
Bu Sukma dan anaknya sudah pulang, karena mereka sudah menemukan solusi untuk masalah yang mereka hadapi yaitu ikhlas.
Bu Sukma dan keluarganya sudah melakukan yang terbaik sebisa dan semampu mereka, dan saatnya ikhlas untuk semua yang terjadi.
Sekarang adalah giliran kak Clara dan anak-anaknya, istri pertama dari Damar.
"menurut bang Jidan, apa yang harus Bernat lakukan untuk menolong kak Clara?"
hmmmm.......
Bang Jidan sejenak berpikir, dan Ia mulai menggaruk kepalanya yang artinya dia sedang berpikir keras.
"Kita sudah mulai menggarap lahan mu yang ada Lampung.
Bagiamana kalau untuk sementara, Clara dan anak-anaknya pindah ke Lampung sebagai tenaga kerja di peternakan nanti.
Jika sudah bisa menghasilkan ternak yang siap jual, ya.....
Clara berjualan sebagai mana biasanya, lagipula disana itu masih ada keluarga yang bisa menjadi tempat berlindung untuk sementara waktu."
"saya setuju dengan ide itu, kakak juga masih punya tabungan yang cukup untuk biaya sehari-hari dan pendidikan anak-anak.
Stok jualan di rumah juga sudah habis, dan semua hasil penjualannya sudah ada dalam rekening kakak.
Tapi saat ini kakak takut ke rumah, tapi kakak sudah membawa keperluan yang sangat penting seperti surat-surat penting lainnya, dan juga keperluan sekolah anak-anak serta pakaian kami untuk beberapa hari kedepannya."
Istri pertama Damar ini, langsung menyetujui ide dari bang Jidan dan itu terlihat sudah benar.
"sebelum Bernat bicara dengan penjaga lahan yang di Lampung, kakak dan ponakan sebaiknya tinggal disini aja dulu.
Jangan pernah keluar dari rumah ini, nanti semua kebutuhan biar adek-adek yang memenuhinya.
Di rumah ini ramai orangnya, masih bisa dinyatakan aman, asal kak Clara dan ponakan tidak keluar dulu dari rumah ini sampai kakak berangkat ke Lampung."
"itu ngak masalah Bernat, ponakan mu ini penurut kok, tapi bagaimana dengan sekolahnya anak-anak ya?"
"nanti biar sekalian di carikan sekolah di Lampung yang dekat dengan lahan, sisanya biar Bernat yang mengurus sekolahnya disini."
Clara langsung bersyukur dan bersujud, air matanya mengalir dan juga rasa berterimakasih yang tiada berkesudahan.
"Juna..... Juna......"
"aku disini bang, apa yang bisa ku bantu?"
"untuk sementara kak Clara dan ponakan akan tinggal disini sebelum berangkat ke Lampung, tolong sediakan kamar untuk mereka ya."
"oke bang.....
__ADS_1
kak, ikut Juna yuk...."
Permasalahan kedua sudah kelar, tapi tatapan bang Jidan agak aneh.
"kenapa bang?"
"kamu sama Risa sudah semakin intim tuh hubungan nya, sebaiknya bicara dulu deh sama Risa."
"iya juga ya bang."
"ngak perlu sungkan gitu abang sayang...."
Risa dan genk nya sudah tiba saja di rumah ini, dan sanggahannya barusan membuat ku terkejut.
"Risa ngerti kok keadaan abang saat ini, karena Risa ngerti bagiamana kualitas seorang Bernat yang tersayang.
Lagian disini ada Togu, Juna, Riyan dan yang lainnya.
Dua rekan kami juga masih di rumah ini, dan tidak mungkin abang akan berbuat senonoh dengan kakak ipar sendiri.
Setiap harinya juga Risa dan teman-teman akan ke sini, karena kami sudah menjadi pegawai mu bang.
Abang tenang aja ya, ngak usah gelisah seperti itu.
Risa tau kok, kenapa bang Bernat tidak langsung bicara sama Risa, ya karena kita belum suami istri.
