
Togu, Juna dan Riyan sudah dinyatakan pulih, dan sudah bisa beraktivitas sebagaimana biasanya.
Sepi tanpa adek-adek dan aku putuskan untuk tetap tinggal bersama mereka di rumah peninggalan kakek dan nenek ini.
"bang ada tamu, orangtuanya kak Aisyah. kalau ngak salah istri keduanya Firman."
Ujar Juna dan segera ku temui tamu itu, ya itu adalah ibu Sukma.
Dulu aku pernah makan di rumah makan miliknya dan mengeluh mengenai Firman.
"ibu Sukma, bang Raja."
"syukurlah kalau nak Bernat mengingat ibu, maaf menggangu mu nak.
ini mengenai ponakan mu, anak Aisyah bersama Firman."
"emangnya apa yang terjadi bu?"
Bu Sukma menghela napasnya dan tatapannya yang sayu dan menahan rasa sedihnya.
"ibu sudah meminta Aisyah untuk tinggal sama ibu, tapi doktrin Firman yang sesat itu tidak memperbolehkan istri dan anak-anaknya pergi dari rumah tanpa seijin Firman."
"Bernat..... Bernat......"
Kehadiran bang Jidan yang memanggil ku secara berulang-ulang dan itu menghentikan pembicaraan bu Sukma.
"kamu ada tamu?"
"iya bang Jidan, bu Sukma dan anaknya. ibu ini adalah mertuanya Firman."
Seketika itu juga bang Jidan langsung duduk di samping bu Sukma seraya memegang tangannya.
"Asiyah putri ibu, terpaksa di tembak oleh polisi karena melawan dan tewas di tempat."
"emangnya apa yang terjadi bang?"
"Bernat...... Bernat...... Bernat........"
Kedatangan kak Clara dan kedua anaknya, istri pertama dari Damar. membuat perasaanku ngak enak.
Dia seperti ketakutan dan panik, air matanya serta gemgaman tangannya yang erat memegang tangan kedua anaknya dan itu menggambarkan kekwatiran yang dalam.
"tolong jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi?"
Mereka semua menolehku, mungkin aku satu-satunya yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini.
"Abang itu tidak hanya membuat mu menderita, dan ternyata Damar adalah salah satu sindikat penjual organ tubuh manusia ke pasar gelap.
Damar di bantu oleh kedua saudara laki-lakinya Reva, istri pertama Damar.
__ADS_1
pria itu bernama Rando dan Randi, mereka berdua di janjikan oleh Damar, akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari bisnis haram itu.
Korbannya utamanya adalah anak-anak, karena itu paling mahal harganya.
Asiyah nekad membunuh anak-anak dari Rando dan Randi karena anaknya merupakan korban penjualan organ tubuh manusia.
Bukan hanya anak Rando dan Randi yang di bunuh oleh Aisyah, tapi anak dari tiga orang sindikat lainnya yang merupakan sepupu dari Reva.
Dalam bersaksi, Asiyah di temani oleh orang tua korban lainnya.
Mereka mengincar anak-anak Damar, serta anak-anak dari kompolotan nya.
Mereka berhasil melakukannya, ada merasa puas dan tentunya petaka bagi keluarga korban.
ibarat peribahasa, gigi di ganti dengan gigi dan nyawa di tukar nyawa."
Penjelasan bang Jidan membuatku syok, dan seketika itu juga kak Clara bersujud di hadapan bu Sukma.
"nama saya Clara bu, istri pertama Damar. saya tidak menahu apa yang di lakukan oleh Damar.
Clara tidak pernah keluar rumah, dan itu adalah perintah dari Damar."
Bu Sukma tidak bergeming, dan kak Clara berjalan ke arahku dan kemudian bersujud di hadapan ku.
"Bernat......
kakak ngak tau lagi harus mengadu sama siapa, kedua orang kakak sudah menjauhi kakak karena menikah dengan Damar.
"kakak duduk ya, Bernat ngak bisa berpikir kalau terus di desak."
