
Kami berdua masih terdiam di mobil ini, dan...
kriuk....kreok......
Juna tersenyum karena perutnya yang sudah keroncong yang bersahutan dengan bunyi keroncong dari perut ku juga.
Haha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha haha
Kami berdua tertawa, karena bisa-bisanya perut kami berdua bunyi karena sudah lapar.
Restoran rumah makan Padang, dari pajangan itu terlihat makanan itu terlihat sangat enak dan lezat.
Mabil sudah parkir dan kami berdua langsung masuk dan memilih kursi yang masih kosong.
Restoran makan Padang ini langsung menyajikan banyak menu nya dalam wadah kecil, dan kami berdua langsung menyantap nya dengan lahap.
"padahal kita baru dari kafe kan bang?"
"gimana mau selera makan, semua yang datang parasit."
Juna tidak menanggapinya dan hanya fokus makan dan akhirnya kami selesai makan dan hampir setengah lauk di sajikan habis.
"kakak ada jus perasan lemon?"
"ngak ada bang, tapi perasaan jeruk nipis ada. lemon terlalu mahal bang."
"apapun itu jenis, bawa sini kak."
Cocok juga minuman itu, cocok untuk membakar lemak yang baru kami makan.
"kamu Bernat kan?"
Seorang perempuan paru baya yang menghampiri ku seraya membawa pesanan minuman yang baru di pesan oleh Juna.
"iya....
kenapa bu?"
Perempuan paru baya itu duduk di hadapan dihadapan ku, kemudian menyuruh seseorang pegawai untuk mengambil minuman untuk nya.
"panggil aja bu Sukma, dan ibu pemilik restoran rumah makan Padang ini. Nenek ibu itu orang Padang yang telah mengajari ibu memasak sejak masih kecil dan akhirnya bisa mendirikan rumah makan Padang ini.
Oh ya, gimana masakan ibu, enak ngak?"
"enak bu, separuh lauknya sudah ludes. mungkin kalau masih muat, pasti kami lahap lagi.
Oh iya bu, kenapa ibu bisa mengetahui nama ku?"
haaaaaaaa......
Ibu Sukma menghela napasnya, seakan-akan ada beban berat dipikirkannya.
__ADS_1
"buru-buru ngak?"
"ngak bu, santai aja."
"terimakasih sebelumnya karena sudah singgah di rumah makan ibu.
Restoran ini mendapatkan pasokan daging ayam, lembu bahkan sapi dan juga telur ayam, yaitu dari peternakan mu.
Ibu sudah lama sekali ingin ngobrol dengan mu nak, tapi tidak kesampaian.
Ibu adalah mertua abang mu, Firman menantu ibu.
Putri ibu adalah istri kedua untuk abang mu, kami mengetahuinya dari pegawai abang mu di klinik hewan milik abang mu itu.
Ibu dan suami tertipu dengan status abang mu, yang mengaku sebagai lajang ketika datang melamar Aisyah.
Bukan hanya itu, Firman juga menikahi pegawainya. istri abang mu itu sekarang sudah tiga orang.
Klinik hewan itu memilih-milih hewan untuk di periksa, yang katanya najis lah, jorok lah dan apalah itu.
kan abang mu sendiri yang memilih untuk menjadi dokter hewan, dan sudah seharusnya Firman mengobati hewan yang sakit.
Namanya medis dan harus berhubungan dengan itu semua, kalau pun kita terkena najis hewan tersebut, samak aja.
Abang mu hanya mau memeriksa dan mengobati kucing ras, yang notabenenya dipelihara oleh orang-orang yang punya duit banyak.
Alasannya cukup membuat ibu syok terapi, katanya kucing tidak ada najisnya, berbeda dengan hewan lain seperti anjing dan sebagainya.
Ketika tuan dari hewan yang dianggap haram oleh abang itu dibawa ke klinik dan di tolak.
Anggap kucing tidak najis ya, tapi kenapa abang mu menolak mengobati kucing kampung?
