TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Adek-adek Sudah Siuman.


__ADS_3

Bersama bang Jidan, kak Tiara, Risa, Diana dan juga Naura.


Kami duduk di ruangan ini, ruangan yang cukup privasi untuk kami bicara.


"tadi kakak di hubungi oleh rekan kerjanya bang Jidan, yang mengurus kejadian tabrak lari itu.


Kebetulan ada sisi tv di persimpangan dan sudah berhasil di dokumentasikan sebagai bukti."


"benar kata kak Tiara, jadi tadi kak Tiara menunjukkan foto mobil truk itu dan juga pengemudi nya bang.


Selama ini kami selalu duduk di ruang monitor sisi tv di rumah abang itu.


Risa melihat orang yang ada di foto ini selalu mengawasi rumah.


Sebentar biar kirim ke abang foto orang nya serta truk yang biasa di pakai nya."


Seperti di sambar petir di siang bolong, dan itu adalah Dimas, anak ayah dari istri pertamanya.


"karena sangat penasaran akan tingkah pria, maka Risa putuskan untuk menyelediki orang itu.


Sepertinya dia mengintai pergerakan mobil yang biasa di kendarai oleh Riyan bang.


Risa sengaja pagi-pagi buta ke rumah abang, karena menurut kata Togu, kalau Riyan itu belanja pagi hari sekaligus mengantarkan pesanan telur ayam ke pasar menggunakan mobil itu.


Riyan keluar dari rumah melalui gerbang samping, dan truk itu langsung mengikuti Riyan dari belakang.


Risa insiatif untuk merekam video akan perjalanan itu, dan memang benar itu adalah orang yang sama seperti yang ada dalam foto itu bang."


"benar kata Risa bang, jadi kan kemarin malam itu, Diana mengajak bang Togu untuk pergi jalan-jalan ke alun-alun kota.


Nah Diana merasa seperti ada orang yang mengikuti kami, tapi sepertinya bang Togu tidak merasakannya.


Berhubung sangat penasaran dan aku meminta bang Togu untuk menyalakan kamera belakang mobil.


Truk dan orang yang mengikuti kami itu adalah orang yang sama seperti yang di foto itu.


Bukan hanya itu saja bang, si Vira pernah menguping pembicaraan pria itu bersama perempuan paru baya itu.


video nya sudah kirim ke Vira ke Risa, mungkin itu yang sudah masuk bang.


Kejadian Vira menguping itu tepat semalam, ketika Vira pergi ke mall."


Demikian penuturan Diana dan Naura, dan kemudian Naura memberikan handphone milik Naura kepada Ku.


"kenapa kalian berani sekali mengikutinya? apa kalian ngak takut?"


"hati-hatilah bang, rencana hari ini kian mau sampaikan kepada bang Bernat mengenai semua yang kami lihat, tapi kejadian ini sudah terjadi."


Ucap Diana dan kemudian kami terdiam sejenak.

__ADS_1


"ini sudah keterlaluan Bernat, dan ini merupakan perencanaan atau pembunuhan berencana.


biarkan abang dan tim bertindak ya."


"silahkan bang, jangan kasih ampun kepada mereka yang berniat mencelakai adek-adek ku.


Aku kira bang Jepri adalah korban terakhir mereka, tapi malah merambat ke adek-adek juga.


ngak bisa di biarkan, mereka harus mendapatkan apa yang mereka tuai."


Sungguh dada ini sangat sesak saat menghadapi kenyataan seperti ini, kenapa mereka mau mencelakai adek-adek juga.


'sinanggar tulo tulo atu Lo sinanggar tulo tulo atu lo.'


Nada dering bang Jidan membuat kami terkejut.


'sebentar ya biar ku aktif kan loudspeaker nya, kebetulan kami lagi berkumpul bersama-sama disini dan ada Bernat juga disini.'


Ucap bang Jidan dan kemudian mengaktifkan loudspeaker handphone nya dan meletakkan handphone tersebut di tengah-tengah meja.


