
Bang Jidan melepaskan pelukan Ku dan memegang kedua bahu ku ini.
"kamu harus tegar ya, dan lanjutkan perjuanganmu anak muda.
jangan menangis lagi, air mata mu ngak mengalir seperti itu.
yok kita berangkat."
Ujar bang Jidan dan kami pun pergi dengan menggunakan mobil milik bang Jidan.
Tidak berapa lama dan kami tiba di restoran yang ada di dalam sebuah hotel berbintang dan bang Yusuf sudah menunggu kami disana.
"bang Yusuf apa kabar?"
"baik Bernat."
Bersalaman lalu kami duduk berhadap-hadapan dan kemudian memesan minuman berupa jus untuk kami berdua.
"baiklah kalau begitu, kita langsung aja ya. karena selesai ini aku langsung pulang.
Karena besok ada keluarga yang harus aku hadiri bersama istri."
Ucap bang Yusuf seraya mengeluarkan dokumen dan diberikannya kepada bang Jidan.
"itu adalah foto copy sertifikat serta foto copy data-data pemilik tanahnya.
Sepertinya sudah dilakukan pengecekan oleh notaris setempat ke badan pertanahan Nasional, dan dinyatakan bebas dari segala perkara dan sampai saat ini masih di kuasai oleh pemiliknya yang sekarang.
Bagiamana tanggapan pak Jidan, apakah sudah sesuai prosedur pak."
"ngak usah panggil pak lah, panggil Jidan bang.
Menurut sudah sesuai kok, tinggal cek lokasi dan kalau cocok panjar atau apapun itu seusai kesepakatan nanti nya."
"baiklah kalau begitu, gimana kelanjutannya dek Bernat?
oh iya, kakak mu mau menginvestasikan uang warisannya dan telah mendengar penjelasan dari Tiara bagian keuangan mengenai pembagian hasil bagi atas investasi nya.
Dulu kakak mu kerja sebagai sales marketing kartu kredit dan mendapatkan bonus yang berlipat-lipat karena kegigihannya.
kemudian mendapatkan warisan dari orang tuanya dan hampir dua milyar rupiah tabungannya sekarang."
"Kren juga ya bang, luar biasa. emangnya bang Yusuf tidak meminta bagian kakak itu?"
"ngak lah Jidan, saya ini kepala keluarga dan sudah berjanji akan memenuhi kebutuhan istri dan anak-anak.
uang istri ya milik istri, dan uang suami adalah milik istri juga.
__ADS_1
Karena istri yang menjadi ahli keuangan keluarga, dan itulah perlunya kita memilih istri yang pintar, bijak dan tentunya cantik dong.
Ngak perlu harus dari keluarga yang kaya raya, yang penting kita sehati dan sepemikiran dan yang paling utama adalah komunikasi yang baik.
Bicara berdua di dalam kamar, dan curhat mengenai kehidupan sehari-hari dan juga memposisikan istri sebagai rekan kerja, sahabat dan teman curhat.
Dari pernikahan yang abang jalanin ya, ada hal penting yang harus abang sharing kepada kalian berdua yang masih lajang tentunya.
Misalnya abang memberikan perhatian dua puluh persen kepada istri, maka abang mendapatkan perhatiannya enam puluh persen.
Perhatian istri selalu lebih untuk suami, dan harus kita yang memulainya terlebih dahulu.
Itulah kenapa laki-laki atau suami dikatakan sebagai kepala rumah tangga.
Setinggi apapun penghasilan istri atau jabatan nya, istri akan luluh jika kita memberikan perhatian lebih kepada nya dan perhatiannya kepada kita nih akan jauh lebih banyak.
Istrilah yang menjadi teman hidup kita, kalau anak-anak pada akhirnya akan meninggalkan kita dan memulai hidup baru.
Sayangilah istri maka rasa sayangnya istri akan berlipat-lipat ganda dan rezeki mu akan mengalir seperti air sungai yang deras.
Kemanapun abang pergi pasti ijin terlebih dahulu kepada istri, dan memberitahu dimana keberadaan Ku.
Bukan bucin atau budak cinta, tapi itulah komunikasi.