Aneh kan? entah dimana logikanya?
Katanya dokter hewan, tapi kok gitu?
Untung abang mu itu ngak dokter manusia, coba kalau iya.
Ibu rasa dia tidak mau mengobati pasien seperti ibu ini, tiap hari bermandikan keringat dan asap.
Karena hal itu, pendapatan klinik hewan sangat berkurang dan terbilang minim lah. sementara istri sudah tiga berikut dengan anak-anaknya.
Mumet ibu mikirin abang mu itu, di tambah lagi si Aisyah ini teramat cinta dengan Anggi, segala apapun nasihat ibu terhadap suaminya, dan semua itu di tangkis oleh si Aisyah bodoh itu.
Aisyah rido kok kalau mas Firman nikah lagi, surga bagi istri yang mengiklankan suaminya untuk menikah lagi.
Itu tuh yang di ucapkan Aisyah yang bodoh itu.
Kepala dia surga, iya Aisyah itu bego nan idiot level ekstrak.
Kalau tadi suaminya mampu memenuhi kebutuhannya, dan mampu membagi kasih sayang nya, bisa juga kan?
__ADS_1
Tapi ini apa nak Bernat?
Asiyah datang mengemis ke ibu, untuk membeli susu anak-anak nya. dan juga kebutuhan dapur serta pakaian anak-anaknya, Perempuan bodoh itu tidak di perbolehkan kerja sama suaminya itu.
Anaknya Asiyah itu empat, dan susun paku. karena perempuan bodoh itu menolak untuk KB (keluarga berencana).
Anak itu rezeki dari Tuhan, setiap anak punya rezekinya masing-masing.
Mau muntah ibu dengar kalimat pembelaannya.
Begini ya nak Bernat,....
Ibu ngak menentang apapun disini, tapi ibu hanya berpikir secara akal sehat.
Suami bisa aja melarang istrinya untuk kerja, dan itu artinya si suami sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga nya.
Jika suami mau poligami, hendaklah si suami mampu menafkahi istri-istri dengan layak dan berbuat adil.
Jika istri di larang KB (keluarga berencana) itu artinya suami sudah siap membiayai anak-anak yang banyak.
mula dari kebutuhan dasar atau kebutuhan pasar pokok, kesehatan dan pendidikan.
Tapi semuanya nihil nak Bernat, dan Asiyah hanya datang ke ibu untuk meminta uang, guna memenuhi kebutuhan hidup.
jika ditanya dan disinggung mengenai nafkah dari suaminya, lalu Aisyah berdalil agama.
Jelas dong ibu jawab dengan dalil agama juga, dan ibu ngak habis pikir dengan jalan pikiran perempuan bodoh itu.
Suaminya memerintahkan Asiyah, untuk datang ke ibu lalu mengemis-ngemis seperti itu dengan air mata Nya.
Percuma ibu menguliahkan perempuan bodoh itu, tapi akhirnya hanya bisa mengemis ke ibu.
Memang benar.....
Sampai kapanpun Aisyah itu putri ibu, tapi saudara-saudaranya Asiyah malah marah-marah sama ibu apabila memberikan uang kepada Aisyah.
Pernah anak ibu yang paling besar, memberikan uang kepada Aisyah karena kasihan.
Nyata si Asiyah yang bodoh ini, memberikan uang nya kepada suami, lalu si suami memberikan uang tersebut kepada istrinya yang lain.
Geram ngak?.....
Dari situlah anak-anak ibu lain marah kalau ibu memberikan uang kepada Aisyah.
Ibu serba salah nak Bernat, sementara ibu kasihan kepada putri ibu, sementara putri ibu sendiri bodohnya mintak ampun.
Menurut nak Bernat ibu harus berbuat apa?"
Haaaaaaaa.......
Kali ini aku yang menghela napas, dan ibu Sukma yang melihatnya hanya bisa tersenyum dan kami tertawa.
__ADS_1
Itu karena ekspresi dari Juna yang seolah-olah mengejek ku.