TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Menyerahkan Keponakan ke Panti Asuhan.


__ADS_3

Aku baru sadar dari hayalan ku ketika bu Lia menawarkan air hangat kepada ku, seketika air hangat itu langsung aku teguk sampai habis.


"menurut ibu, apakah Bernat kejam mengirimkan keponakan ku sendiri ke panti asuhan?


Bernat mampu secara finansial bu, apakah...."


"cukup Bernat, kamu memang mampu secara finansial, tapi tidak dengan jiwa.


Nak Bernat sudah lelah akan yang namanya persaudaraan, sudah saatnya lemparkan semua beban itu dan mulailah hidup baru.


Buka hati mu untuk cinta, dan hargai diri mu sendiri.


Tidak perlu berkorban perasaan dan juga kesehatan mental mu kelak nantinya.


Kamu akan dinyatakan kejam ketika mental mu terganggu dengan bocil aneh ini dan akhirnya mengelantarkan seluruh usaha mu tempat banyak karyawan mu menggantungkan nasibnya disana.


Nantinya nak Bernat cukup menjadi donatur aja di panti asuhan itu dan sudah saatnya nak Bernat bahagia.


Ibu sudah mengetahui apa yang telah nak Bernat lakukan.


Kamu itu sudah seperti malaikat tak bersayap.


Anak-anak yang lain di masa kecilnya, bermain dan belajar, sementara nak Bernat. sudah harus bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.


Disaat anak-anak yang menginjak masa remaja, mereka sekolah dan bersenang-senang, sementara nak Bernat harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan ketiga saudara-saudara mu.


Disaat anak-anak yang lain dalam puber, mereka belajar dan bercengkrama ria. sementara nak Bernat harus kerja keras.


Itu semua demi siapa?


Demi keluarga dan saudara-saudara mu nak Bernat.


Bahkan nak Bernat hanya mencicipi pendidikan sebatas sekolah dasar, sangat banyak kenangan yang tak kau raih.


Masuk SMP kemudian SMA lalu kuliah, semuanya nak Bernat lewati dan hanya berkecimpung dengan ternak dan ternak.


Siang malam nak Bernat harus kerja banting tulang, tiada kata istrihat bagimu.


Lantas apa yang kamu peroleh dengan perjuangan dan keras mu nak Bernat?


Jika nak Bernat masih berhati malaikat seperti dulu, kapan lagi kamu bahagia nak. hidup itu singkat anak ku.


Jika seandainya reinkarnasi itu benar-benar terjadi, ibu ngak yakin mereka akan hal sama terhadap dirimu.


bisa saja kejadian ini akan terulang nak Bernat, tidak ada yang tahu nasib kita setelah kematian terjadi.


Sudahi semuanya dan mulailah hidup bahagia.


Bagaimana menurutmu nak Juna?"


"semua yang ibu katakan benar adanya, dan Juna sangat setuju.

__ADS_1


bang Bernat....


Kedua keponakan abang ini, masih dari satu saudara abang dari istri keduanya.


Kemudian anak dari istri pertama gimana?


dua saudara yang lain gimana? Juna yakin kalau kedua saudara bang Bernat memiliki anak-anaknya yang lain juga.


Lalu bang Bernat akan mengadopsi semua anak itu?


Mulia sekali....


Tapi kalau bang Bernat ingin beramal dan mengabadikan hidup seutuhnya untuk sosial silahkan bang.


Cara seseorang beribadah itu berbeda-beda, kali aja ini cara bang Bernat.


Bang Bernat tau kan kalau Togu itu banyak memelihara anjing.


Anjing-anjing itu kami pelihara dengan baik, dan asal abang ketahui ya, anjing-anjing seperti tahu membalas budi.


Kami bersama-sama menjaga ternak, kalau baru bertemu dan anjing-anjing itu mengibaskan ekornya dan terlihat bahagia ketika kita bertemu.


Bisa di ajak bermain, menjadi keamanan dan sebagainya.


Anjing saja tahu balas budi bang, masa manusia yang memiliki anugerah akan dan pikiran, tapi tidak bisa balas budi setidaknya saling mengasihi lah."


