
Ternyata tertawa itu menular, dan akhirnya kami tertawa lagi dan lagi.
"sebenarnya ya bu, percuma ibu curhat sama Bernat, karena tidak ada solusinya dariku.
Apa yang ibu alami hampir dengan yang Bernat alami, bahkan jauh lebih parah dan menyayat hati.
Bernat dikatakan tertipu lah bu, bang Firman berkata untuk mengambil pendidikan spesialis.
Tapi malah nikah, dan Bernat setiap bulannya mengirimkan uang untuk istrinya pertamanya, sampai pada akhirnya Bernat sadar bu.
Ketika transfer uang Bernat hentikan, mereka mulai menyerang."
"sebentar nak Bernat, kenapa harus transfer? dan siapa mereka yang dimaksudkan?"
"panjang ceritanya bu, tapi karena ibu juga curhat maka Bernat akan curhat juga.
Kami itu lima bersaudara....."
"sebentar ya....
Raja......
sini dulu nak..."
Ibu Sukma memanggil seseorang yang bernama Raja, yang duduk di meja kasir dan dengan segera laki-laki itu menghampiri kami.
"nak Bernat, kenalkan ini anak ibu namanya Raja."
Lalu kami berkenalan dan duduk kembali seraya disajikan kopi seperti yang ibu Sukma minum.
"lanjut nak Bernat."
"kami itu lima bersaudara dan ibu kami sudah meninggal, sebenarnya kami masih punya ayah tapi tidak mengakui kami.
Ibu adalah istri siri dari ayah kandung kami, entah kenapa ibu serta kakek dan nenek, maksudnya almarhum dan almarhumah bisa tertipu.
Waktu ayah mengaku lajang dan bekerja sebagai pegawai negeri sipil, tapi karena tuntutan kerja sehingga tidak bisa mendaftarkan pernikahan secara hukum negara sampai waktu tertentu.
Tibalah waktu itu, sehingga mendiang ibu kami bersama kakek dan nenek menuntut ayah kandung untuk mendaftarkan pernikahan.
Tapi ayah malah menjatuhkan talaknya kepada ibu dan akhirnya bercerai.
Ayah tidak mengakui kami sebagai anaknya, kecuali tiga abang-abang Bernat.
Bang Damar yang paling besar, lalu bang Firman dan Anggi, yang ke empat almarhum bang Jepri dan yang paling kecil itu Bernat."
haaaaaaaa.......
Anaknya bu Sukma menghela napasnya, sehingga membuat ku berhenti bicara.
__ADS_1
"tapi kenapa si Firman ngaku sebatang kara di dunia ini? bahkan dia berkata kalau kuliahnya seratus persen beasiswa bahkan mendapatkan uang saku dari pemerintah."
"entahlah bang, mereka bertiga memang seperti itu, bahkan waktu nenek dirawat di rumah sakit tempat bang Damar kerja, kami di akui saat itu.
Mungkin karena malu atau apapun itu jenis nya, sehingga malu mengakui kami sebagai saudaranya.
Memang beasiswa tapi itu hanya uang kuliahnya aja, jamannya itu uang kuliah per semester hanya lima ratus ribu rupiah.
Tapi yang mahal itu adalah biaya hidup dan biaya belajar nya, mulai dari beli buku, praktek dan sebagainya.
Dulu abang-abang ku itu memilih ngekos di dekat tempat kuliahnya, katanya biar jangan kecapean bolak-balik dari rumah ke kampus.
Tapi kalau di pertimbangkan ngak jauh amat kok, naik angkot hanya satu jam aja.
Tapi mereka memilih untuk ngekos, dikarenakan lagi rumah yang kami tinggali itu ada ternak hewan.
Katanya bau lah, dan tidak nyaman dengan aroma nya.
Tapi kandang kami masih berjarak beberapa meter dari kandang ke rumah, dan sepanjang jalan itu kami tanami beberapa sayuran dan juga bumbu dapur lainnya.
Saluran pembuangan kotoran ternak yang terintegrasi dengan baik, dan olah untuk keperluan gas dan juga kompos.
Jika menimbulkan bau, otomatis warga sekitar pada komplain dong.
