TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Saling Menguatkan.


__ADS_3

Dokter itu berjalan mendekati bang Damar, dan menatapnya.


"pantas saja lisensi kedokteran mu di cabut, seharusnya kamu sebagai saudaranya membujuk pasien untuk tetap di rawat disini.


Bukan kamu yang dirugikan, karena pasien disini memakai asuransi kesehatan swasta.


Disini saya menanyakan sekali lagi, apa benar yang di ucapkan oleh pak Bernat?"


"dokter Budi ngak tuli kan? sudah jelas-jelas adikku ingin dikeluarkan dari rumah sakit ini.


Jangan buat permasalahan ini semakin ruwet dokter Budi, laksanakan aja yang diminta oleh si Bernat."


Haaaaa......


Dokter itu menghela napas panjang nya, dan dokter yang bernama Budi itu mengajakku keluar dan membawa ku ke ruang administrasi.


"bapak yakin mau mengeluarkan pasien malam ini tanpa rujukan?"


"saya hanya berusaha kak, hak perwalian juga sedang dalam gugatan dan saya tidak bisa bertindak sepenuhnya untuk bang Jepri.


Saya hanya sebagai manusia biasa, yang tidak bisa memaksakan kehendak ku.


Hanya inilah yang bisa kulakukan, semua yang terbaik sudah kulakukan."


"baik pak Bernat, mohon di tunggu ya. saya memanggil dokter penanggung jawabnya."


Ujar perawat itu, mungkin karena aku berulangkali menyeka air mata ini, sehingga dia mau mengurus administrasi kepulangan bang Jepri tanpa rujukan.


"pak Bernat, silahkan tunggu di ruang rawat aja, nanti dokter bersama rekan saya akan datang ke sana dan sekaligus pemeriksaan terakhir kepada pasien sebelum meninggalkan rumah sakit ini.


"baik kak, saya tunggu ya."


Perawat itu hanya mengganguk dan perlahan-lahan aku meninggalkan ruangan itu untuk menuju ruangan bang Jepri.


Sesampainya di ruang rawat bang Jepri, kami hanya terdiam. berselang beberapa menit kemudian, dokter penanggung jawab datang bersama dua orang perawat dan juga dokter Budi.


Dokter penanggung jawab hanya membuka jarum infus bang Jepri yang kemudian diambil alih perawat, dan setelahnya memberikan dokumen kepada Ku.


Tertulis di dokumen bahwa saya sebagai wali, dengan sengaja membawa pasien pulang tanpa rujukan dan segera aku berikan kepada bang Jidan.


Setelah beberapa saat kemudian, bang Jidan memberikan dokumen itu kepada Damar, terlihat raut wajahnya yang kecewa.


"dokter Damar sebagai penggugat hak perwalian, tolong tandatangani dokumen ini dan bubuhkan nama yang jelas dan pekerjaan anda."


"kok saya, kan yang menjadi walinya saat ini yaitu si Bernat."


"Bernat menolak kepulangan dari Jepri, dan anda sendiri yang dari tadi sangat kekeh untuk membawa Jepri pulang.


Alasannya karena anda seorang dokter yang mempu merawat Jepri.

__ADS_1


Jika anda tidak mau menandatanganinya, maka Jepri tetap di rawat disini, bila perlu di bius agar tenang.


Sekarang dokter Damar yang bertindak, atau Bernat yang bertindak, silahkan buat keputusan."


Akhirnya Damar menandatangani dokumen itu, setelah menandatanganinya lalu bang Jidan memberikan copy gugatan perwalian kepada perawat.


Kemudian perawat itu meminta photo copy identitas Damar.


Dokter Budi memberikan resep obat, tapi di tolak oleh Damar, karena menurutnya resep itu tidak berguna.


Dokter penanggung jawab yang datang bersama dokter Budi hanya geleng-geleng kepala dan kemudian pergi.


Sungguh miris dan teramat miris, bang Jepri pergi begitu saja tanpa menolehku.


Hanya mengenakan celana pendek dan juga kimono itu, dia pergi bersama abangnya yang berkata sanggup untuk merawatnya.


"jangan lupa bahagia, abang selalu dibelakang mu."


