TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Pengacara Baru Damar.


__ADS_3

Riyan menghapus air mata bang Jepri dan mereka sama-sama tersenyum, karena mereka berdua tersenyum dan kami akhirnya tertawa tanpa sebab.


"berapa kali Riyan hubungi handphone mu bang, tapi ngak aktif. kenapa bang Jepri?"


"di...di.... ambil sama Divo, ka....ka... karena dia tidak handphone."


"Riyan melihat bang Bernat memberikan uang saku ke abang, kenapa ngak jajan aja pake uang saku abang itu?"


"di....di... ambil i....i....bu, untuk membayar h....u....t...ang beras dan kebutuhan dapur lainnya.


Untuk DP motor dan b.....e.....Li handphone ibu."


"gitu ya bang, apakah lanjut konsultasi abang itu? karena kemarin itu seharusnya jadwal abang konsultasi."


"tiiiiidak lanjut."


Ngak kaget sebenarnya, disini aku mendapatkan jawaban yang sebenarnya tentang kemana uang seratus juta yang di gunakan oleh bang Damar.


"bang Jepri, bagaimana dengan konsultasi ke psikolog yang di janjikan oleh bang Damar?"


Bang Jepri terdiam, pasti ada sesuatu yang di tutupi Nya.


"bang Jepri....."


"ti....ti......dak, ta....ta....pi bang Damar janji akan segera membuat abang sembuh."


prak....bram......


Pintu dibuka secara paksa, dan hadirlah bang Damar serta bang Firman yang membawa dua orang laki-laki.


"Kenalkan nama saya Rolex dan rekan saya namanya Yoyo. kami berdua adalah pengacara pak Damar.


Kami datang ke sini untuk melakukan perdamaian atas semuanya dan melakukan kerjasama."


Aneh bin ajaib, dan masih bertanya-tanya tentang kenapa bang Damar mengganti para pengacaranya.


"perdamaian dan kerjasama? maaf tunggu aku panggil dulu pengacara saya.


Nanti bicara saja dengan pengacara saya. Riyan tolong hubungi bang Jidan."


"tunggu dulu pak Bernat, kita disini hendak bicara secara kekeluargaan bicaranya. tidak perlu membawa-bawa pengacara."


Ujar pria yang bernama Rolex itu, dan aku penasaran apa yang ingin disampaikannya.


Aku meminta kepada Riyan agar tidak menghubungi Jidan, dan terlihat pria itu lega.


"apa mau kalian?"


Pengacara itu terlihat berusaha tenang dan seperti sedang berpikir untuk menata kata-kata yang tepat.


"begini pak Bernat, kalian kan keluarga dan tidak seharusnya saling menggugat.


Alangkah lebih baiknya jika berdamai saja, agar tidak yang tersakiti.


Ketika abang-abang mu ingin sekali berdamai dengan mu pak Bernat, janganlah perselisihan diantara keluarga ini."

__ADS_1


"ngak usah berbelit-belit, langsung to the poin aja pak."


"baik pak Bernat....


Clien saya ini berniat untuk mencabut gugatan tersebut, dengan permintaan yang mungkin bisa bapak kabulkan.


Permintaannya sederhana yaitu, meminta bagian harta warisan orangtua kalian.


Jangan tamak pak Bernat, harta kekayaan itu tidak bisa bawa ke alam kubur, dan itu hanyalah hiasan semata di dunia yang fana ini dan keluargalah harta yang sebenarnya.


Berdamai dengan diri sendiri dan itu menyejukkan hati."


"bapak baru menjadi pengacaranya, dan saya yakin kalau bapak tidak paham inti permasalahannya."


"saya paham pak Bernat, saya dan tim sudah sering menangani perkara seperti ini..."


"jika anda paham, coba sebutkan harta warisan mana yang hendak dibagikan dan kenapa warisan itu harus dibagikan?"


"menurut berkas yang saya baca, harta warisan berupa semua lahan peternakan pak Bernat dan juga pabrik."


"tahu dari mana? memangnya anda memiliki dokumen nya?"


Pengacara itu terdiam sejenak dan seperti berpura-pura membuka dokumen yang dibawakan oleh nya.


"saya dan tim adalah pengacara yang jam terbangnya sudah tinggi, jika mengenai dokumen, saya dan tim mudah untuk mendapatkannya.


Tapi untuk apa kita ribut-ribut seperti ini, hanya karena harta warisan pak Bernat?"


Alasan yang tidak berbobot dan sepertinya pengacara ini perlu di kasih paham.


"kalau saya tidak mau, kalian mau apa?"