Setelah semua rentetan peristiwa dan apa yang aku alami selama ini, bahkan aku kehilangan bang Jepri dengan ini aku putuskan.....


sebelumnya saya berterimakasih kepada ibu dan semua keluarga saat ini yang selalu ada untuk Ku.


Saran ibu dan keluarga yang Bernat cintai, saya terima."


Juna langsung memelukku dan kemudian melepaskan pelukannya, air matanya mengalir dan sorot matanya yang terlihat memancarkan kebahagiaan.


"terimakasih bang Bernat, untuk semuanya dan buka lah hati mu untuk menerima cinta yang baru.


Cinta dari lawan jenis dan sudah saatnya kamu bahagia bang.


Kelak kami bertiga akan menikah jika bang Bernat sudah menikah."


"eits.....


ada apa ini? ibu kok ketinggalan berita ya."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Juna langsung tertawa dan aku paham apa yang ada dalam pikirannya.


"ada anak gadis yang sangat menyukai....."


brak....prang.......brak......

__ADS_1


Kedua anak Anggi itu beraksi lagi, karena lepas dari genggaman Juna, dan hal itu membuat Juna berhenti bicara dan langsung meraih kedua bocil bringas itu.


Beberapa pajangan yang terbuat dari kaca, dan juga pot bunga di ruangan bu Lia ini hancur berantakan karena mereka berdua.


"nak Bernat sanggup menghadapi tingkah kedua keponakan mu ini?


kalau ibu sih ngak, bisa-bisa ibu gila seketika dan berakhir di rumah sakit jiwa.


Anak ibu ada empat orang, dan dua anak yang ibu adopsi dari panti asuhan tapi ibu bahagia.


Itu semua karena ibu berusaha memberikan pengajaran dan kasih sayang terhadap mereka."


Hanya bisa menghela napas panjang, sementara Juna terlihat kewalahan mengamankan kedua bocil itu.


Pintu diketuk seseorang dan ibu Lia, memintaku untuk pergi ke belakang kantornya yang merupakan gudang barang.


Dari gudang yang hanya satu dingding dengan ruangan ibu Lia jelas terdengar percakapan mereka.


Ternyata yang datang adalah petugas dari panti asuhan, dimana panti asuhan itu berada di naungan dinas sosial.


Berselang beberapa menit kemudian, terdengar suara ibu Lia memanggilku dan memintaku untuk keluar dari gudang.


"keponakan mu sudah aman, sekarang pulang lah nak dan istrihat serta tenangkan pikiran Mu."


"terimakasih ya bu, semua kerusakan dan kerugian supermarket, tolong ibu catat dan kirimkan tagihannya ke kantor Bernat."


"gampang itu mah, kita bisa barter nanti sesuai dengan jumlah nya."


Akhirnya kami berdua pamit ke ibu Lia, hari ini banyak pelajaran hidup yang bisa aku petik dari semua kejadian yang telah terjadi.


Aku tidak mengerti kenapa kedua anaknya Anggi terlihat brutal dan over aktif.


Terlihat lucu tapi hanya sebentar bersama mereka, jiwa ku seperti terguncang hebat.


Juna yang menyetir mobil, karena aku sudah sangat lelah.


tin.....tin....tiiiiiin.......


"itu perempuan yang mengendarai motor kenapa ya?


kita ngak salah jalan kan bang? atau abang kenal perempuan itu?"


Juna yang sedari tadi konsentrasi menyetir dan tiba-tiba dari arah belakang ada motor yang membunyikan klakson nya.


Aku memang meminta Juna untuk berhenti, tapi agak sulit karena jalanan agak rame dan tidak ada tempat untuk parkir.


"Juna....


di depan ada kafe, singgah aja disana. kali aja itu perempuan seorang polisi atau membutuhkan bantuan kita."


Juna berusaha mengarahkan mobil ke kafe dan akhirnya kami bisa parkir di depan kafe lalu perempuan yang mengendarai motor itu pun parkir.

__ADS_1


__ADS_2