Ujar bang Jidan dan pergi begitu saja, lalu Togu dan Riyan langsung menghampiriku.


"kita pulang aja ya bang, karena abang juga butuh istirahat."


"iya go...."


Bersama-sama kami pulang, dan sepanjang perjalanan menuju rumah selalu kepikiran dengan bang Jepri.**


Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun dan seperti biasa langsung beraktivitas.


Selesai mandi dan mengenakan pakaian, Riyan mengetuk pintu kamarku, setelah masuk lalu mengajakku untuk sarapan.


Selesai sarapan dan Togu membuat Ku kopi dan mereka bertiga menatapku dengan tatapan yang lirih.


"kenapa kalian bertiga?"


haaaaa......


Dengan serentak mereka bertiga menghela napasnya.


"Riyan dengan sengaja membiarkan abang untuk tenang walaupun hanya sebentar saja, tapi akhirnya Riyan ngak tega bang.


Tadi pagi pas belanja, Riyan melihat bang Jepri menjadi manusia silver lagi di persimpangan jalan yang ramai itu bang.


Riyan sudah memvideokan kan, dan ini hasilnya."


Handphone itu diberikan kepadaku dan memutar video rekaman itu.


Iya ......


Itu adalah bang Jepri, dia kembali menjadi manusia silver agar bisa mengemis, tak terasa air mata ini mengalir.

__ADS_1


"maaf bang, Riyan hanya ingin abang tenang walaupun hanya sebentar."


"iya Riyan, abang ngak menyalahkan mu. malah abang berterima kasih kepada kalian bertiga.


disaat semua keluarga ku demikian, dan hanya kalian bertiga yang menjadi tempat curhat ku dan juga sebagai penguat Ku."


"gimana ngomong nya ya bang, kami bertiga kan sama nasibnya. sama-sama abang pungut dari jalanan.


Bang Bernat bagiku pribadi, adalah bapak, sahabat dan teman.


Jujur ya, Riyan tidak mau kehilangan sosok seorang bapak, abang dan sahabat. mungkin itu yang menyebabkan Riyan harus menyayangi abang."


"sama lah Yan.....


Aku masih punya keluarga dari pihak bapak dan juga pihak mama, tapi mereka tidak menerima Ku.


Hanya bang Bernat yang menerima Togu dengan segenap kasih, jika di pikir-pikir apakah mampu jika kehilangan bang Bernat?


Pertanyaan itu menuntut Ku untuk saling menyayangi diantara kita.


Berada disini rasanya lengkap, tapi beberapa hari ini Togu merasakan kegelisahan.


Melihat bang Bernat yang sangat-sangat sibuk mengurus ini, itu dan ini.


Dari dulu kita sudah bekerja keras, capek memang, tapi nikmat.


Tawa bersama kita mampu menghilangkan seluruh letih nya tubuh ini.


Maaf bang Bernat, kami bertiga tidak bisa membantu abang untuk menyelesaikan masalah ini."


Seketika air mata ini mengalir lagi dan kami berempat hanya bisa saling berpelukan dan kami tertawa bersama.


Entah apa yang membuat kami tertawa, tapi yang jelas kami tertawa dan melepaskan beban jiwa yang penat ini.


"apa yang harus kita lakukan kepada bang Jepri ya? kasihan aku melihatnya.


Menjadi pengemis seperti itu sangat melelahkan, dan menyiksa batin.


Jika dilihat secara langsung, bang Jepri sangat-sangat tidak nyaman dengan apa yang Ia lakukan itu.


Disini memang bang Jepri kerja, tapi memakai pakaian yang layak tanpa adanya warna tambahan untuk kulit.


Jika lelah istrihat, lalu bermain dengan kita, lalu melihat ternak kita yang kadang bertingkah aneh."


"entahlah Riyan, abang juga bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.


Besok adalah putusan gugatan rumah ini dan lusa nya putusan hak perwalian bang Jepri.


Kita lihat aja ya apa yang akan terjadi nantinya, abang akan selalu konsultasi sama bang Jidan."

__ADS_1


Lagi dan lagi kami hanya berpelukan untuk saling menguatkan sesama orang yang ditelantarkan oleh keluarganya sendiri.


__ADS_2