
POV Damar.*
Baru saja Reva istri kedua Damar keluar, kini pengacara Bernat yang bernama Jidan menemuinya lagi.
"saya tau kok kenapa anda bisa lepas dari penjara, itu karena koneksi anda sesama dokter bejat seperti anda.
Bersama tim, kami akan melakukan pengajuan keberatan atas lepas nya anda dari penjara ini, sekaligus mengorek komplotan anda dalam hal eksperimen terhadap mendiang Jepri.
Saya yakin ada beberapa dokter gila seperti anda, yang mengorbankan nyawa orang lain demi ambisi yang kotor."
"terserah kamu mau bicara apapun, tapi yang saya mau, tolong beritahu kepada Bernat untuk membiayai anak-anak ku."
"Kenapa klien saya harus menafkahi hidup anak-anak anda?"
"karena Bernat itu om dari anak-anak Ku, jika Bernat memang manusia pasti dia akan menafkahi anak-anak Ku."
"lantas anda merasa manusia? membunuh adik sendiri dengan eksperimen medis yang konyol.
klien saya sudah lelah menjadi budak saudara-saudaranya, mulai dari biaya hidup, pendidikan bahkan sampai nafkah para istri-istri pertama dari saudaranya."
"baik kalau begitu, saya akan meminta kepada anak-anak ku dan juga saudara-saudara ku yang lain untuk terus-menerus mendatangi Bernat.
bila perlu meneror nya, sampai habis semua harta kekayaan yang dimilikinya."
"silahkan..... silahkan......
capek juga ya bicara sama anda, dan saya berharap anda membusuk di penjara ini."
Ucap Jidan dan kemudian meninggalkan Damar di ruangan itu.
Ternyata sudah beberapa orang yang antri ingin bertemu dengan Damar.
"Clara.....
kok kamu tau kalau abang di tahan disini?"
"iya tau bangsat....
saya tau dari pelakor itu, si Reva bangsat itu. kenapa hanya Reva yang bisa menikmati penjualan dua ruko itu bang?
lalu kami gimana? kami di usir dari sana, terus kami mau tinggal dimana?"
"mintak bantuan dulu sama Bernat, atau jadi pegawai Bernat aja di peternakan nya."
"nazis....
percuma kau bang anak orang kaya, punya dua ruko dan hanya Reva.
Harus adil bang, satu ruko sudah untuk ku dan anak-anak bang."
"tapi ruko itu bukan punya ku Clara....."
"terus itu punya siapa bang Damar?"
__ADS_1
Damar menghela napasnya, mungkin karena sesuatu rahasia yang harus di unangkapkan olehnya dan terlihat rahasia itu sangatlah berat.
"ruko itu fasilitas dari pendana atau investor atas penelitian kami yang gagal.
Ruko itu akan diambil lagi pemilik nya, sementara surat tanah yang dimiliki oleh Reva itu adalah palsu.
Itu demi kamuflase agar tidak diketahui oleh pihak pemerintah, seolah-olah kedua ruko itu milikku dan melakukan aktifitas klinik di dalamnya dan juga demi memperoleh pinjaman uang pada rentenir."
"gila..... gila..... gila kau bang, bagaimana jika Reva dan saudara nya tau kalau itu palsu bang Damar?"
"kalian akan di bunuh oleh saudara nya, karena itulah pergi dan bawa anak-anak untuk menghindari amukan saudara laki-lakinya."
"aku capek menghindar terus, mulai perbankan, koperasi dan rentenir.
Semua harus aku hindari bang, bisa-bisa aku gila di buat nya.
Tidak bisa gini terus, aku sudah memberikan waktu kepada mu bang, waktu untuk memperbaiki semua ini.
Aku juga sudah mintak tolong sama Bernat, dan kami di tolak nya, wajar di tolak nya karena abangnya sudah membuat nya kecewa dan hampir gila.
Clara akan pergi ke luar negeri untuk menjadi TKW (tenaga kerja wanita) dan akan meninggalkan anak-anak di rumah kos sementara ini.
