TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Tinggal Sementara di Lampung.


__ADS_3

Akhirnya kami tiba juga di rumah bapak-ibu mertua, yang merupakan rumah lamanya di peternakan saat ini.


Bapak-ibu mertua tetap meminta untuk tinggal disana, beternak dan berkebun.


Begitu kami sampai dan anakku yang disambutnya dan kami berdua di cuekin.


Hanya Riyan dan istrinya yang menyambut kedatangan kami dengan hangat, sementara mertua Ku sudah kalang asyik dengan cucunya.


Sebelumnya kami sudah bicara melalui telepon, dan untuk sementara Arpin dan Boy akan tinggal di rumah mertuaku.


Karena rumah ini ada empat kamar kosong yang siap ditempati.


Setelah istrihat yang cukup dan aku dan istri langsung disajikan makanan yang sangat enak.


Lagi-lagi mertuaku asyik dengan cucunya dan kami ditinggalkan di meja makan ini.


"Bang....


Peternakan sudah menghasilkan daging ayam dua ton per per tiga bulan Nya, dan mulai bulan depan, kambing kita dan itu juga beberapa ekor sapi sudah bisa di edarkan ke pasar.


Riyan sudah mendapatkan pelanggan yang baru, berupa hotel yang memiliki fasilitas gedung yang biasanya digunakan sebagai wedding dan sebagainya.


Beberapa restauran atau kafe, dan dua resor yang membutuhkan daging ayam, telur ayam, daging kambing serta daging sapi.


Mereka sudah melakukan survei kemari dan besok kita di undang ke kantornya untuk melakukan negosiasi ulang dan penandatanganan kontrak kerja."


"lihai juga kamu kerja ya."


"lumayan lah bang, karena Riyan menerapkan sistem kita yang di medan secara perlahan.


Untuk para karyawan di lapangan, Riyan mengambil para tetangga.


Kemudian di bantu istri yang di kategorikan ahli, bapak ibu mertuaku serta bapak ibu mertua abang.


Untuk tenaga keuangan sudah lengkap, hasil dari rekomendasi tetangga.


Sebenarnya ingin sekali mengembangkan peternakan ini, karena lahannya masih cukup lebar yang belum dikelola.


Hanya kurang tenaga ahli saja, dan ketika abang berkata kalau Arpin dan Boy mau kerja disini, begitu bahagia dan begitu senang rasanya.


Karena tambahan dua ahli sudah sangat cukup untuk mengembangkan peternakan ini agar lebih besar.


Jika Arpin dan Boy sudah masuk, maka perlahan akan membuka rumah potong hewan di sebelah utara dari lahan kita ini.


Untuk pegawai tinggal ngomong aja sama ibu-ibu yang ada disini."


Salut juga dengan perkembangan peternakan ini dan sudah bisa survive serta berkembang dengan baik.**


drrrt...... drrrt...... drrrt......


Kebersamaan ku bersama sang istri di kamar ini, harus terganggu karena handphone Ku yang berdering.

__ADS_1


'*iya Juna, tumben nelpon malam-malam gini?'


'begini bang, ada beberapa orang yang mengaku sebagai adik tiri mu, anak dari ayah kandung mu bang, dan juga anak-anak dari istri-istri dari Firman serta Anggi.


Mereka datang kemari setelah Abang dan kakak ke Lampung.


Seperti biasa mereka mintak uang dan sebagainya.


Lalu kami berkata kalau abang dan kakak sudah tinggal di Malaysia ikut bang Yusuf untuk berbisnis dan peternakan ini sudah abang serahkan kepungurusan kepada ku dan juga bang Togu.


Tapi mereka ngak percaya dan akan datang besok dan besok lagi, bila perlu mengintai abang.


sini biar aku aja yang menjelaskan*.'


Terdengar suara Togu, yang ingin menjelaskan secara langsung kepadaKu.


'*jadi begini bang, untuk sementara waktu dan kalau bisa selama setahun ini, abang dan kakak tinggal di Lampung aja dulu.


Tapi sesekali datanglah kemari, karena kami juga kangen sama abang.


Ngak usah menginap dan hanya perlu ketemu dan kemudian evaluasi pekerjaan dan hasil.'


