TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Mengasingkan Diri.


__ADS_3

Berbagai macam cara bagi mereka untuk mendapatkan uang dari ku, mulai mengirim anak-anak mereka ke rumah dan kantor hingga nongkrong di depan rumah.


Saat ini aku tinggal di salah satu rumah yang aku beli untuk mendiang bang Jepri, rasanya sangat sunyi karena tidak ada ketiga adik-adik Ku yang heboh.


Togu, Riyan dan Juna. biasanya kami berempat sudah nongkrong di belakang rumah, seraya minum kopi dan juga mengganggu anjing peliharaan Togu.


"Bernat..... Bernat....."


"iya bang....."


Suara bang Jidan, pengacara Ku yang sekaligus pengacara usaha ku ini.


"Abang dah makan?"


"belum, mangnya kau dah masak?"


"tadi diantar Riyan bang, kalau nasi sudah aku masak, yuk kita makan bareng."


"ntar ya, kita tunggu dulu teman abang."


Ujar bang Jidan dan kemudian meraih handphonenya, lalu menghubungi seseorang.


"ngak jadi dia datang, katanya mau jemput pacar nya.


yok lah kita makan, dah lapar juga nih."


Karena rekan kerja bang Jidan ngak jadi datang, kami putuskan untuk makan bersama.


"enak memang masakan Riyan ini ya, makanya abang suka makan kemari.


Sama seperti masakan Tiara, enak banget dan abang sangat menyukainya."


"masakannya atau orangnya bang?"


"dua-duanya."


"apa bang?"


Bang Jidan seperti tersipu malu, karena keceplosan ngomong.


"jujur ajalah bang, selain rekan kerja. Bernat sudah menganggap bang Jidan itu sebagai abang ku sendiri.


ngak usah sungkan-sungkan bang, kak Tiara juga bukan orang lain bagiku."


"selesai makan aja kita cerita ya."


Hanya bisa mengganguk setuju dan kami lanjut makan.


Selesai makan lalu membereskan meja, kemudian cuci piring.


Kopi dua gelas sudah tersaji, dan kopi itu adalah buatan bang Jidan.


Kemudian kami berdua duduk di sofa dan aku tersenyum karena melihat bang Jidan yang masih malu-malu.


"sebenarnya abang dah lama suka sama Tiara, tapi gadis itu masih susah untuk ditaklukkan.

__ADS_1


Mungkin karena masih trauma dengan pengalaman keluarganya, tapi syukurnya bou nya abang itu mampu meyakinkan Tiara.


Bou itu adalah panggilan kepada adik perempuan atau kakak perempuan dari pihak bapak ku."


"sudah ada perkembangan hubungan kalian bang?"


"iya....


berkat bantuan bou ku, karena memang abang sudah sangat yakin dengan cintaku terhadap Tiara."


"baguslah bang, kalau itu memang yang terbaik untuk abang.


tapi nanti kak Tiara masih bisa kerja kan? payah aku nanti nyari pengganti nya."


"abang bukan orang yang protektif gitu lah, atau bukan orang yang kaku.


Sejak kecil sampai sekarang, Tiara itu sudah terbiasa bekerja keras.


Lagi pula di dekat kantor nya itu ada tempat penitipan bayi, paud dan TK dan juga Sekolah Dasar sampai SMA.


Swasta dan negeri juga ada, kalau misalkan sudah punya anak nantinya. drop dulu anak dan istri, kemudian abang kerja.


asisten rumah tangga ada, dan bila perlu cari kakak asuh untuk anak-anak nantinya.


Takutnya nanti Tiara akan stres, jika ngak kerja lagi.


Liburan itu enaknya cuman seminggu atau dua minggu, dan mentok-mentoknya sebulan. sisanya pasti bosan dengan rutinitas rumah sehari-hari.


Abang melihat ada keistimewaan karyawan perempuan di tempat usaha mu itu.


Cuti melahirkan anak pertama empat bulan, dan cuti anak kedua dan seterusnya tiga bulan.