Terkecuali kalau Risa sudah menjadi istrimu, barulah segala sesuatunya perlu kita bicarakan terlebih dahulu."
Risa berhenti bicara karena kak Clara tiba di hadapan kami.
"kamu Risa ya? calon istri Bernat?"
"iya kak, kok kakak tau?"
"iya tau dong, kan jualan kakak berasal dari peternakan ini dan diantar langsung oleh anggota lainnya.
Pastilah ada bisik-bisik tetangga gitu, makanya kakak tau.
Katanya Risa itu orangnya cantik dan sedikit centil, makanya kakak langsung mengetahuinya ketika mendengar suaramu dan juga bertemu secara langsung seperti ini."
Agak gimana gitu perasaan ku sekarang, tapi Risa malah pecicilan dan malu-malu ngak jelas seperti itu dihadapan kak Clara.
"kakak minta ya dek, telah membuat mu ngak enakan karena kehadiran kakak dan anak-anak kemari.
Jujur kakak akui, kalau kakak di bantu oleh Bernat untuk bisa bertahan hidup, dengan berjualan ayam potong dan juga telurnya.
Kakak hanya tidak ingin anak-anak menjadi korban kebencian karena ulah ayah mereka, karena anak-anak adalah penyemangat hidupku.
__ADS_1
Tidak ada niat lain, kakak hanya memperjuangkan anak-anak.
Kakak ngak tau lagi harus mengadu sama siapa lagi, selain Bernat. keluarga sudah memutuskan hubungannya dengan Ku, karena menikah dengan Damar."
Tiba-tiba kak Clara bersujud di kaki Risa dan air matanya mengalir di pipinya.
"kakak jangan seperti ini dong."
"kakak mintak maaf ya, ngak ada niat kakak untuk merusak hubungan kalian berdua."
"iya kak, iya kak. berdiri ya kak."
Risa berusaha keras untuk mengangkat tubuh kak Clara dan mereka berdua berpelukan.
"Risa paham akan keadaan kakak, sebagai mana seorang ibu yang memperjuangkan anak-anaknya dan kakak adalah ibu yang luar biasa.
Bang Bernat adalah orang yang baik, dan tau batasannya.
Risa percaya kok sama bang Bernat, dan rumah ini ada sahabat ku dan juga calon suami dari sahabat-sahabat juga.
kakak ngak usah merasa ngak enak hati gitu, sebagai seorang ibu dan Risa mengerti keadaan kakak."
Lalu kak Clara melepaskan pelukannya dan kemudian menatap wajah Risa.
"terimakasih ya dek, kalau bukan karena ancaman kepada anak-anak, kakak sudah bisa mandiri tanpa merepotkan Bernat lagi."
"iya kak, Risa tau itu. karena bukan hanya kakak aja yang di tolong oleh bang Bernat.
Selain paras ketampanan yang di miliki oleh bang Bernat, kebaikan dan ketulusan hati bang Bernat, yang membuat hati Risa, luluh lantak di buatnya."
Bersyukur karena Risa bisa menerima keadaan situasi saat ini, lega rasanya karena tidak harus menyakiti hatinya.
"Terimakasih ya Risa atas pengertian mu, terimakasih juga karena bisa menerima kekurangan ku."
"ah.....aaaaaahhhh."
Haha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha haha haha haha haha hahahaha haha hahahaha
Kami tertawa karena sikap dan jawaban dari Risa, ya seperti yang di ucapkan oleh kak Clara kalau Risa ini seperti gadis centil saja.
"sini kalian berdua."
Tiba-tiba saja Risa memanggil Arpin dan Boy, yang merupakan teman sekampusnya yang bersama-sama magang dan melakukan penelitian di peternakan ku ini.
Memang sejak penelitian mereka berdua sudah tinggal disini sampai sekarang, bahkan seluruh barang-barang sudah berada di tempat di rumah ini.
Mereka berdua menempati kamar yang dulunya ditempati oleh nenek kami.
__ADS_1