TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Panggilan Polisi.


__ADS_3

POV Anggi.*


Brasssssss.......


Tubuh Anggi basah kuyup karena istrinya menyiram dengan air satu ember kecil, dikarenakan dirinya yang berteriak-teriak mengatai istrinya sebagai istri durhaka.


Kardusnya juga ikut basah, lalu Anggi terduduk di depan pintu itu dan berusaha untuk bangkit.


Lalu mengumpulkan barang-barang Nya dalam plastik hitam yang besar dan dengan sempoyongan Anggi berjalan.


"becak.....becak......"


Anggi menyetop kendaraan becak, motor yang di modifikasi untuk menjadi kendaraan umum.


Naik ke becak motor dan terus berjalan hingga akhirnya berhenti di sebuah gang kecil yang hanya bisa di lalui motor.


Dengan memangku plastik itu di pundaknya lalu Anggi berjalan menelusuri gang sempit itu.


drrrt..... drrrt.....


Handphone miliknya bergetar lalu Anggi meletakkan barang-barang nya lalu meriah handphone dari kantung celananya.


"bang Firman."


Ucapnya, karena terlihat di layar kalau Firman yang menghubungi Nya.


'halo bang....'


'gawat...... gawat..... gawat....'


'apanya yang gawat bang?'


'Jepri si cacat itu meninggal dan kita di laporkan ke Polisi.'


'apa hubungan Nya?'


'jelas ada Anggi, kita menggugat hak perwalian Jepri dan meminta waktu senggah bersama Jepri.


Tapi Jepri meninggal dan kita di laporkan ke polisi atas tuduhan telah mengelantarkan Jepri dan ekploitasi.


Surat panggilan ini sudah aku terima, dan jika tidak menghadap maka polisi akan membawa kita secara paksa.'


'Anggi ngak ikut campur bang, itu semua rencana kalian berdua.'


'eh Anggi.....


jangan menghindar gitu, namamu tercantum sebagai penggugat dan itu seusai dengan kesapakatan kita, dan panggilan ini tercantum juga nama mu.'


'hahaaaa.......'


tut....tut.....tut.......


Panggilan telepon berakhir yang di akhiri oleh Anggi secara sepihak, panggilan itu beriringan dengan teriakan Anggi.


Tok.... tok....tok.....


"bang Anggi....


Kenapa bisa basah kuyup gini?"


"nanti aja bicara nya, kamu sudah masak? sedari tadi pagi sampai sore ini, abang belum makan."


"masak?.....


emangnya abang ada ngasih uang belanja?"


"kemarin itu udah, kok cepat banget habis Nya."

__ADS_1


"kemarin bang.....


sebulan yang lalu, dan itupun hanya lima ratus ribu rupiah.


Anak mu ada dua dan keduanya butuh susu tambahan.


Sini uang belanja, untuk beli beras dan susu anak-anak."


"ngak ada."


"serius lah bang, beras sudah habis ini dan susu anak-anak tinggal dikit lagi."


"ngak ada uang, nanti aja kita pikirkan. kalau ngak ada makanan setidaknya buatkan teh untukku."


"enak aja....


ngak ada uang belanja, dan ngak ada makanan maupun minuman untuk Mu.


pergi sana dan cari uang, jangan pulang sebelum mendapatkan uang.


katanya dokter kaya raya dan punya adik yang kaya, masa beli beras dan susu anak-anak aja ngak ada?


sana pergi cari uang."


Ucap istrinya dan kemudian menutup pintu itu dengan cara membanting nya.


Tidak berapa lama kemudian pintu itu di buka dan seketika Anggi tersenyum.


"anak mu ini menambah beban untukku, jangan hanya bisa buat anak tapi ngak bisa menafkahi.


Bawa sana anak mu pergi, kamu rawat sendiri anak mu."


Dua anak laki-laki yang mungkin berumur lima tahun dan berumur empat tahunan, Siti mengeluarkan anaknya serta dua tas kecil di campakkan di hadapan Anggi.


"apa-apaan ini Siti? biarkan dulu anak-anak disini sembari aku mencari uang."


tiap hari kau mintak jatah ************, tapi kau tak pernah menafkahi Ku dan anak-anak, dasar brengsek...."


