
POV Anggi*
Duduk di kursinya, Anggi terlihat gelisah dan dia dikejutkan oleh dua perawat nya yang datang menghadap nya.
"maaf dokter, kami berdua mau mengundurkan diri. kami berdua sudah tidak mendapatkan gaji selama dua bulan, kami butuh makan dan juga kami punya keluarga."
Ujar salah seorang perawat yang disambut tatapan tajam dari Anggi.
"maksud kalian berdua apa? untung kalian berdua saya pekerjakan, di luar sana banyak orang yang antri yang mau kerja di sini."
"baguslah kalau begitu dok, itu artinya dokter Anggi mudah mencari perawat pengganti kami, kalau begitu kami pamit ya dok."
"enak aja main keluar seenaknya, bayar denda sesuai kontrak kerja."
"baik kalau begitu, tapi penuhi dulu kewajiban dokter untuk membayar gaji yang sudah nunggak tiga bulan."
"kalian lihat kan keadaan kita, pasien jarang yang datang kemari, bagaimana saya bisa membayar gaji kalian?"
Kedua perawat itu menghela napasnya dan terlihat jelas kekecewaan dari raut wajahnya.
"begini ya dokter, kita sudah bersumpah melayani pasien tanpa memandang suku, ras, agama dan negara.
Bagiamana pasien datang kemari kalau dokter memilih-milih pasien yang datang dan harus orang kaya baru dokter layani.
Mungkin dokter lupa akan surat kontrak kerja, bahwa di dalam pasal lima dinyatakan dengan jelas, kalau dokter sebagai pemilik klinik akan memberikan upah atau gaji kami dengan tepat waktu.
Apalagi dokter melalaikan kewajiban maka kami perawat dan karyawan lainnya berhak menuntut dokter.
Kami berdua masih berbaik hati karena tidak menuntut dokter untuk memenuhi kewajiban Mu.
Kami hanya meminta untuk berhenti kerja dan dokter mau menuntut kami.
baik jika itu mau dokter, kita saling menggugat aja kalau begitu."
"capek menghadapi kalian berdua, sana pergi dan saya tidak butuh perawat yang tidak profesional seperti kalian berdua."
Jawab Anggi yang akhirnya mengalah dan tidak lagi menahan kedua perawat itu.
"apalagi? mau berhenti kerja juga?"
Ucap Anggi yang membantah ibu-ibu paru baya yang datang menghadap nya.
"iya....
karena sudah tiga bulan dokter ngak menggaji Ku.
Ramses...... sini nak, ini dokter yang tidak menggaji mama selama tiga bulan."
Seorang pria besar menghampiri Anggi dan langsung meraih kerah bajunya.
"berikan gaji mamak Ku, kalau ngak ku habisi kau."
__ADS_1
"a.....a.....ambil di laci......"
Pria berbadan kekar melepaskan Anggi dan memerintah Anggi untuk memberikan gaji nya secara langsung kepada mama nya.
"dokter kampret.....
kedua perawat itu adalah sepupu ku, berikan juga gaji mereka, cepaaaaaaaattttttttt....."
"s....a......y.....a ...... tidak punya uang lagi."
"itu bukan urusanku, berikan sekarang juga gaji kedua sepupuku itu, cepaaaaaaaattttttttt......"
"s....a.....b.....a.....r........"
Kemudian Anggi meraih handphone Nya dan menghubungi seseorang, terdengar dari percakapannya dan sepertinya Anggi menjual semua peralatan medisnya kepada seseorang.
Benar saja karena tidak berapa lama, klinik tersebut kedatangan tamu, dua orang perempuan dan satu orang laki-laki.
"berhubung semua nya sudah bekas, jadi sesuai kesepakatan kita, saya akan membayar semua seharga tiga tiga juta Rupiah."
Ujar pria itu dan kemudian memberikan surat dan ditandatangani oleh Anggi.
"sudah saya transfer sebagian dan sisanya cash."
Ucap pria itu lagi dan mengeluarkan amplop besar yang ternyata isinya adalah uang lalu diserahkan kepada Anggi.