Mudah-mudahan Tiara dan mama ku bisa akur nantinya, dan mama nya abang itu sudah terbilang emak-emak yang modern.


Mama dan abang ngak tinggal sama kok, mama di kampung dan kami di kota ini."


"syukurlah....


jadi kapan hari baiknya bang?"


"itulah Bernat.....


Mamak ku dan juga bapaknya Tiara sudah setuju secepat mungkin, terlebih-lebih dengan abang.


tapi kedua adik-adiknya Tiara kembali berulah, yang menginginkan rumah yang ditempati Tiara sekarang.


Tiara begitu kwatir akan menggangu pernikahan kami nantinya."


"apa solusinya bang?"


"abang meminta Tiara untuk mengalah, rumah itu di jual, kemudian dibagi tiga.


Untuk kedua adiknya dan juga biaya hidup bapak mereka.


Kami berdua sudah membuat draft perjanjian pranikah, jika kelak nantinya abang selingkuh maka rumah yang abang tempati sekarang akan jadi milik Tiara, terlepas punya anak dan tidak punya anak.

__ADS_1


Jika punya anak, maka abang harus menafkahi anak-anak dan juga biaya pendidikannya.


Kelak nantinya gaji Tiara itu untuk biaya pendidikan anak-anak dan juga tabungan masa tua kami serta keperluan pribadi Tiara nantinya.


Sementara pendapatan abang untuk biaya kehidupan sehari-hari dan juga biaya hidup kami pribadi.


Abang juga sudah membuat kuasa jual atas rumah tersebut, dan akan berlaku jika abang mengingkari perjanjian pranikah kami berdua.


Sangat bersyukur karena Tiara setuju, karena dia ingin menikah dengan tenang dan membangun keluarga yang bahagia."


"okelah kalau begitu, terdengar konyol alias tidak masuk akal bang, kak Tiara jungkir balik untuk mencari uang.


Tapi begitulah yang terjadi, ini bukan hanya sekali ini terjadi loh bang, terus bagaimana jika mereka melakukan itu lagi?"


"kalau itu sudah abang antisipasi, abang juga sudah membuat perjanjian dengan adik-adiknya itu dan juga bapaknya.


Mereka tidak akan Tiara setelah menjadi istriku, karena Tiara akan menjadi tanggungjawab Ku.


Jika mereka masih tetap menganggu, tentunya abang ngak akan tinggal diam dong. cukup sudah mereka membuat Tiara menderita selama ini."


"good.....


terus kalau sudah dapat solusi seperti itu, kenapa belum menentukan hari baiknya?"


"haaaaa.......


itulah masalah Bernat, adik-adiknya Tiara itu bebal alias keras kepala.


Rumah itu sudah abang tawaran ke klien abang, kesepakatan satu koma tiga milyar dan itu sudah bersih.


Pajak jual beli serta biaya peralihan properti itu ditanggung oleh pembeli.


Tapi kata adik-adiknya itu, abang kongkalikong sama pembelinya, biar dapat uang dari penjualan tersebut.


Katanya rumah itu bisa laku lima milyar rupiah.


Heran abang lihat nya, memang benar rumah itu di komplek mewah.


Luas tanya hanya tujuh kali sepuluh, dengan tipe rumah enam lima.


Tiara membeli rumah itu dari pengembangan hanya enam ratus tujuh puluh lima juta rupiah, berikut dengan biaya notaris, pajak perolehan dan juga pajak pertambahan nilai.


Rumah tersebut baru berumur dua tahun, memang benar bahwa nilai properti itu semakin tahun semakin mahal, tapi ngak lima milyar juga.


gimana menurutmu?"


"ampun DJ......


pening lah bang kalau begitu, calon ipar mu nya itu."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Kami berdua malah tertawa dan tiba-tiba saja bang Jidan menatap ke arahku dengan tatapannya yang tajam.


"Kenapa bang?"

__ADS_1


"ngak Bernat, aneh aja rasanya."


Kemudian kami tertawa lagi, kemudian minum kopi dan tertawa lagi.


__ADS_2