
POV Reva.*
Reva di datangi oleh kedua saudara laki-lakinya dalam keadaan emosi yang tidak terkendali dan hal itu menyebabkan anak Reva seperti orang yang linglung.
"bagaimana Reva? tanggungjawab dong."
"ini semua karena Bernat, adiknya si Damar. manusia itu begitu tamak dan tidak mau berbagi dengan saudara-saudaranya."
"kok malah menyalahkan si Bernat itu? suami yang keterlaluan Reva.
Sekarang apa rencana mu?"
"pertama Reva bersatu dengan adik-adik ipar dan istrinya, aku tau kok dimana mereka tinggal.
Setelah kami bersatu dan akan membuat perhitungan dengan si Bernat."
"kalau menggangu Bernat, saya tidak mau. karena Bernat di kelilingi oleh orang-orang yang baik dan juga ormas keagamaan yang selalu bersamanya.
itu terlalu berbahaya Reva, itu hanya menjadi bumerang untuk mu nantinya."
"jika kau takut ngak usah ikut campur, karena Bernat harus membayar semua kehancuran keluarga ini."
"sudah rusak otak mu Reva, suami itu yang bejat dan tidak tau diri.
lihat saja akan ku buat dia membayar semuanya.
Terserah kamu mau berbuat apa dan saya akan membuat cara yang lain agar mendapatkan uang kembali."
"caranya gimana?"
Saudara laki-laki Reva itu tersenyum sinis dan kemudian meraih foto pernikahan Reva dan Damar yang terpajang di atas meja.
"Damar punya anak yang lain dari dua istri nya lain."
Ujarnya dan pergi dari rumah itu meninggalkan Reva dalam keadaan kebingungan.
"pertama sekali aku mengajak si Clara, istri pertama si Damar brengsek itu."
Ucap Reva dan langsung bergegas keluar rumahnya tanpa memperdulikan keadaan anaknya.*
Diantara dua gang yang ada dan Reva berusaha mengingat gang masuk ke arah rumah Clara.
Akhirnya Reva memutuskan untuk pergi ke gang pertama dan benar saja, Reva menemukan rumah Clara.
"Clara..... Clara.....
keluar kau, keluar kau Clara....."
"maaf, kakak nyari siapa ya?"
Seorang gadis muda menghampiri Reva yang berteriak-teriak dari rumah, hal itu membuat tetangga yang lain pada keluar untuk melihat siapa berteriak-teriak itu.
"ini bukannya rumah Clara ya?"
"saya ngak tau itu kak, dan saya tidak kenal dengan yang namanya Clara, karena aku dan dua teman ku yang lain mengontrak di rumah ini."
"kalian mengontrak rumah ini dari siapa?"
__ADS_1
"rumah yang cat biru itu pemilik nya kak, kakak tanya aja sama pemiliknya."
"kau sendiri yang tanya."
"idihhhh.....
siapa rupanya kakak nyuruh-nyuruh aku, dasar stres."
Ucap gadis itu dan menutup pintu dengan cara membantingnya.
"hei perempuan, ngapain kau teriak-teriak?"
Seorang ibu-ibu menegur Reva yang terlihat geram melihatnya.
"penghuni rumah yang sebelumnya bernama Clara adalah pelakor, saya ingin melabraknya."
"apa kau bilang? pelakor? (perebut laki orang atau perebut suami orang), kau yang pelakor.
Bapak ibu sekalian, perempuan inilah yang sebenarnya pelakor.
Clara tidak menahu kalau si Damar itu menikahi perempuan ini.
Ponakan ku si Clara dinikahi oleh si suaminya lebih dulu dari perempuan ini.
Berani-beraninya kau menyebut keponakan ku sebagai pelakor."
huuuuuuu.......
'pelakor teriak pelakor.....'
Suara dari para warga yang memojokkan Reva.
itu semua karena ulah perempuan ini, sok hebat dan sok kaya.
apa kau pelakor?"
Ujar perempuan itu, dan Reva semakin terpojokkan.
