
Juna memberikan tissue kepadaku, agar bisa menghapus air mata yang mengalir ini, setelah menghapus air dan aku berikan notepad itu kepada Juna dan kemudian menatap istri keduanya Anggi ini.
"hanya inilah yang bisa kakak lakukan, maaf karena telah mengecewakan mu.
Kamu ngak perlu merasa bersalah karena mengirimkan kedua ponakan mu ke panti asuhan, karena kakak yakin bahwa kedua anak itu sama seperti ayahnya.
Jika kamu memelihara kedua anak itu, dan itu artinya kamu memelihara anak monster yang suatu saat akan menelan mu hidup-hidup.
Ayahnya aja ngak perduli, lalu kamu yang harus memikirkannya?
Jika bertanya apakah aku tidak takut akan karma?
Saya sudah menikmati karma ku sekarang, dulu sahabat-sahabat, rekan-rekan kerja, saudara-saudara dan terlebih-lebih kedua orang Ku, sudah melarang Ku untuk menikah dengan Anggi.
Tapi karena cinta menggebu-gebu kepadanya dan mengabaikan semua nasihat baik, serta menyakiti hati wanita yang lain yang berjuang untuk anak dan pernikahan.
Saya mendapatkan karma berupa cap sebagai pelakor, melahirkan dua anak yang sakit jiwa.
Persis seperti yang dikatakan oleh Anggi, yang mengatai kedua adiknya bodoh dan idiot akan tetapi anaknya sendiri jauh lebih parah.
Menghadapi dua anak yang demikian, di tambah lagi suami yang tidak perduli dan omongan warga yang mengatai ku pelakor dan sebagainya.
Nafkah yang sulit, kebutuhan hidup dan biaya berobat anak yang tidak main-main karena harus kepada spesialis tertentu.
Membuat stres berat dan hampir pernah saya bunuh diri, tapi saya sadar kalau bunuh diri itu adalah dosa yang tidak terampuni.
Menangani anak yang sedemikian rupa, dan tanpa pertolongan dari suami atau keluarga, membuat kepalaku mumet dan hendak pecah.
Daripada aku gila atau bunuh diri atau membunuh kedua anak itu, lebih baik aku pergi dari sisi mereka untuk selamanya.
Inilah karma yang aku terima, dengan semua hal yang telah aku lakukan.
Saya mintak maaf kepadamu Bernat, karena harus merepotkan mu dan kamu telah menafkahi ku selama tiga bulan.
jangan merasa bersalah dan cobalah untuk menikmati hidup, karena hidup hanya sekali.
Kakak pamit ya, tapi tolong bayar makanan dan minuman kakak.
Satu lagi, jenguk lah sesekali kedua ponakan mu itu.
Selamat tinggal dan semoga kamu mendapatkan kebahagiaan sebagaimana orang-orang lain yang berbahagia."
Tidak habis pikir kalau kenyataan ini begitu pahit dan memilukan.
Almarhum kakek yang meninggal karena syok setelah mendengarkan kalau mama adalah istri kedua dari ayah kandung kami.
Dulu mendiang mama tidak mendapatkan perawatan medis hanya karena sibuk mencari uang demi pendidikan mereka bertiga.
__ADS_1
Mendiang bang Jepri harus terlambat di tangani dokter karena minumnya biaya.
Almarhumah Nenek yang jatuh sakit karena Damar hendak menjual rumah tempat tinggal kami dan pada akhirnya bang Jepri yang meninggal karena kekejaman mereka bertiga.
Bekas luka tusuk di paha ini, karena terlalu bekerja keras dan tidak memperdulikan diri sendiri demi bertiga.
haaaaaaaa......
Tuhanku.....
Terimakasih untuk semua ini, dan terimakasih karena akhirnya hamba mu mengetahui semuanya.
Semua kepahitan ini, walaupun berat dan membuat dada sesak dengan kenyataan yang yang telah terjadi.
Tapi semua peristiwa ini adalah pengalaman yang mendewasakan diri ini.
drrrt...... drrrt......
Handphone ku bergetar dan segera aku memberikan nya kepada Juna.
