
Hari minggu pagi yang cerah dan setelah melakukan aktivitas seperti biasanya, lalu bersantai.
"Abang ngak jadi ketemuan sama bang Yusuf?"
"oh iya, untung kamu ingatkan yan."
Riyan menghela napasnya dan kemudian meminta ku untuk bersiap.
Tok....tok....tok.....
Pintu kamar di ketuk dan ternyata itu adalah Togu yang datang menghampiriku.
"kemarin Juna yang menemani abang keluar, dan sekarang giliran Togu."
"ngak perlulah go, istrihat aja atau jalan-jalan kek atau apapun itu yang ingin Togu lakukan."
"benar kata abang, dan inilah yang hendak Togu lakukan untuk menemani abang kemana pun pergi hari ini.
Abang ngak suka ya? kok kejam kali lah."
"iya iya..."
Daripada dia ngambek ya ikut aja deh, seketika itu juga Togu langsung mengambil kunci mobil dan meraih tas kecil yang biasa ku pakai dan diarahkannya kepada Ku.
Ketiga adik-adik ku sudah mahir mengendarai mobil dan tentunya sudah memiliki surat izin mengemudi.
"di hotel yang simpang itu kan bang?"
"iya, di lantai atas. katanya tempat itu sangat bagus."
"bagus kalau begitu, jadi nanti abang ada referensi tempat yang bagus untuk mengajak seseorang yang spesial di hati."
"apaan sih go, jangan ngaco gitu."
"kok ngaco bang? emangnya abang mau melajang terus?
Mendiang bang Jepri kan sudah bilang, jangan lupa bahagia."
"entahlah go, abang ngak yakin ada gadis yang mau sama laki-laki yang tidak berpendidikan dan riyawat keluarga yang amburadul seperti abang."
"jangan gitulah bang, ntar aja kita lanjut ya bang. karena kita sudah mau sampai."
Berhubung masih pagi di hari libur seperti ini, sehingga tidak terlalu macet dan kami tiba dengan cepat di hotel.
Bang Yusuf adalah anak sulung pak Bima, yang sekaligus rekan kerja ku yang mengeskpor daging ayam, sapi dan kerbau ke beberapa negara di asia tenggara.
Daging yang bersertifikat halal, untuk warga yang muslim di negara-negara asia tenggara dimana penduduknya mayoritas non muslim.
Pasar utamanya adalah negara Thailand, Filipina, dan juga Myanmar.
Saat ini kami berdua sudah naik lift menunju lantai atas dari hotel ini.
"kenapa bang Yusuf mintak ketemuan disini? kan punya rumah bang Yusuf disini."
"dengar-dengar sih karena menghadiri resepsi pernikahan rekan kerjanya gitu. karena ada tempat tongkrongan yang katanya asyik di atas."
__ADS_1
"ohhhh....."
Sanggahnya dan lift sepertinya sudah berhenti dan tibalah di lantai atas ini dan benar-benar luar biasa.
"adek-adek ku yang sangat-sangat hebat."
Itulah sambutan bang Yusuf, yang datang menghampiri kami dan langsung bersalaman.
"kakak dan ponakan disini juga bang?"
"kurang ajar ya go, yang menyapa kau itu abang, bukan kakak dan ponakan mu itu."
"hadehhh......"
Ucap Togu dan kami berdua langsung dirangkul oleh bang Yusuf menuju meja yang besar.
Disana sudah ada istri dan dua anak bang Yusuf yang masih kecil-kecil.
"kedua adik-adik ku makin tampan aja deh."
Kami berdua menyalami istri bang Yusuf yang sangat ramah, namanya Gita Ajeng.
"kakak belum ke rumah bapak ya?"
"nanti go, kemarin sore kami baru nyampe dan malam nya resepsi pernikahan nya. setelah selesai makan dan langsung ke rumah bapak."
"oh.....
kirain dah lupa rumah bapak dan ibu?"
"enak aja bilang lupa, ponakan mu sudah kangen sama opa dan Oma nya, kakak juga kangen, apalagi masakan ibu."
