
Pria tua itu memperhatikanku mulai dari kepala hingga kaki ku.
"Jimmi telah menorehkan luka di hati putri Ku, bahkan anak-anak nya begitu durhaka.
Maunya hanya uang dan uang tanpa memikirkan bagaimana caranya menghasilkan.
Mamanya struk karena perbuatan suami serta anak-anaknya, bahkan akhir hidup putri ku, tidak satupun diantara mereka yang melihatnya.
Rumah dan harta lainnya sudah aku wafat kan ke masjid.
Sebentar rumah ini akan menjadi mesjid dan aku tinggal di kampung halaman Ku.
Terlalu banyak kenangan indah disini, kenangan yang di rusak laki-laki benalu itu.
anak sama bapak sama aja, dari mereka menghabiskan semua harta mama nya yang aku berikan, lebih disumbangkan ke masjid dan anak yatim-piatu.
Agar putri ku mendapatkan rumah diakhirat, dan bakal nya di akhirat.
Kamu yang tabah nak, semoga kamu segera lepas dari belenggu para parasit itu.
Ini alamat istri ayah mu yang lainnya, semoga kamu bisa bertemu dengan abang disana dan berhasil membawa nya pulang."
"kenapa bapak memberikan alamat ini kepada saya?"
"apa yang dialami putriku hampir sama seperti yang kamu alami, putri ku memperjuangkan anak-anaknya sampai rela mengeluarkan uang banyak.
Tapi pada akhirnya putriku yang pergi untuk selamanya.
Jika kamu sudah lelah, berhentilah nak. kamu masih muda dan kamu harus memikirkan dirimu juga.
Jangan hanya karena rasa persaudaraan mu yang tinggi membuat lupa untuk bahagia.
Biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya, yang meninggalkan kamu akan sadar pada akhirnya akan cinta dan sayang yang telah kamu berikan.
Jangan lupa bahagia."
Pria tua mengakhiri ucapannya, lalu beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah serta mengunci pintunya.
"kamu sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk Jepri.
Jangan lupa bahagia adinda."
Ujar bang Jidan dan kata-kata itu sangat menusuk di hati ini.
Lalu kami berangkat menuju alamat yang diberikan oleh pria tua tadi.
Alamat itu mengarah ke sebuah gang, dan sepertinya hanya bisa dilalui oleh satu mobil aja.
Bang Jidan memintak ijin untuk parkir disalah satu halaman rumah warga sekitar yang dekat dengan gang tersebut.
__ADS_1
Halaman rumah itu lumayan luas, sehingga tidak masalah jika bang Jidan parkir di halamannya.
Berjalan menelusuri gang dan pada akhirnya kami tiba di rumah bercat warna biru, dan nomornya sesuai dengan yang di berikan oleh pria tua itu.
"Permisi bu, apakah benar pak Jimmi tinggal disini?"
"iya....
itu suami ku, ngapain mencari suami ku?"
Jawab perempuan yang bertubuh gempal itu, tapi nada suaranya yang terdengar kesal.
"saya datang kemari untuk mencari bang Jepri."
"si cacat itu, itu ada di dapur lagi cuci pakaian. bawa pulang, ngak ada gunanya di rumah ini, nambah biaya makan aja.
Jepri...... Jepri......
keluar kau, ini ada yang mencari kau.
cepat keluar Jepri....."
Ucapan wanita itu sungguh menyayat hati ini, tapi aku berada di rumah nya saat ini dan tidak ada gunanya berdebat dengan Nya.
Memakai celana pendek yang sangat jorok dan koas oblong yang tipis dan koyak, penampilan bang Jepri sangat memperihatinkan.
Seketika aku langsung memeluknya dan lepas sudah rasa rinduku untuk sesaat, tapi juga membuat hati sangat miris.
"ngapain kalian ke sini? kan belum tiba waktunya untuk membawa Jepri dari sini."
Suara bang Damar mengagetkan kami berdua dan serentak kami menolah nya.
