
Plak.......
"auhhhh....."
Risa meringis kesakitan karena Tiara memukul tangannya dengan penggaris karena hendak meraih tanganKu.
"sakit loh kak."
"makanya jangan gatal, bude sudah mempercayakan kamu itu ke kakak, jangan macam-macam ya.
jangan mengotori pikiran Bernat, selain sebagai bos di tempat kerja, Bernat juga merangkap menjadi adikku.
paham kamu anak gadis?"
"paham kak."
Bang Jidan hanya tersenyum menanggapi Risa dan Tiara.
"nanti bang Bernat tidur dimana?"
"kenapa Risa? terserah Bernat dong mau tidur dimana, tapi yang jelas kita berdua harus tidur sekamar, supaya kau ngak macam-macam."
"iya....iya ...iya deh......
ngak di peternakan, ngak disini. selalu ada aja yang menjadi ibu tiri.
Kak Tiara tau ngak, kalau bude ku itu lebih kejam dari ibu tiri.
Sanggup itu bude berkeliling nyariin Risa dan kalau sudah ketemu di suruh pulang dengan paksa.
kejam kan?"
"entahlah iya Risa, suka hati bude mu lah, siapa suruh tinggal sama bude Risma?"
"mama ku yang nyuruh tinggal di rumah bude, dan berpesan kepada bude, bebas melakukan apapun terhadap ku asal Risa tetap hidup."
hahahaha haha hahahaha hahahaha haha haha haha haha hahahaha haha haha haha
Bang Jidan dan bang Adam tertawa mendengar penjelasan dari Risa, sungguh sangat menakjubkan.
"Risa.....
yuk tidur, biarkan para cowok-cowok disini."
"bentar lagi kak."
"Risa....."
Dengan manyun dan akhirnya Risa mengikuti kak Tiara masuk kamar dan lagi-lagi bang Jidan dan bang Adam tertawa.**
Pagi-pagi sekali kak Tiara sudah membangunkan kami agar segera beres-beres dan mandi.
Setelah semua mandi dan kami berkumpul di meja makan dan makan secara bersama-sama.
__ADS_1
Selesai makan dan saatnya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk adek-adek.
Kak Tiara di drop di kantor administrasi, sementara aku dan Risa ke rumah sakit dan bang Jidan akan menyusul bang Adam ke kantor polisi.
Sesampainya di ruang rawat adek-adek dan terlihat mereka bertiga begitu bahagia karena dijaga oleh gadis-gadis yang cantik.
"maafkan abang ya, karena meminta kalian bertiga ke...."
"sudahlah bang...
namanya juga kecelakaan, dan itu bukan salah abang.
oh iya, emangnya abang mau menyampaikan apa di Kafe itu?"
Ujar Togu, mungkin dia berkata seperti itu agar aku tidak terlalu merasa bersalah.
"loh....loh.....
kalian sudah bisa gerak ya?"
Dengan tersenyum lebar, Riyan dan Juna berjalan yang dibantu oleh gadis-gadis cantik untuk berkumpul di ranjang Togu.
"abang ngak perlu kwatir, kami itu di jaga dan di rawat oleh calon istri kami masing-masing."
drrrt..... drrrt..... drrrt......
Handphone ku bergetar dan itu membuat Riyan berhenti bicara, sebenarnya aku mendengar lebih banyak lagi cerita dari mereka ini.
Ternyata bang Yusuf yang menelpon dan memintaku untuk menemui pemilik tanah yang sudah tiba di kota kecil ini.
Setelah bu Risma tiba di rumah ruang rawat ini dan aku langsung pergi untuk menemui pemilik tanah.
Bang Jidan sudah menungguku di depan pintu masuk rumah sakit dan kami langsung menuju ke suatu tempat.
Akhirnya kami tiba disebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit dan ternyata pemilik tanahnya masih seumuran dengan bu Risma.
Lalu kami kenalan dan kami berdua dipersilahkan duduk berhadapan dengan sepasang suami-istri yang terlihat sangat bahagia itu.