Hanya beberapa menit kemudian, Juna memegang bahu kananku.
"ada gadis yang sedang hamil datang ke kantor bang, dia meminta pertanggungjawaban keluarga Anggi."
"suruh dia kemari."
Lalu Juna mengangguk, dan melakukan apa yang minta.
Tidak berapa lama perempuan muda yang sedang hamil sudah tiba dan aku mengangkat tanganku agar dia bisa melihatnya.
"saya Dinda, pacarnya Anggi."
"silahkan duduk."
Perempuan muda duduk dan sepertinya kesusahan karena sudah hamil besar, lalu dia menatapku dengan tatapannya yang sayu.
"saya malu dengan keadaan seperti ini, bang Anggi sudah berjanji akan menikahi Ku. tapi sampai saat ini tidak kunjung datang untuk melamar Ku.
Nikah siri pun tidak apa-apa yang penting anak ini punya status.
Saya mengetahui kalau kamu adalah keluarga nya, karena Papa yang mencari tahu nya.
Suruh Anggi bertanggungjawab, dan suruh dia kemari."
"ngak bisa, karena Anggi sudah di penjara karena membunuh abang Ku."
"apa?.....
__ADS_1
jadi siapa yang menikahi ku?"
"mana kutahu, pergi aja ke penjara dan tanya langsung ke Anggi."
"keterlaluan.....
berhubung kamu ganteng dan kaya raya, kamu aja deh yang jadi suamiku."
Atur napas dan berusaha tenang, mari kita berikan pelajaran kepada perempuan ini, berhubung disini sudah mulai banyak pengunjung.
"dasar perempuan gila, kamu pikir aku pria murahan yang menampung sisa pemakaian orang?
Anggi yang menghamili mu dan kau suruh aku yang bertanggungjawab? gila kau ya.
makanya jadi perempuan itu jangan murahan, di gombal sedikit langsung di ajak tidur, perempuan seperti kau itu jauh lebih rendah dibandingkan pela**r.
Mereka masih dibayar dengan uang ketika sudah memuaskan hasrat pelanggan nya, nah kalau kau ini gimana?
Perempuan yang hamil itu tidak di tiduri hanya sekali, tapi berkali-kali dan kau mau-mau aja di tiduri secara gratis.
Dasar perempuan murahan, perempuan bodoh, dasar perempuan gatal.
Percuma kau hidup jika hanya dinikmati secara gratisan.
Berani-beraninya kau memintaku untuk bertanggungjawab atas kehamilan mu.
eh perempuan sadar kau.....
Kau kira aku laki-laki murahan yang siap menampung sampah yang tidak bisa di daur ulang seperti kau.
Perempuan-perempuan seperti kau ini pantas lenyap dari muka bumi ini.
Dasar perempuan murahan...."
Juna bengong melihat yang mengatai perempuan hamil ini, dan seketika perempuan itu berdiri.
"saya hanya meminta tanggungjawab, agar kedua keluarga kita terhindar dari aib, apa salahnya menikah dengan pacar Abang mu sendiri?
Menikahi perempuan hamil seperti saya ini adalah ibadah dan lagi pula anak yang aku kandung ini adalah ponakan mu sendiri."
Benar-benar keterlaluan ini perempuan, dengan entengnya dia mengatakan demikian.
Mata para pengunjung kafe ini tertuju kepada kami di meja pojok ini, meja yang sama dan tempat duduk istri kedua dari pria yang menghamilinya.
Seketika semua diam akan ucapan perempuan yang tidak tahu malu ini, dan dengan percaya dirinya dia berusaha menyangkal perkataan Ku.
Ini tidak bisa dibiarkan, jika tidak di selesaikan hari ini dan tentunya ini menjadi menjadi masalah besar di kemudian hari.
__ADS_1
Perempuan ini harus di beri paham agar mulut nya berhenti ngoceh.
Sudah terlanjur malu, seperti kata pepatah mengatakan, sudah terlanjur basah dan sebaiknya mandi agar bersih dari orang-orang parasit seperti perempuan ini.