
Sudah dua hari berselang sejak bang Damar mengusir ku dari rumah itu, handphone bang Jepri sudah nggak aktif dan bukti pendaftaran administrasi konsultasi ke klinik psikolog itu tidak kunjung di kirim bang Damar.
"Bernat.... kok melamun?"
"kepikiran bang sama bang Jepri, handphonenya ngak aktif dan ragu apakah bang Jepri benar dibawa ke psikolog?"
"sepertinya tidak Bernat, karena nomor abang juga di blokir oleh Damar.
Kedatangan abang ke kantor mu ini, untuk membicarakan tentang Jepri.
Tapi sebelum itu ada berita lain yang harus disampaikan, bahwa putusan gugatan rumah di percepat dan itu dilaksanakan besok.
Sementara putusan gugatan perwalian Jepri tetap sesuai jadwal.
Jadi begini dek, kemungkinan besar penggugat akan menang akan hal gugatan hak perwalian Jepri.
Nantinya kita akan banding dengan bukti-bukti yang baru.
yaitu perlakuan mereka terhadap Jepri, salah satunya bahwa Damar tidak membawa Jepri ke psikolog.
Terus abang juga sudah mengambil gambar Jepri ketika di rumah waktu itu.
Ini yang akan kita jadikan sebagai bukti terbaru."
"tapi bang, bagiamana dengan bang Jepri?"
"Bernat.....
kamu lupa akan ucapan pria yang kita temui itu?
mereka akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang mu.
Menguras emosi dan pikiran mu, pikirkan kesehatan mu.
Jepri sendiri yang menolak untuk kamu bawa, dan disini kamu bisa membuktikan bahwa kasih sayang mu belum bisa menyadarkan Jepri.
Paham kan maksud abang?
berdoa aja yang terbaik untuk Jepri, semoga kita bisa menyelesaikan masalah ini tanpa ada masalah yang lain."
Semua yang diucapkan oleh bang Jidan, hanyalah sebagai penghibur semata saja. rasa kekwatiran belum juga hilang dari benak pikiran.
"mengenai Lamhot dan Sion, masih sesuai dengan jadwal, sejauh ini masih terkendali.
Abang sangat salut dengan semua pegawai disini, kompak dan saling tolong menolong.
Solidaritasnya sangat kuat, seperti sudah pernah mengalami hantaman badai.
Kuberi air susu, tapi kau balas dengan air tuba. itulah pribahasa yang tepat untuk kasus yang abang dampingi saat ini.
Mulai dari Tiara hingga rekan-rekannya bahkan bos nya sendiri.
Abang sudah mengenal sosok Tiara yang luar biasa, bahkan Tiara itu tidak sanggup membeli bedak hanya demi adik-adiknya.
Pada akhirnya abang melihatnya menangis di gereja, ketika kami ibadah muda-mudi di waktu itu.
Perawakan nya yang tegar dan itu mampu menipu orang lain, yang mengira kalau kehidupan Tiara sedang berbahagia.
__ADS_1
Begitu juga dengan Lamhot dan Sion, bahkan lebih miris nya lagi, mereka berdua itu diserang oleh keluarga dari pihak mama nya.
Mereka kompak mengatai Lamhot dan Sion adalah abang yang abal-abal.
Agak lain memang, tapi begitulah keadaan yang sebenarnya."
"apa ngak sebaiknya aja rumah mereka itu di jual? lalu pindah ke kompleks yang ada di samping kantor ini.
Itu semua punya Bernat bang, dan security yang standby."
"iya juga ya....."
Segera aku menelpon rumah potong hewan, untuk mengijinkan Lamhot dan juga Sion ke Mak Lisa.
Hanya menunggu beberapa menit, Lamhot dan Sian sudah tiba di ruangan ini.
"lagi sibuk kalian dua?"
"ngak bang Bernat, dagingnya sudah habis semua terjual.
Kami lagi menunggu daging sapi untuk kami jual lagi.
kenapa memanggil kami berdua kemari?"
"gini Lamhot dan Sion.....
Di samping kantor ini ada kompleks punya saya, dan tinggal lima unit rumah yang belum terjual.
