TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Rencana.


__ADS_3

Sungguh mendebarkan ketika Risa menggandeng tanganku seraya tersenyum manis merekah seperti itu, tapi bude nya ini selalu menggangu.


"eh Risa...


kau itu jadi perempuan jangan terlalu ganjen, jangan kau mencari kesempatan dalam kesempitan seperti ini."


"apa sih bude, boleh ya ikut bang Bernat?"


uhmmm........


Seketika itu juga kak Tiara langsung mendekati bu Risma.


"bu....


Tiara juga ikut kok, dan di rumah bang Jidan itu ada di mbak yang kerja disana.


Tiara yang tanggungjawab jika terjadi sesuatu kepada Risa, aku pastikan ponakan ibu ini tidak lecet sedikitpun."


"ya sudahlah nak Tiara, ibu sih percaya sama nak Bernat, tapi ibu ngak yakin sama Risa ini."


"Selama Tiara masih ada, semua aman terkendali."


Untung aja ada kak Tiara, dan akhirnya ijin itu kami dapatkan dan terlebih dahulu kami mengantarkan ibu Risma ke rumahnya.


Setelah mengantarkan bu Risma dan kami langsung menuju rumah bang Jidan, dan akhirnya kami sampai juga.


Entah kapan koper itu ada di bagasi mobil milik bang Jidan, dan mengeluarkan koper itu dari bagasi.


Ternyata bukan hanya satu koper saja, sudah ada tiga koper disana.


"koper dari mana ini?"


"ini koper kakak dan juga koper milik Risa."


"kapan ngambilnya?"


"tadi kakak yang menghubungi Risa, untuk menyiapkan pakaian adek-adek mu serta pakaian mu dari rumah."


"iya benar itu bang Bernat, dan Risa menghubungi Diana, Naura, Ekavira serta Arpin dan Boy.


Kami berempat menyusun pakaian pria-pria yang kami sukai, sementara Arpin dan Boy bertugas untukku berjaga-jaga di rumah abang."


"mereka berdua akan nginap di rumah? terus ngak dicariin orang tua mereka?"


"akhir-akhir ini mereka berdua sering nginap kok di rumah abang.


Arpin dan Boy itu anak kos bang, mereka berdua ngak panjang tangan kok.


Palingan nanti stok makanan yang di sediakan Riyan yang akan hilang, seperti beras dan persediaan lauk pauk lainnya."


"kalau itu ngak masalah, hanya kwatir aja di cariin orang tuanya."


"aman kok abang sayang, kalau mereka berdua menjarah rumah abang, biar Rida yang tanggungjawab ya."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Risa dan pandangan kami langsung buyar ketika kak Tiara mencubit tangan Risa.


"masuk.... m....a....s...u...k...."


Akhirnya kami masuk dan kemudian membersihkan tubuh kami masing-masing di kamar mandi.


Setelah mandi, aku dan bang Jidan duduk di sofa ruang tamu dan dari arah dapur terdengar suara orang sedang memasak.


"di dapur siapa bang?"


"calon istriku dan juga calon istrimu, tenang aja dan minum lah teh mu itu ya."


Lagi dan lagi aku hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan bang Jidan.


"Bernat....


tadi bang Yusuf nelpon, katanya pemilik tanah itu akan datang lusa.


karena ada acara di kota ini, alangkah lebih baiknya nanti kita bertemu aja."


"iya bang, Bernat juga sudah sangat mantap ingin membeli lahan itu. kemarin itu bang Yusuf melakukan video call dari lahan itu.


sebenarnya Bernat sudah membuat perencanaan tentang lahan tersebut, dan sudah seminggu ini Bernat buat dan ingin membicarakannya dengan adek-adek di kafe kami biasa nongkrong."


"sabar dek Bernat, dan hal ini merupakan pelajaran penting bagi kita."


"nanti aja kita ngobrolnya ya, kita makan malam ya."


Ucap kak Tiara yang memanggil kami berdua untuk makan malam bersama.