'halo Bernat, ini bang Adam rekan nya bang jidan.'


'iya bang, Bernat kenal kok sama abang dan juga tim yang lain.'


'kita langsung aja ya dan abang berharap sabar dan jangan gegabah ya.


Dimas dan ibunya yang menabrak mobil yang dikendarai oleh adek-adek.


Terlihat dari sisi tv yang ada di lampu merah tersebut, memang benar-benar sengaja dilakukan oleh Dimas yang saat itu bersama dengan ibunya.


Korbannya adalah Riyan, Juna dan Togu. serta empat pengendera sepeda motor tewas di tempat karena terlindas ban mobil truk nya.


Korban luka-luka lainnya yang di alami pengendera lainnya.


Polisi sudah mengamankan pelaku dan berdasarkan hasil penyidikan bahwa pelaku memang sengaja melakukannya.


Tujuannya adalah untuk membunuh adek-adek mu, karena merasa mereka bertiga adalah penghalang mereka untuk mengambil harta kekayaan mu.


Mereka kecewa karena tidak menemui mu di rumah itu saat mereka ke sana.


Mungkin dengan membunuh adek-adek mu, barulah Bernat menyerahkan hak yang mereka yakini miliki mereka.


itulah pengakuannya yang berhasil di rekam oleh pihak penyidik.'


'haaa....


ngak habis pikir aku bang.'


'tenang.....

__ADS_1


nanti bicarakan lagi ya, oh gimana keadaan adek-adek?'


'*sudah siuman dan tidak kekurangan apapun, hanya perlu pemulihan aja bang.'


'syukurlah.....


Sudah dulu ya, nanti kita bicarakan lagi sama Jidan dan rekan-rekan yang lain.


Sebentar lagi akan diadakan konferensi pers, Abang sama teman akan segera menghadiri nya*.'


Sambungan telepon berakhir dan bang Jidan mengambil handphonenya kembali.


"mereka benar-benar keterlaluan ya bang, sampai segitunya hanya demi uang."


"Risa....


namanya juga manusia, bukan hanya mereka yang seperti itu, masih banyak orang di luar sana yang gelap mata karena uang.


Saat ini yang terpenting adalah, bahwa Togu, Riyan dan Juna, baik-baik saja."


Ucap Tiara yang membalas ucapan Risa, dan kemudian bang Jidan berdiri.


"semuanya sudah boleh pulang, biar bang Jidan dan Bernat yang berjaga-jaga di sini."


"enak aja main usir, bang Jidan dan bang Bernat serta kak Tiara.


Kalian pulang aja deh, urus tuh perusuh dan kasih ampun sama mereka.


Bang Bernat, ajak tuh si Risa. lumayan buat kopi dan cemilan.


Biar kami bertiga yang mengurus calon suami kami masing-masing."


Ujar Diana yang tidak terima di suruh pulang oleh bang Jidan.


"besok kalian kuliahnya gimana?"


"bang Jidan....


kami itu sekarang sudah sah jadi pengangguran, karena kami berempat dan dua temannya kami yang magang di peternakan bang Bernat, sudah selesai sidang dan nyatakan sebagai sarjana peternakan dan Sarjana pertanian.


Tenang aja bang Jidan, pengangguran seperti kami punya banyak waktu senggang.


Tolong urus perusuh itu ya, dan jangan lupa istrihat."


Ujar Diana lagi dan kami pun keluar ruangan untuk pamit kepada adek-adek.


"bang Togu, biar Diana dan teman-teman yang jaga disini ya.


bang Bernat, bang Jidan, kak Tiara dan juga Risa akan pulang istrihat."

__ADS_1


Ucapan dari Diana membuat adek-adek tersenyum, dan itu melegakan hati ini, sesegera mungkin kami pulang dan kali ini tujuan kami adalah rumah bang Jidan.


Karena rumah itu dekat dari rumah sakit ini, agar bisa menghemat tenaga.


__ADS_2