Seketika kami semua terdiam, dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"karena bu Sukma yang pertama datang, jadi kita harus menyelesaikannya terlebih dahulu.
Apa yang bisa Bernat bantu bu?"
"ibu juga tau nak, ibu merasa kalau Bernat adalah anak yang bijaksana dan barangkali bisa membantu permasalahan ibu ini.
Sebenarnya ibu datang kemari tanpa persiapan apapun alias bingung.
Tidak tau harus memulainya dari mana, karena ibu sudah merasa melakukan semua yang terbaik semampu ibu.
ibu sudah meminta kakak ipar mu dan juga anak-anaknya untuk pindah ke rumah ibu, tapi tidak mau kalau tidak mendapatkan restu suaminya."
"sudahlah ma.....
Bernat juga pasti bingung dengan semua masalah yang terjadi secara tiba-tiba seperti ini.
Mama sudah melakukan yang terbaik untuk Aisyah dan anak-anaknya.
__ADS_1
Walaupun pun pada akhirnya anak-anaknya meninggal dunia, karena tidak mampu bertahan dengan satu ginjal dan itulah resiko yang harus ditanggung oleh Asiyah.
Mama sudah menyekolahkan Asiyah sampai sarjana dan sudah sempat bekerja dengan gaji yang sangat layak.
Memang benar bahwa sampai akhir hayat mama, kalau Asiyah itu adalah putri mama.
Tapi ingat ma....
masih ada putri dan anak-anak mama yang lainnya, yang masih membutuhkan mama.
Seperti petani padi, diantara gabah padi itu. sebaik-baiknya petani itu mengurus tanaman padinya.
Pasti ada yang sumbang dan di buang, dan kemudian memproritaskan gabah yang berkualitas.
Petani padi tadi sudah melakukan segala upaya, tapi tetap aja ada padi yang rusak dan sumbang.
Ada beberapa petani padi yang tetap memperdaya padi sumbang tersebut, dengan cara membakarnya agar bisa menjadi pupuk atau campuran makanan ternak.
nah.....
Mamak adalah salah satu dari petani yang memanfaatkan padi yang sumbang itu.
Akan tetapi padi sumbang yang hendak mama buat untuk sesuatu yang berguna, dan itu hilang.
Mama sudah berusaha keras mencari padi hilang itu, segala cara mama lakukan agar bisa menemukan padi yang sumbang tersebut dan tetap tidak di temukan juga.
Mama sudah memberikan modal besar untuk Asiyah agar bisa jualan, tapi semua itu di habiskan oleh suaminya untuk memenuhi kehidupan istrinya yang lain.
Mama sudah berusaha untuk menarik kembali dan menerima Asiyah, agar bisa hidup dengan layak tapi di tolak nya.
Jangan hanya karena Asiyah, sehingga mama melupakan anak-anak mama yang lainnya."
"mama paham akan maksud Raja, terus apa yang harus ibu lakukan?"
"istighfar dan ikhlas, mama juga manusia biasa."
Setelah penjelasan dari anaknya yang Raja, barulah bu Sukma terlihat tenang.
"baiklah kalau begitu, hanya karena padi sumbang, mama jadi kehilangan padi yang berkualitas.
Toh juga polisi sudah melihat apa yang dilakukan polisi kan, dan juga korban nya adalah anak-anak dari pelakunya.
kenapa sih ngak dari tadi ngomong seperti itu ke mama?"
"gimana mau ngomong, mama sudah terlihat sangat bingung, dan kalimat itu keluar setelah melihat Bernat."
Kami saling tersenyum menanggapi ucapan bang Raja, anak dari bu Sukma.
"maaf ya nak Bernat, sudah mengganggu mu."
__ADS_1
"ngak apa-apa kok bu, lagian juga dalam situasi seperti ini kita bisa bingung dan tidak tau harus berbuat apa."
Beginilah hidup, ada saja yang buat kita bingung harus berbuat apa.