"hari ini jadwal bang Jepri untuk konsultasi ke psikolog, jadi Bernat mau membawa bang Jepri ke klinik."
"tidak perlu, abang sudah membuat jadwal konsultasi ke rekan kerja abang.
Psikolog lulusan terbaik dari luar negeri, dan sudah terbukti banyak menyembuhkan pasien seperti Jepri."
"dimana kliniknya bang? coba aku lihat bukti administrasi nya?"
"heboh banget, saya dokter dan punya kenalan banyak psikolog yang mempuni, ngak berlebihan gitu dong.
Syukurlah kamu datang, saya meminta uang untuk membawa Jepri konsultasi, karena uang di rekening bank Jepri tidak bisa di ambil.
Anggap aja fee dari penemuan mesin-mesin yang diciptakan oleh Jepri."
Tidak tahu lagi harus berkata apa lagi, dan bang Jepri satu-satunya yang bisa memberikan keputusan.
"bang Jepri.....
__ADS_1
hari ini jadwal kita untuk konsultasi ke psikolog.
Abang mau kan ikut Bernat?"
"ngak....
bang Damal akan membawa ku pelgi belobat. kamu pulang aja."
Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bang Jepri lebih memilih bang Damar.
Tangan bang Jidan menepuk pundak ku dengan pelan, dan tatapan nya yang seolah-olah memberikan kode.
"baik pak Damar, sebagai pengacaranya Bernat dan tentunya saya punya kuasa untuk meminta bukti administrasi pendaftaran Jepri ke psikolog lulusan luar negeri itu."
"belum bisa di keluarkan, karena kurang uang administrasi nya."
"baik pak Damar, kami akan memberikan uang Nya kepada anda dan kami butuh tanda terima nya, apakah pak Damar bersedia?"
Seketika bang Damar terdiam dan kemudian menatap Jepri.
"iya sudah, saya bersedia. saya butuh seratus juta rupiah."
"waouuuuu.....
banyak juga ya pak, tunggu sebentar ya pak Damar."
Bang Jidan mengambil kertas dan pulpen dari tasnya, lalu menuju meja kecil yang ada di teras.
Terlihat bang Jidan menuliskan sesuatu di kertas tersebut, tidak berapa lama bang Jidan kembali menghampiri Ku.
"begini pak Damar, clien saya berniat baik untuk membawa Jepri konsultasi ke psikolog tapi pak Damar berkata akan membawa Jepri ke psikolog yang lebih berpengalaman dan jauh lebih baik.
Berikut ini adalah pernyataan bahwa pak Damar akan membawa Jepri konsultasi ke psikolog dan disini juga bahwa pak Damar harus memberikan bukti pendaftaran administrasi ke psikolog tersebut.
Jika pak Damar tidak bersedia menandatangani surat pernyataan ini, maka clien saya tidak akan memberikan apapun kepada bapak dan kami harus membawa Jepri dari sini untuk konsultasi ke psikolog."
Aku baru mengerti akan sikap bang Jidan, dan beliau segera memberikan surat pernyataan itu dan juga kwitansi.
Surat pernyataan dan kwintansi yang bermaterai itu langsung ditandatangani oleh bang Damar.
"mana nomor rekening nya pak?"
Bang Damar langsung memberikan nomor rekeningnya kepada bang Jidan, dan bang Jidan menerus nomor rekening itu melalui pesan
Melalui mobil banking, segera aku transfer uang itu ke rekening bang Damar.
"clien saya sudah mentransfer uang tersebut ke rekening pak Damar, dan bukti transfer Nya sudah saya kirimkan ke bapak.
Paling lama besok pagi, saya harus menerima bukti administrasi pendaftaran Jepri di psikolog itu."
__ADS_1
"tenang aja, pasti saya kirimkan. sana pulang, muak saya melihat kalian disini."
Begitu kasarnya bang Damar mengusir kami dari rumah ini, dan bang Jepri sama sekali tidak menolehku.