah sampai di hotel bang, silahkan turun dan biar yang membawa koper-koper nya."
"terimakasih ya bang."
Sepertinya Risa masih tidur dan aku menggendongnya untuk masuk ke dalam hotel.
Keluar dari mobil dan dinginnya alam sekitar menusuk ke hingga ke tulang.
Sesampainya kami di ruang dihadapan informasi dan supir yang membawa kami langsung bertanya kamar yang dipesan atas nama ku.
Risa masih tertidur dalam gendongan ku, lalu kami naik lift menuju lantai tiga.
Supir itu langsung meletakkan barang-barang kami dan mempersilahkan ku untuk istirahat.
Setalah mengucapkan selamat berbahagia dan mereka berdua pergi meninggalkan kami di kamar hotel ini.
Dengan pelan-pelan aku meletakkan tubuh istriku ke ranjang dan kemudian menyelimutinya.
Masih berpakaian adat pernikahan kami, dan aku langsung menuju kamar mandi karena merasa seluruh tubuh ini lengket.
Ternyata semua sudah lengkap di kamar mandi ini, ada dua handuk yang dibentuk seperti angsa.
Setelah melepaskan seluruh pakaian Ku dan mulai mengguyur tubuh ini dengan air hangat dari shower.
Lega rasanya dan begitu segar, karena satu harian berdiri di pelaminan dengan menggunakan baju adat dan sedikit makeup.
Badan sudah terasa bersih dan tidak lupa untuk mengeringkannya.
Melilit kan handuk di pinggang dan keluar dari kamar mandi.
"I love you bang Bernat."
"I love to you sayang."
Tubuh ku tiba-tiba di peluk oleh Risa dari belakang dan napasnya tidak teratur seperti habis olahraga.
__ADS_1
"kamu mandi ya."
"iya, tapi bantuan dulu untuk melepaskan pernak-pernik di kepala Risa ya."
Masih memakai handuk dan aku membantunya untuk melepaskan benda-benda itu dari kepalanya.
Tapi istriku ini malah fokus ke bagian bawah ku dan....
"besar juga ya bang, buka dong."
"ntar....
kamu mandi ya."
"iya bang, jangan berpakaian dulu sampai Risa keluar dari kamar mandi."
Risa langsung masuk ke kamar mandi dan tersenyum dan aku duduk di depan meja rias untuk menunggu Risa selesai mandi.
Sebenarnya aku bingung dengan maksud Risa, dan kenapa istriku ini memintaku untuk tidak berpakaian.
Kulihat jam tangan Risa yang terletak di meja, dan ternyata masih pukul sebelas malam.
Tidak berapa lama kemudian, Risa keluar dengan melilitkan handuk di tubuhnya dan rambut nya masih terlihat lembab dan terurai.
Senyuman yang sumiringah dan itu menambahkan kecantikan nya, istri yang centil dan terkadang bersikap aneh.
"bang....."
Risa memelukku dan aku membalasnya, tapi sepertinya Risa menarik ku ke arah ranjang.
Kami berdua sudah duduk di pinggir ranjang dan tatapan Risa yang aneh membuat ku bingung.
"belum pernah mencium cewek ya bang?"
Aku hanya mengganguk dan memang aku tidak mengenal pribadi seorang gadis dan belum pernah terlibat dengan namanya hubungan cinta.
"hahahaha....ha...ha...ha.....
santai aja bang, ngak usah grogi gitu. Risa juga belum pernah pacaran kok.
Tapi tenang, Risa sudah membaca buku kamasutra."
"buku itu mengajarkan apa?"
Risa menertawai Ku, jujur memang aku tidak mengetahui buku yang di maksud oleh Risa.
Kemudian Risa lebih mendekatkan dirinya ke arah dan akhirnya tubuhnya sudah berada di atas tubuhku.
Tanpa kusadari bibir kami sudah saling bertemu dan nikmat juga rupanya.
Tangan kirinya begitu nakal dan masuk kedalam handuk yang ku kenal dan tangan liar nan mungil merabanya.
Jantung ku berdebar-debar dan sulit untuk mengekspresikan apa yang aku rasakan saat ini.
Geli tapi nikmat....
__ADS_1