Aku ngak perduli dengan semua ini, terserah jika mau di bunuh oleh kedua ipar mu itu.
Sudah muak dengan semua janji-janji mu, orang miskin yang belagu."
"jangan tinggalkan anak-anak Clara, kamu harus memperjuangkan anak-anak kita."
kau suruh aku berjuang untuk anak-anak sementara kau dulu enak-enak kawin dan kawin dengan perempuan lain.
Sakit hati ini Damar, saya ngak perduli lagi. saya muak dengan dalil mu yang hanya membenarkan perbuatan yang salah."
plak...... plak......
Sebelum pergi meninggalkan Damar, istri pertamanya menamparnya.
Antrian selanjutnya adalah seorang wanita muda, dengan perutnya yang buncit.
"Arsy......"
"ngak usah kaget gitu bang, saya tau kau disini dari istri kedua mu.
Arsy datang kemari untuk memberitahu kau, kalau Gavin sudah ku jual kepada pak Bondan, orang yang mendanai penelitian Mu.
Selanjutnya anak yang ku kandung ini, akan ku jual setelah lahir ke dunia ini."
"kamu sudah gila Arsy....
Kenapa kau menjual Gavin? karena Gavin akan menjadi objek eksperimen nantinya."
"bodoh amat, biar sama seperti adik mu itu, sama-sama objek eksperimen.
Aku menjual Gavin untuk mendapatkan uang, karena kau telah menipu anjing....
__ADS_1
kau bilang kau lajang, dan punya penghasilan yang lumayan sebagai dokter.
Kau itu tidak lebih dari seorang penipu, dan anak mu ini, akan segera lahir dan itu artinya aku segera mendapatkan uang."
plak....plak....
Perempuan itu sudah pergi setelah menampar dua kali di pipinya, dan raut wajahnya penuh dengan kekecewaan.
Kemudian petugas menghampiri Damar, dan menatapnya dengan tatapan yang sinis.
"gara-gara dokter penipu seperti kau, nama baik kami menjadi tercoreng.
Kejayaan mu hanya bersifat sementara kawan, dan saya sudah tidak sabar untuk melengserkan komplotan mu.
Masuk kau, muak kali aku nengok kau."
Petugas itu mendorong tubuh Damar agar cepat masuk ke dalam sel nya, seperti dendam tersulut di dalam hatinya.
"pak Arby, bawa dia ke ruangan 08, ada hal yang mau di tanyakan."
"siap laksanakan."
Damar dibawa secara paksa ke suatu ruangan dan berhadapan dengan petugas.
"saudara Damar, kami sudah menangkap sudah Ilham dan telah mengakui bahwa eksperimen itu adalah ide dari saudara Damar.
Menurut saudara Ilham, anda sendirilah yang mencari investor dari pihak luar. serta itu semua itu ide dari anda.
Saudara saksi dan bukti-bukti sudah kami dapatkan...."
"bohong....
itu hanyalah rekayasa dari Ilham, dia sendiri yang melakukannya dan aku kaki tangan nya.
Investor yang datang sendiri dan itu pemilik dua ruko itu.
Memang hasil eksperimen gagal pada percobaan pertama, dan akan dilanjutkan untuk percobaan kedua."
"apa benar itu untuk senjata biologis?"
"bukan, tapi untuk pengobatan kanker."
srrttt......
Darah segar mengalir deras dari lehernya, karena Damar memotong lehernya menggunakan pisau bedah.
Entah dari mana Damar memperoleh pisau bedah tersebut.
Damar sudah langsung ditangani oleh dokter lapas, sementara para petugas sibuk mencari informasi tentang siapa yang memberikan pisau bedah itu kepadanya.
Pertolongan pertama sudah diberikan kepada Damar, tapi fasilitas yang mendukung membuat Damar harus dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan pengawasan ketat dari pihak berwajib.
Damar sudah berada di ruang operasi dan tiga pihak berwajib berjaga-jaga di luar pintu kamar operasi.
__ADS_1