Bram....pram....


Pintu itu di tutup dengan begitu kasar dan kuat yang membuat kedua anak kecil kaget dan akhirnya menangis.


"tenang ya anak-anak, bapak akan membawa kalian pergi dari sini dan kita mulai hidup baru di tempat yang baru."


Lalu Anggi membawa kedua anaknya berjalan menelusuri gang sempit itu dan akhirnya menuju jalan besar.


Anggi terdiam di pinggir jalan, seperti orang linglung yang membawa banyak barang dan juga dua anak kecil bersama Nya.


"Bernat.....


pergi ke tempat Bernat aja, dia kan bisa di tipu, dengan modal memelas aja dan sudah mendapatkan yang aku inginkan."


Ucap Anggi yang tiba-tiba mengingat Bernat adiknya, lalu menyotop becak motor yang lalu lalang.


Butuh waktu setengah jam ke rumah Bernat, dan hari pun semakin petang.


guk....guk....guk....guk.....


Bernat dan kedua anaknya di sambut gonggongan anjing dari teras rumah itu, untungnya rumah besar itu berpagar dan anjing-anjing itu tidak bisa keluar.


"takut........."


Ujar salah satu anaknya yang paling kecil dan gonggongan anjing semakin besar dan memekakkan telinga.


"Bernat..... Bernat......


keluar Bernat, ini bang Anggi Bernat.....

__ADS_1


keluar Bernat......"


Bukan Bernat yang keluar, malah tiga ekor anjing yang datang menghampiri nya, kini sudah enam ekor anjing yang menggonggong.


Gonggongan anjing itu semakin kuat dan semakin rame, anak-anak Bernat terlihat semakin ketakutan, sementara Bernat tidak kunjung keluar dari dalam rumah.


"Bernat......."


Anggi berteriak memanggil Bernat, tapi teriakan itu hilang karena gonggongan anjing.


"cari siapa dan perlu apa?"


Ujar seorang perempuan paru baya dari depan pintu Bernat, sementara anjing-anjing itu masih menggonggong.


"saya abang nya Bernat, suruh Bernat keluar."


"apa.....


kucing beranak? ambil aja kucing nya, kucing disini sudah banyak."


Sanggahan dari ibu paru baya, entah itu disengaja atau memang ngak jelas mendengar karena gonggongan anjing.


"suruh Bernat keluaaaaaar......"


"apa.....


istrimu mau melahirkan dan sudah berak di celana?"


bawa ke rumah sakit atau kebidan aja, ngapain bawa kemari?"


Anggi terlihat emosi, ditambah lagi anak-anaknya yang sangat ketakutan karena gonggongan anjing.


"suruh Bernat keluar setan....."


"apa.....


istrimu akan melahirkan anak setan? kalau begitu bawa ke dukun aja."


"brengsek......


suruh Bernat keluar pikun....."


"kurang aja kau sama orang tua, berani-beraninya kau bilang mertua ku dukun, kurang aja kau."


siuhhhhhh...... siuhhhhhh......pliuhhhh......


Perempuan paru itu baya bersiul dan dua ekor anjing yang jauh lebih besar dari anjing-anjing sebelumnya yang mendekati pagar tersebut.


Anak-anaknya Anggi semakin ketakutan bahkan menjerit histeris karena gonggongan anjing-anjing itu.


siittt.....plak....plak.....


Anjing-anjing itu terdiam setelah seorang laki-laki yang mendatangi Anggi.


"kamu Anggi kan? ngapain kemari?"


"iya pak Bima, saya dan anak-anak di usir dari rumah, dan berniat mau tinggal disini bersama Bernat.


Bernat kemana ya? dari tadi aku panggil-panggil kok ngak keluar ya."


"Bernat ngak tinggal disini lagi, disini hanya karyawan nya aja yang tinggal."


"sekarang Bernat tinggal dimana pak Bima?"


"mana ketehe, saya kan bukan bapaknya, telpon aja."


"ngak punya nomor handphone nya pak, ada sama bapak nomor telponnya?"

__ADS_1


Pak Bima kepala lingkungan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menatap kecewa ke arah Anggi.


__ADS_2