"abang-abang berdua, ngomong aja di meja lain, Togu mau main-main sama ponakan."
"enak aja, kamu harus go. nanti malam sampai besok siang kan masih bisa main di rumah bapak.
Kalau sudah tiba di rumah, bapak mu itu ngak mengijinkan abang ngomongin pekerjaan."
Ucap bang Yusuf kepada Togu dan menarik tangan nya untuk ikut bersama kami di meja lain.
Berhubung kamu sudah makan dan hanya memesan minuman serta makan ringan dan kami memulai obrolan.
"produk kita sudah semakin dikenal dan mengalami lonjakan pesanan, menurut kalian berdua gimana ini?"
"syukurlah bang, dan saat sudah menambah lokasi peternakan dan juga armada perang yang siap tempur.
Ada mahasiswa peternakan yang sedang melakukan penelitian dan semoga saja bisa bermanfaat yang menghasilkan produk yang berkualitas nantinya."
"waouuuuu.....
adek-adek abang memang bukan kaleng-kaleng dan sangat berinovasi."
Ucap bang Yusuf yang memujiku tapi tidak ekspresi nya.
"kenapa bang? ada masalah?"
__ADS_1
"tau aja kamu ya.....
abang sudah menganggap kalian sebagai adek sendiri.
Bapak menelpon abang dan curhat mengenai pribadi mu.
boleh abang bicara?"
"silahkan bang, ngak usah sungkan gitu. kyak orang lain aja."
"Bernat tau kalau bapak itu sangat kepo, dan curhat panjang lebar sama abang, yang ujung-ujungnya memintaku untuk memberikan solusi untuk mu.
Jadi begini dek.....
Ibu mertuaku punya saudara laki-laki dan memiliki tanah sekitar enam hektar di kota Palembang.
Jarak dari lokasi tanah itu dekat dengan pelabuhan dan jauh dari pemukiman warga, yang sebenarnya adalah kebun keluarga.
Jadi.....
Saudara ibu mertuaku ini meminta untuk mencari calon pembeli tanah itu.
Surat tanah nya sertifikat dan masih dikuasai, dan hendak dijual untuk modal anak-anaknya.
Ngak buru-buru kok, karena dua anaknya itu masih kuliah, satu kedokteran dan satu lagi peternakan.
Abang sarankan Bernat untuk membelinya, dan mulai membuat peradaban disana.
Beli tanah nya, lalu buat agunan ke bank dan nanti abang akan investasi disana untuk menambah modal mu.
Abang yakin bisa lebih banyak memenuhi pangsa pasar."
"gimana dengan yang disini bang?"
Seketika Togu memegang pundak ku dan menatapku dengan tatapan yang penuh harapan.
"abang kan punya tiga adek disini, serahkan sama kami. toh juga Palembang dan Medan tidak sejauh Amerika dan Indonesia bang.
Togu yakin kalau mereka-mereka itu tidak akan pernah berhenti mengganggu abang.
Belum lagi dari anak-anak ayahnya abang, dari istri-istri yang lain dan sebagainya.
Anggap aja cabang usaha dan abang menitoring aja.
Sudah saatnya move on dan berkarya lebih maju, saya pribadi adek abang yang paling tampan sangat-sangat mendukung.
Tabunganku sudah banyak bang, dan siap berinvestasi."
Aku dan bang Yusuf hanya bisa tersenyum mendengar pujian terhadap dirinya sendiri, diantara ketiga dari adek-adek ini, Togu lah yang paling narsis dan heboh.
Serta yang paling aneh, bisa-bisa dia mengajak kerbau dan lembu untuk ngobrol dan bertanya yang aneh-aneh.
Seolah-olah Togu paham akan bahasa hewan ternak kami.
Anjing peliharaannya seolah-olah mengerti dari setiap ucapan Togu dan nurut kepadanya.
__ADS_1
Disuruh guling-guling mau, disuruh jalan dengan tiga kaki mau dan hewan peliharaannya itu nurut aja.
Ajaib......