Merasa dirinya terpojokkan dan akhirnya memilih untuk lari dari tempat tersebut.
Berlari sejauh mungkin dan pada akhirnya merasa aman, dan Reva berhenti dan berdiam diri di emperan toko orang.
"itukan Clara?"
Reva yang melihat Clara, istri pertama suami mereka dan langsung menghampirinya.
"Clara....."
"iya kenapa? mau beli apa kak?"
Seperti ada sesuatu hal, Clara seolah-olah tidak mengenal Reva.
"kau ngak sama ku? saya istri kedua si Damar."
"terus kalau istri kedua emang kenapa? ngak sekalian kamu bawa istri ketiganya lalu kita reunian disini?"
"apaan sih? ngak nyambung deh? tapi kenapa kau jadi jualan seperti ini?"
__ADS_1
"telur ayam ini? saya minta modal sama Bernat.
Semua telur ayam dan juga daging ayam, adalah suplai dari Bernat, dapat modal baru setor dan untuk tempat jualan ini aku menyewa dari property Bernat juga.
Hanya saja enam pertama tidak bayar sewa, selanjutnya baru bayar.
Tempat ini bisa sekaligus tempat tinggal yang layak dan juga tempat usaha.
Setiap pagi jam lima, dari peternakan Bernat sudah datang kemari untuk mengantarkan telur dan juga ayam."
"terus kau sudah merasa hebat gitu?"
"luar biasa hebatnya, karena selama ini aku tidak pernah menghasilkan uang dan tergantung pada suami yang tidak tau diri.
Saya mendapatkan sumber penghasilan, bisa menabung sedikit demi sedikit untuk masa depan anak-anak dan biaya kebutuhan sehari-hari yang tercukupi."
"itu artinya kamu berdamai dengan Bernat dan harga dirimu di injak-injak olehnya."
"maksudnya gimana ya? jujur aku ngak ngerti."
"memang orang yang tidak berpendidikan susah untuk di kasih paham, begini Clara....
Bernat sengaja memberikan modalnya kepada mu, agar kau nurut sama dia dan tidak meminta bagian atau hak waris dari Damar."
"cukup ya, saya bosan mendengarnya. biar saya jelaskan dengan kalimat yang sederhana.
Si Damar itu tidak berhak akan harta kekayaan si Bernat.
Ayah mereka itu tidak mempunyai apapun, rumah yang di perebutkan itu adalah rumah peninggalan mendiang kakek dan nenek Bernat.
Itu sudah terbukti dengan putusan pengadilan, kamu kan ahli hukum dan tentunya lebih mengetahuinya.
Bagian Damar yang kamu maksud itu dimana?"
"haaaaaaaa.......
begini nih, mental pengecut. susah di kasih paham.
Bernat itu rakus dan jahat Clara, kita merebut yang menjadi hak suami kita."
"kita.....
suami mu aja, karena saya sudah bercerai dengan si Damar dan mencoba untuk bangkit kembali.
Si Damar yang brengsek dan kurang ajar, sudah miskin, belagu lagi. sok-sokan punya istri tiga.
Tau-tau nya di nafkahi oleh adiknya, seharusnya Damar sebagai anak yang paling besar mengayomi adik-adiknya dan memberikan contoh yang baik."
"kamu salah menilai si Damar, suami kita itu telah berjuang untuk memberikan nafkah untuk kita.
Ayo kita sama-sama menekan Bernat agar memberikan hak suami kita untuk kelangsungan hidup kita dan anak-anak kita."
Clara sang istri pertama Damar yang sudah bercerai, hanya bisa menghela napasnya.
Lalu Clara berjalan ke arah lemari pendingin minuman dan meraih minuman dingin.
"minum dulu biar dingin otak mu itu."
__ADS_1
Clara hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena dirinya menyindir Reva dan langsung meneguk minuman dingin itu dihadapannya.
Mungkin karena bukan orang yang diharapkan datang, sehingga Clara tidak menyajikan apapun kecuali minuman dingin itu.