"ini kunci klinik ini ya dan terimakasih ya pak."
Kemudian Anggi memberikan dua amplop ke tangan laki-laki yang mengancamnya dan amplop itu langsung di terimanya kemudian dihitung nya.
"gaji satu perawat selama tiga bulan hanya satu juta?"
Teriak pria itu dan kemudian Anggi memberikan uang lagi.
"sesuai kesepakatan gaji perawat dua juta rupiah per bulan nya, dan itu sudah termasuk semuanya."
"dua juta rupiah di kali tiga bulan, seharusnya per orang mendapatkan enam juta tapi ini baru tiga juta."
Akhirnya Anggi melunasinya dan pria itu segera pergi bersama mamanya.
Begitu dengan Anggi, setelah membereskan barang-barang nya lalu pergi dari ruko itu, ruko yang menjadi tempatnya bekerja sebagai dokter gigi.**
Tiga kardus barang yang dibawanya dari klinik dan kini Anggi berdiri di depan pintu rumah yang sederhana.
"loh....loh.....
kenapa banyak barang seperti ini bang? abang baru belanja ya?"
"ngak usah banyak nanya Tari, aku dah pusing ini, mendingan buatkan aku kopi sekarang."
"a....p....a.....?
__ADS_1
makan abang bilang? mana uang belanja? dari mana aku beli beras sementara uang belanja ngak pernah abang berikan."
"jadi istri itu jangan matre, suaminya lagi kesusahan begini bukannya menenangkan suami malah mintak uang belanja."
"jangan banyak bacot kau bang, kalau miskin jangan sok-sok beristri dua.
Berikan sekarang uang belanja cepat......"
Sang istri yang bernama Tari itu menggeledah tas Anggi dan mendapatkan uang tunai dari hasil penjualan alat-alat medisnya.
"kok banyak uang abang?"
"puas kau kan menggeledahnya, abang sudah bangkrut dan alat-alat medis itu sudah abang jual semuanya."
"a....p....a.....?"
Istrinya Anggi sangat terkejut mendengar pengakuan suaminya.
"dengar ya bang, bapak Ku yang mendanai perlengkapan medis mu itu dan sebagian lagi dari hasil menjual perhiasan Ku.
Berapa abang jual semuanya?"
"tiga ratus juta, dan ambil aja yang ada d dalam tas, sisanya ada di rekening abang untuk Siti."
"enak aja untuk Siti, pelakor yang miskin itu tidak berhak mendapatkan apapun dari harta orang tua Ku.
Kurang ajar kau ya bang, kau suruh orang tuaku membiayai istrimu yang lain, dasar biadab."
Kemudian Tari mengambil kartu atm suaminya, handphone serta dompet nya secara paksa.
Sepertinya Tari mengetahui pin m-banking suaminya dan terlihat mengotak atik handphone milik suaminya.
"bapak ku menginvestasikan uang nya sebesar tiga ratus ke klinik mu bang, dan saatnya abang mengembalikan itu dan semua sudah sesuai.
Sudah aku sisakan satu juta untuk mu, dan semua aku ambil termasuk mobil."
"kamu jangan jadi istri durhaka Tari, neraka jahanam bagi istri yang durhaka."
"makan tuh neraka mu, menurutmu kau ngak durhaka sama saya dan anak-anak kita?
Bapak Ku yang memodali klinik mu, tapi istrimu yang lain yang kau nafkahi, sementara saya harus kerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan anak-anak kita.
Neraka jahanam kau bahas? kau dan si pelakor itu yang pantas masuk neraka jahanam.
pergi kau dari sini sekarang juga....
pergi......."
Tari berteriak kepada suaminya dan mengusirnya setelah mengambil semua yang menjadi haknya.
"Jangan egois kau Tari, saya ini suami Mu."
__ADS_1
Ucap Anggi yang berteriak-teriak tapi sang istri tidak memperdulikannya lalu menutup pintu rumah untuk suaminya.