Pengacara itu sudah terlihat mulai kesal, sorot matanya dan hembusan napas itu sudah menggambarkannya.


"pak Bernat jelas mengetahui kalau ayah kandung kalian akan memenangkan gugatan hak perwalian Jepri.


Jepri sudah banyak menciptakan mesin-mesin yang membantu peternakan anda dan juga pabrik pengolahan daging tersebut."


"apa hubungannya dengan warisan yang klien yang anda gugat?"


"tidak perlulah pak Bernat berpura-pura tidak mengetahuinya.


Baik akan saya jabarkan, agar pak Bernat bisa menelaah kondisi yang sebenarnya.


Jika ayah kandung kalian memenangkan gugatan hak perwalian, maka secara otomatis Jepri akan tinggal bersama ayah kandung kalian.


Tentunya tidak akan tinggal diam melihat semuanya, mulai dari hasil kerja keras Jepri yang hanya anda nikmati seorang diri.


Anda telah memperbudak Jepri selama ini, memeras tenaganya tanpa memberikan upah yang layak."


"sok tau, bapak ini dukun atau pengacara? itu namanya asumsi tidak berdasar pak pengacara, saya bisa menggugat anda atas pernyataan anda yang tidak semena-mena ini."


"saya serius pak Bernat, kita sekarang berada dalam situasi yang pelik. klien saya punya bukti kalau anda hanya memanfaatkan Jepri dan memeras tenaganya."


"saya ngak merasa seperti itu, hanya dan klien anda yang merasakan seperti itu. dan apapun yang di ucapkan oleh bapak atas dikte atau permintaan klien anda, silahkan buktikan."

__ADS_1


"cukup pak Bernat."


Pengacara itu sudah mulai emosi dan sorot mata itu semakin tajam menatap ke arahku.


"kamu akan kehilangan Jepri dan klien saya akan mendaftarkan hak paten atas semua mesin ciptaan Jepri."


"di dunia ini tidak ada yang pasti dan abadi pak pengacara.


Semuanya milik Tuhan, dan bapak pengacara tidak seharusnya membuat dikte seperti itu. seolah-olah kalianlah yang menjadi penentu nasib orang.


Sekarang saya mau bertanya, mesin apa yang sudah diciptakan oleh bang Jepri?


Dan apa dasarnya klien anda untuk mendaftarkan hak paten dari semua mesin ciptaan bang Jepri?


Apa klien anda pernah melihat mesin ciptaan bang Jepri?


saya rasa ngak iya, karena klien anda tidak sudi masuk kandang.


tapi sangat bagus jika klien anda mendaftarkan hak paten atas mesin buatan bang Jepri, dan mudah-mudahan mesin itu bisa membantu masyarakat luas dan kelak bisa dikembangkan.


silahkan lakukan pak pengacara dan saya menunggu kabar baik dari klien anda."


"jangan seperti itu pak Bernat, kalian adalah keluarga."


"benar banget pak pengacara, tapi hanya saya yang menganggap mereka sebagai keluarga dan itu dulu.


Klien anda sudah memutuskan tali persaudaraan kami secara sepihak."


"pamali berkata seperti itu pak Bernat, seperti kata pepatah.


Darah lebih kental dari air..."


"Anda tepat sekali pak pengacara, tapi itu berlaku ketika kita memiliki uang dan ketika saudara kita hendak mengisap darah kita sendiri.


jika tidak maka kita akan di buang, jangankan saudara, Iblis pun menjauh ketika tidak punya apapun.


Saya tidak takut kehilangan apapun, karena memang semua ini adalah titipan dari Tuhan.


Tetaplah pada gugatan kalian, agar hidup ini berwarna pak pengacara.


jangan hanya lurus aja, harus ada belok dan terjal dan itulah tantangan hidup yang sebenarnya."


"Anda terlalu sombong."


"terserah bapak pengacara menilai ku seperti apa, dan itu tidak merubah pendirian Ku."


"jangan tutup telinga mu pak Bernat, saudara mu membutuhkan kamu."


"dulu juga begitu pak pengacara, tapi pada akhirnya mereka membuang kami berdua.


Setelah di buang dan hendak dikutip lagi, saya dan bang Jepri bukanlah sampah yang bisa di daur ulang pak pengacara.


Sampah daur ulang yang siap jual kerena membutuhkan uang secepatnya.


Saya manusia yang masih memiliki perasaan dan harga diri.

__ADS_1


Bapak pengacara tidak perlu berkoar-koar dan menasihati Ku, dan tetaplah pada gugatan kalian."


Pengacara itu berdiri dan menghampiri Damar dan Anggi yang hanya berdiri di dekat pintu masuk.


__ADS_2