Tapi ini ngak, dan dari situ para warga lainnya mintak di ajarin membuat kandang ayam yang tidak menimbulkan bau tak sedap.
Rata-rata warga ditempat tinggal kami itu berternak."
Sanggah bang Raja, anak dari bu Sukma yang tiba-tiba memotong pembicaraan.
"mendiang bang Jepri membutuhkan perlakuan khusus, dulu waktu kecil pernah step.
Tapi terlambat mendapatkan pertolongan medis hanya karena keegoisan ayah kandung kami.
Singkat cerita, setelah merasa mereka harus mandiri sehingga Bernat menghentikan transfer dan mulailah serangan itu.
Pertama sekali, mereka menggugat rumah berserta kandang ternak yang merupakan peninggalan kakek dan nenek.
Karena itulah nenek syok dan berakhir harus pergi untuk selamanya, tidak sampai disitu. abang kami yang paling besar yaitu bang Damar.
Memalsukan surat tanah lalu menjualnya kepada seseorang, dan terakhir menggugat hak peralihan rumah serta hak perwalian mendiang bang Jepri.
Untuk hak peralihan rumah, mereka kalah di pengadilan dan gugatan hak perwalian bang Jepri masih mandat di pengadilan.
Itu dikarenakan mereka membunuh bang Jepri."
drrrt..... drrrt ...... drrrt ......
Handphone Rahayang bergetar membuat ku berhenti bicara.
__ADS_1
"Aisyah Mak....."
Ujar bang Raja dan kemudian menjawab panggilan telepon tersebut seraya mengaktifkan loud speaker handphonenya.
"mas Firman ditangkap polisi bang, Asiyah harus ngapain?"
Seketika ibu Sukma langsung meraih handphone itu.
"biarkan aja, laki-laki bejat seperti itu tidak layak untuk hidup di bumi ini.
Mulai besok Asiyah kemari dan mulai bekerja disini, jangan hanya bisa meminta uang."
"tapi mas Firman melarang Aisyah untuk kerja, perintah suami tidak bisa di...."
"mati aja kau disitu, kau kira nya mama dan saudara-saudara ini budak untuk mu.
Sadar Aisyah.... sadar......
Ngak kerja ya ngak makan, enak aja mau mintak aja."
tut.....tut....tut.....
Sambungan telepon terputus dan ibu Sukma menghela napasnya.
"dengar sendiri kan Bernat, entah ideologi apa yang ajarkan abang itu untuk putri ibu.
Sebenarnya ibu kasihan loh nak, tapi bagaimana jika ibu sudah mati? lalu Asiyah dan anak-anaknya gimana? sampai kapan perempuan bodoh termakan ideologi sesaat dari si Firman brengsek itu.
Bingung ibu nak."
Memang benar-benar di luar nalar pikiran, ideologi apa seperti itu?.
"nak Bernat, kamu tau kenapa abang mu itu di angkat polisi?"
"tau bu, Bernat sendiri yang melaporkan nya. mereka dengan jelas mengetahui kalau bang Damar melakukan eksperimen terhadap mendiang bang Jepri.
Eksperimen itu sekarang sedang di pelajari pihak kepolisian dan tim nya, karena mereka bersekongkol-kol membunuh bang Jepri.
Mentang-mentang bang Jepri seperti itu, dan sesuka hati mereka melakukan eksperimen terhadap nya.
Bernat ngak terima bu, karena bang Jepri juga sudah bekerja keras membiayai pendidikan, biaya dan juga istri-istri pertama mereka.
Mereka bertiga dan juga ayah kandung kami itu, harus bertanggungjawab atas perbuatan mereka.
Hanya karena uang, sehingga mereka rela mengorbankan nyawa saudara sendiri yang telah berjuang untuk hidup mereka bertiga untuk lebih layak nantinya.
Bernat benar-benar ngak terima bu, mereka bertiga menipu Bernat selama ini, masih bisa aku terima tapi tidak dengan perlakuan biadab mereka terhadap bang Jepri."
haaaaaaaa.......
__ADS_1
Bu Sukma dan anaknya menghela napasnya dan kemudian secara bersama-sama menatapku.