Selesai makan dan kami langsung ke ruang tamu, dan kopi panas sudah terhidang di meja kami.


"Adam akan segera datang kemari, kita tunggu aja dulu ya."


"iya bang Jidan."


Sembari menunggu bang Adam yang merupakan rekan bang Jidan, terlihat bang Jidan sibuk dengan laptopnya.


Sementara kak Tiara sibuk dengan komputer itu dan Risa merapikan dokumen yang ada di tas ku.


"syukurlah kalau kalian belum tidur."


"ih....


Abang ini main masuk aja lah, pake salam kek masuk nya."


Ucap Risa yang menegur bang Adam karena masuk tanpa salam kepada pemilik rumah.


"Risa....


rumah ini adalah rumah ketiga bagi rekan-rekan abang.


Rekan-rekan abang itu punya kunci masing-masing dan bisa masuk ke dalam rumah ini."

__ADS_1


"kok gitu? terus kalau bang Jidan sudah menikah sama kak Tiara gimana?


masa ngak ada privasi gitu?"


"tenang gadis cantik, kami juga tau diri kok. kalau abang dah nikah pastinya kami akan mengembalikan kunci tersebut.


Karena sang bos sudah membangun kantor kami yang terbaru.


Kami juga sadar dan menyakini privasi, karena masih lajang bang Jidan.


begitu kami menerima undangan pernikahan, maka kunci ini akan aku serahkan kepada bang Jidan."


"syukurlah kalau begitu."


"kamu Risa kan?"


Risa mengganguk dan rekannya bang Jidan itu tersenyum.


"kamu cocok kok jadi istrinya Bernat, perempuan yang teliti, peka, pemberani dan centil seperti mu yang di butuhkan oleh Bernat.


Saya sudah meneliti tentang kepribadian Bernat.


Selain cerdas, bijak dan pekerja keras. seorang Bernat ini adalah tipe orang yang penyayang, baik hati dan tidak tegaan orangnya.


Sikapnya yang terlalu baik, dimanfaatkan oleh keluarganya, dan beruntung nya Bernat berada diantara orang-orang yang baik.


Karena memang mereka saling membutuhkan satu sama lainnya, ya memang seperti itulah hidup.


Jika Risa menjadi istri Bernat kelak nanti, itu ibarat botol sama tutup nya.


Sama-sama saling melengkapi satu sama lainnya dan saling membutuhkan."


"hadehhh.....


Antara Bernat dan Risa, itu terserah mereka berdua, tidak perlu buru-buru dan harus benar-benar dari hati dan berdasarkan akal sehat.


Kita kembali ke topik aja, tolong laporkan apa saja yang sudah Adam temukan di lapangan, serta tentang apa yang terjadi."


"baiklah kita akan mulai, seperti yang telah aku sampaikan melalui telpon. saat ini sudah ada dua belas orang yang mengadukan Dimas dan juga perempuan itu.


Saya bertindak sebagai penasihat hukum dari Togu, Riyan dan Juna ikut serta melaporkan dua manusia biadab itu.


totalnya pengaduan sekarang berjumlah enam belas, saat itu polisi sudah melakukan penyelidikan.


Sebagai bukti tambahan, saya sudah mendapatkan sisi tv dari rumah Bernat, dan juga sisi TV pak Bima kepala lingkungan, rumah tetangga sebelah, sisi tv dari toko dekat kejadian, sisi tv dari mobil yang dikendarai Riyan dan juga bukti-bukti tambahan dari Risa and the genk.


Semuanya sudah saya lampirkan dan berkat kerja sama tim, pelaku sudah ditingkatkan menjadi tersangka.


Tentunya dengan dakwaannya adalah perencanaan pembunuhan."


"terimakasih ya adam."


"sama-sama bang bro, tapi aroma makanan ini membuat ku lapar lah, apa kak Tiara masak?"

__ADS_1


"iya, sengaja aku banyak masak. ambil aja di dapur ya."


Bang Adam langsung gerak cepat ke arah dapur, dan memang terlihat kalau rumah ini sudah seperti rumah nya.


__ADS_2