Istri pun akan memberitahukan dimana keberadaannya ketika berpergian ke suatu tempat.
Jangan bentak tapi ingatkan pelan-pelan dan bicara nya harus berdua secara privasi.
Jangan pernah membentak istri di hadapan keluarga nya, dan juga di hadapan keluarga kita serta dihadapan banyak orang.
Kalau istri salah atau khilaf, bawa istri ke tempat sepi dan bicaralah pelan-pelan dan buat istri mengerti akan kesalahan nya.
Bukan di hakimi tapi di buat mengerti akan kesalahannya dan beritahu istri bagaimana caranya bersikap yang baik dan berbuat yang baik.
hanya soal komunikasi dan semua masalah pasti ada solusinya, cari solusi bersama dan menyelesaikannya dengan sama-sama."
"terimakasih ya bang atas nasihatnya, kelak nanti jika menikah, Bernat akan mengingat nasihat abang ini."
Bukan aku yang kagum terhadap nasihat dari bang Yusuf, demikian juga dengan bang Jidan yang sangat serius mendengarkan petuah dari bang Yusuf.
"nasihat bang Yusuf adalah pelajaran berharga buat saya pribadi, dan tentunya itu adalah berdasarkan pengalaman abang yang patut di teladani.
baiklah kalau begitu, kita lanjut lagi deh karena waktu terus berjalan, kapan kira-kira bisa peninjau lapangan bang Yusuf?"
"kapan pun jadi, karena pemilik tanahnya di tempat kok. karena rumah pemilik tanah berada di lahan tersebut dan saat di pergunakan sebagai lahan pertanian yang ala kadarnya.
Hanya sekedar membuat kesibukan aja, tapi lumayan juga hasilnya.
__ADS_1
Tapi abang harap ya, Bernat ditemani oleh adik-adiknya, kalau ngak bisa tiga-tiganya ya minimal satu orang lah.
Nanti abang ikut juga mendampinginya, karena abang dan kakak kalian akan berinvestasi di sana."
"secepatnya Bernat kabari, nanti ngobrol dulu sama adek-adek dan juga bang Jidan."
"baiklah kalau begitu, berarti kita tinggal menunggu kabar baiknya ya."
Ujar bang Yusuf dan kami mengakhiri pertemuan hari ini.
Aku meminta bang Jidan untuk mengantarkan ku ke rumah, lalu kami pulang.
Sesampainya di rumah dan langsung membuat skema ataupun perencanaan di lahan dan rencana kerja berikutnya.
drrrt.... drrrt.... drrrt.....
Handphone ku bergetar yang berada diatas meja belajar dan ternyata Togu yang menghubungi Ku.
'*maaf bang, tadi agak sibuk sedikit. apa yang bisa aku bantu bang?'
'nanti sore, kita ketemuan ya di cafe biasa. ada yang mau abang bicarakan.'
'kami bertiga kan bang?'
'iya.'
'oke bang, nanti kabari aja ya kalau sudah siap berangkat ke kafe*.'
Panggil berakhir dan kembali melanjutkan membuat rencana kerja selanjutnya.
Tanpa terasa waktu terus berlalu dan sudah sore hari aja, dan untungnya rencana kegiatan sudah selesai.
Sebenarnya sudah lama perencanaan ini aku buat, ini hanya finishing saja.
Sudah mantap dengan perencanaan dan kemudian beres-beres dan memasukkan berkas-berkas ke dalam tas.
Tidak lupa memberitahukan adek-adek untuk siap-siap pertemuan di kafe.
Seketika aku terduduk, hanya karena mereka para parasit itu, dan harus sembunyi seperti ini dan memilih waktu yang tepat bertemu dengan adek-adek.
Ah.....
Ngapain harus memikirkan mereka, dan harus semangat.
Sekedar penghiburan bagi ku saat ini, karena hidup terus berjalan.
Tidak bisa selamanya bersimpatik dan perduli terhadap keluarga, karena aku sudah pernah mencobanya.
__ADS_1
Tapi hanya luka yang ku dapatkan, saatnya mengurus diri masing-masing dan jangan lupa bahagia.