Lebar tapak 8 meter dan panjangnya 13 meter, rumah tipe 64 dan sudah lengkap semuanya.
Bersertifikat dan IMB bangunan, belakang rumah masih tersisa lahan yang bisa dipergunakan untuk keperluan pribadi. serta security yang standby."
"gampang Sion, nanti DP nya dari abang, sisanya kredit bank. jika rumah kalian sudah tidak berperkara lagi, jual aja.
Hasil penjualannya buat untuk pelunasan kredit atau membeli rumah yang lain, ya anggap aja investasi."
"serius bang? maulah bang. karena bonus tiga bulan terakhir ini belum Sion pakai, bisa nanti untuk biaya administrasi."
Sion dan Lamhot langsung menyetujuinya, tidak ketinggalan juga dengan bang Jidan.
Hari ini terjual tiga unit rumah, dan sisanya di ambil Mak Lisa dan juga Susi, kasir di rumah potong hewan.**
Hari sudah petang, beberapa kali kucoba untuk menghubungi handphone milik Jepri dan selalu tidak aktif.
Akhirnya aku memutuskan untuk ke rumah ayahnya, kali aja bisa bertemu dengan bang Jepri.
Beberapa menit mengendarai mobil dari kantor dan berhenti di lampu merah, seperti biasa selalu ada pengamen jalanan.
Aku terfokus kepada seorang pengamen, manusia silver.
"bang Jepri...."
Aku memanggil bang Jepri, dan dia menolehku.
"Abang ngapain seperti ini? siapa yang menyuruh abang kyak gini?"
tit....tiiiit......
__ADS_1
prom....pom..... pom......
'minggir kalian bangsat, malah berpelukan di jalanan lagi. jalan bukan milik bapak kau.'
Makian dari pengguna jalan lain, karena lampu jalan sudah hijau.
Polisi yang berada ditempat langsung menghampiriku.
"pinggirkan dulu mobil nya pak."
"baik pak, tolong tahan abang saya ini ya pak."
Polisi itu bersedia menjaga bang Jepri dan akhirnya mobil yang aku kendarai sudah ditempat aman tanpa menggangu pengguna jalan lain.
"selamat sore bapak, karena bapak sudah menggangu ketertiban umum dan saya akan menilang bapak."
"saya mintak maaf pak karena sudah menggangu, saya bersedia bertanggungjawab jawab atas kesalahan saya.
Terimakasih karena sudah menahan abang ku, terimakasih pak..."
Setelah pak polisi menilang mobil ku dan pergi, tanpa terasa air mataku mengalir deras di pipiku ini.
Bang Jepri bisa menghasilkan uang yang banyak di peternakan, tapi ini apa? kok jadi manusia silver.
Meraih handphone untuk menghubungi bang Jidan.
'bang Jidan......'
'Bernat tenang ya, sekarang kirim lokasi ke abang, biar kesana.'
Panggilan langsung berakhir dan segera share lokasi ke bang Jidan.
"kenapa abang seperti ini?."
Bang Jepri hanya terdiam, bekas keringat bang Jepri membuat bekas di wajahnya yang penuh dengan silver itu.
"tadi abang masih disekitar sini, ada apa Bernat? ini Jepri kan?"
"iya bang, jadi manusia silver untuk mengemis.
Apa yang harus Bernat lakukan bang?"
Air mata ini masih berlinang, tapi bang Jidan malah menggaruk kepalanya.
"bisa aku membawa bang Jepri ke rumah?"
"tunggu sebentar ya, biar abang dokumentasi kan dulu."
Air mata ini tidak henti-hentinya mengalir, sesusah apapun keadaan, kami tidak pernah mengemis.
"adek mu ini selalu kepikiran sama mu Jepri, siapa yang menyuruhmu jadi manusia silver seperti ini?"
"i....bu.....karna kami ti.....dak punya beras."
"bukannya Bernat memberikan mu uang pegangan? kalau ngak salah itu hampir dua puluh juta loh."
"di.....di......pake untuk beli handphone adek dan juga be......li...... m....o.....tor seken."
__ADS_1
Bang Jidan yang bertanya tapi aku yang menangis.