"nak Bernat sudah menikah?"
Pasangan suami-istri itu sangat kompak bertanya kepada Ku, itulah ya kalau sudah jodoh, bertanya saja bisa kompak begitu.
"belum pak, Bu."
"Kebetulan sekali, kami punya anak gadis yang cantik dan juga mengambil kuliah jurusan peternakan.
Mau ibu kenalkan sama putri ibu?"
"maaf ya ibu, Bernat sudah memiliki gadis yang ingin Bernat nikahi. tapi saya berterimakasih atas kepercayaan ibu terhadap ku."
Tiba-tiba saja aku harus terdiam karena Risa sudah berada disini dan secara refleks aku berdiri dan mendekati nya.
"bapak..... ibu......
__ADS_1
Ini gadis yang ingin Bernat nikahi, namanya Risa."
Risa tersenyum dan senyuman itu sangat manis dan membuat jantung ku ini semakin berdebar-debar.
"ngapain kemari dek?"
Bukannya menjawab pertanyaan Ku, Risa malah salim kepada pemilik tanah itu.
"pucuk di pinta jodoh pun tiba."
hahahaha hahahaha hahahaha haha haha haha haha haha haha haha haha haha
Pemilik tanah yang bernama pak Ishan itu berdiri dan memeluk ku demikian juga dengan Istrinya yang bernama mawar.
"Risa kok ngak ngomong kalau punya calon suami pria sehebat ini?"
"Risa juga ngak tau ma, ngak kalau bang Bernat suka sama Risa."
Berarti pemiliknya tanahnya adalah orang tuanya Risa?
Sungguh sangat malu dan ntah lah, bingung mengungkapkannya.
Bang Jidan sepertinya menahan tawanya sedari tadi, mungkin karena melihat ekspresi ku saat ini.
"jangan gitu nak Bernat, masa putri kesayangannya ku nak Bernat gantung begitu."
Bang Jidan menarik tanganku yang masih berdiri sedari tadi dan kemudian memberikan minumannya untuk ku.
"tenang...... tenang........
tarik napas dalam-dalam dan buang pelan-pelan anak muda."
Aku melakukan seperti yang diarahkan oleh bang Jidan dan melakukannya berkali-kali dan akhirnya tenang juga.
"aku hanya berpikir pak, bu. untuk menanyakan kepada diri ku sendiri akan semua yang aku alami dan yang akan aku jalani nantinya.
Sejak pertama kali putri bapak dan ibu, datang ke peternakan Bernat dan situ juga aku jatuh hati untuk pertama kalinya.
Bernat gugup dan tidak tau harus berbuat apa, dan terus bertanya-tanya apakah aku sanggup untuk membina cinta dalam bahtera rumah tangga nantinya.
Harus berpikir jernih dan tidak boleh gegabah, karena pernikahan itu bukan perkara mudah karena akan itulah hidup yang harus di jalani ke depan nantinya.
Jangan gegabah dan buru-buru untuk mengambil sikap dan keputusan, setelah berpikir dan berikhtiar serta mendapatkan wejangan dari orang-orang baik disekitar Bernat dan sekarang lah saatnya.
Bernat sudah benar-benar yakin untuk menikahi putri bapak dan sudah matang."
Dengan tangan bergetar dan aku meraih kotak cincin dari saku switer yang aku kenakan kemudian aku berlutut di hadapan Risa yang duduk di samping mama nya.
"cincin ini sudah aku beli sejak tiga hari yang lalu, setelah abang benar-benar memantapkan diri.
Di hadapan kedua orang tua mu dan juga bang Jidan selaku penasihat hukum.
Saya ingin melamar mu menjadi istriku, maukah kamu menikah dengan Ku?"
__ADS_1
"Risa bersedia bang."
Entah kenapa air mata ku tiba-tiba mengalir di pipi ini dan tanpa keraguan, cincin itu aku lingkarkan di jari manisnya Risa tanpa memperdulikan air mataku yang mengalir.