'baiklah Togu, nanti abang bicara terlebih dahulu sama kakak mu dan juga mertua ya.'


'baiklah bang, ini semua demi kebaikan kita bersama kok.


jika mereka masih bandel dan tenang aja, ada warga yang siap kompromi, begitu juga dengan keluarga yang lain seperti bang Imam dan istrinya.


jika nanti mereka didatangi keluarga abang dan siap untuk berkata yang selaras dengan kami yang ada di peternakan.'


'sama-sama bang, maaf kalau kami mengganggu istrihat abang dan kakak*.'


Aku dan istri sama-sama menghela napas panjang, lalu sama-sama tersenyum.


Setelah berdoa lalu tidur, karena tidak ada gunanya untuk memikirkan keluarga yang tosick.***


Pagi-pagi sekali selesai sholat subuh kemudian sarapan bersama-sama, selesai sarapan lalu kami duduk di belakang rumah seraya minum kopi.


"pak....


Bu.....


Mungkin bapak dan ibu sudah jelas bagiamana keluarga Bernat, ini mereka berulah lagi dan mendatangi kantor untuk memintak uang.


Adek-adek di Medan sudah berkata kalau Bernat dan istri sudah pergi dan tinggal di Malaysia bersama bang Yusuf untuk berbisnis.


Bernat dan istri sudah sepakat untuk sementara waktu, minimal setahun inilah untuk tinggal disini."


"serius nak?"


Ibu mertuaku yang sedari tadi bermain sama anakku dan langsung nimbrung seraya menggendong cucunya.

__ADS_1


"iya ibu, bisa kah?"


"iya tentu bisa dong nak Bernat, rumah ini kan miliki kalian.


Bapak sangat dengan rencana kalian berdua, itu artinya rumah ini akan semakin ramai dan seru, sama seperti anak-anak bapak masih lengkap disini seperti dulu."


"benar itu nak Bernat, ibu sangat setuju dan benar-benar bahagia mendengarnya."


Timpal ibu mertua yang menyambung ucapan ayah mertua yang tersenyum sumiringah.


"bang Bernat....."


"di belakang Iyan, masuk aja."


Sahut ayah mertua yang meminta Riyan untuk masuk ke belakang rumah.


Ternyata Riyan dan istrinya datang lebih awal dari perjanjian kami.


"sudah siap bang?"


"udah dari tadi."


Jawabku dan Riyan dan istrinya langsung menyambar ubi goreng yang di buat oleh mertuaku.


Sepertinya mereka ngak segan-segan mengambilnya dan terlihat akrab dengan bapak ibu mertuaku.


"Naura ikut ya?"


"iya say, kan Naura salah satu ahli di peternakan ini."


"bang sayang, Risa boleh ikut ngak? kan nantinya Risa juga akan jadi ahli disini selama setahun."


"setahun?"


Riyan dan istrinya terkejut dan kemudian tersenyum saat menatap ku dan menatap istiku.


Setelah menjelaskan keadaan yang sebenarnya, antara sedih dan bahagia bercampur menjadi satu.


"Risa ikut aja, biar mama yang jaga Sandro."


Risa langsung beranjak ke kamar untuk siap-siap, berselang beberapa menit, dan kami pun berangkat.


Arpin dan Boy ikut bersama kami, karena mereka berdua juga tambahan sang ahli kebanggaan kami.


Menempuh perjalanan selama dua puluh menit kurang lebih, kami tiba disebuah hotel berbintang lima.


Hotelnya unik dan bertema adat, dan menurut penjelasan dari Riyan, bahwa hotel ini mengusung tema adat Lampung.


Setelah mendapatkan informasi dari resepsionis dan kami menunggu clien disebuah ruangan yang cukup mewah dan dekarasi nya yang sangat unik.


Istriku dan istrinya Riyan langsung mengabdikan kenangan mereka melalui ponsel milik istriku.

__ADS_1


"jangan di post ya di media sosial, nantinya mereka-mereka itu tau kalau kita ada di Lampung."


Untungnya istriku dan istrinya Riyan paham, dan mereka hanya menyimpan foto-foto itu di handphone sebagai kenangan.


__ADS_2