TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Bang Jepri Memaksa Untuk Pulang.


__ADS_3

Pengacara itu berbisik kepada Damar, mungkin mereka mau membuat strategi baru untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. lalu aku meminta Riyan untuk menghubungi bang Jidan pengacara Ku.


"jatah Jepri untuk tinggal bersama kami masih ada beberapa hari lagi, jadi saya datang kemari untuk membawa Jepri pulang."


"Abang ngak lihat kalau bang Jepri lagi sakit? ini karena kalian membuat bang Jepri menjadi manusia silver."


"ngak usah ngada-ngada Bernat, lihat itu Jepri sudah seger bugar gitu."


"apa-apaan ini rame-rame? maaf pasien harus istirahat bapak-bapak?"


Ujar seorang dokter yang datang bersama dua perawat yang memeriksa bang Jepri, hal itu juga membuat bang Damar berhenti bicara.


"dokter Damar kan?"


Ucap dokter itu, dan seperti mereka saling mengenal.


"saya Budi, kita satu angkatan dan satu kelas, masa ngak ingat sama ku."


"dokter Budi....."


Mereka berdua langsung berpelukan, setelah beberapa saat mereka saling bertatapan satu sama lainnya.


"apa yang membawa dokter Damar kemari?"


"saya ada wali dari pasien yang dokter Budi rawat."


"wali?


Sebentar dok, tadi saya melihat dokumen pasien bahwa pasien yang bernama Jepri dan wali nya adalah pak Bernat.


Jadi pasien dan wali nya adalah adik dokter Damar ya?"


"cuman pasien aja, kalau Bernat itu adalah pengasuh Jepri adikku."


"terserah dokter aja, saya ingin menanyakan banyak hal, tapi nanti aja."


"itu nanti aja dokter Budi, oh iya saya ke sini mau membawa adikku pulang, nanti biar saya yang merawat adikku."


"maaf dokter Damar, itu bukan kewenangan saya untuk memulangkan pasien, jikapun saya bisa dan tentunya harus persetujuan wali pasien."


"saya wali nya dokter Budi, jangan bertele-tele dong."


"dokter Damar yang terhormat, jangan asal ngomong aja, tunjukkan aja dokumen perwaliannya.


jangan asal mengaku, oh dokter. apa memungkinkan pasien untuk di pulangkan?"


Syukurlah bang Jidan sudah tiba, terlihat bang Damar sudah mulai kebingungan.


"seharusnya belum bapak, karena masih ada serangkaian pemeriksaan oleh dokter spesialis kulit terhadap pasien.


Saya disini hanya sebagai dokter umum yang memantau perkembangan kesehatan pasien, besok pagi baru ada dokter spesialis kulit nya dan rekam medis mulai dari IGD sampai besok pagi akan menjadi rujukan bagi dokter spesialis kulit nya.


Sementara obat-obatan belum seluruhnya beraksi, ruam dan juga bentol-bentol nya belum semuanya kering.

__ADS_1


Apa salahnya pasien rawat inap dulu demi kesembuhannya, dari pembiayaan itu asuransi kesehatan dari swasta.


Terus masalahnya apa? kenapa dokter Damar ingin membawa pulang pasien?"


"saya juga dokter ya, dan saya berhak akan adikku."


"dokter....


Bukannya lisensi dokter Damar sudah di cabut?


Apa ada jaminan kalau pasien ini bisa dokter Damar rawat?"


Bang Damar terdiam dan ekspresi nya yang terlihat seperti orang yang bingung dan kwatir.


"kalau dokter Damar bersikeras membawa pasien pulang, silahkan ke administrasi dan lengkapi dokumen nya, jangan memintak kepada saya.


Bukan saya yang berwewenang memulangkan pasien, silahkan ke administrasi.


Maaf kami mau memeriksa pasien dulu."


Dokter dan perawat itu menuju ranjang bang Jepri dan mulai melakukan pemeriksaan terhadap bang Jepri.


Setelah beberapa saat kemudian, dokter itu tersenyum ke arah bang Jepri.


"bagus ya pak Jepri, guti dong semangat dan obat nya juga bersaksi dengan cepat dan mudah-mudahan bisa cepat pulang."


Ujar dokter yang masih muda itu, di lihat dari senyuman yang sumiringah, berarti kabar baik dari bang Jepri.


"pak Bernat....


Besok pagi dokter spesialis kulit akan datang kemari untuk mengecek pasien, sekaligus menentukan tindakan selanjutnya.


kalau ada sesuatu, tinggal tekan aja tombol nya ya pak, dan kami akan segera datang."


"baik dokter, terimakasih ya dok."


Dokter dan perawat itu sudah berlalu, kini aku harus berhadapan dengan bang Damar dan juga bang Anggi.


"saya pengacara nya Bernat, dan apa mau kalian sebenarnya?."


"bisa kita bicara pak pengacara?"


Berhubung ada ruang tersisa di ruang rawat VIP ini, lalu bang Jidan mempersilahkan pengacara ke dua abang Ku itu untuk bicara disana.


Togu dan Riyan menjaga bang Jepri, dan aku meminta mereka berdua untuk menutup tirainya.


"apa yang kalian inginkan?"


"awalnya kami datang ke sini dengan niat yang baik."


"ngak usah bertele-tele pak, ini sudah mulai larut malam."


Pengacara itu terdiam karena sudah di up duluan oleh bang Jidan.

__ADS_1


"Daripada kita menghabiskan uang dan tenaga, lebih baik kita berdamai aja.


klien saya menuntut warisan itu dibagikan dan selesai perkara."


"maaf ya pak, kami tidak perduli sebanyak apapun uang dan waktu yang kami habiskan, dan kami tidak mau berdamai.


Silahkan pulang dan jangan menggangu klien saya, jika tidak maka saya melaporkan anda dengan pasal mengganggu ketentraman orang lain."


Bang Damar berdiri, sepertinya dia merasa harus melakukan sesuatu.


"jika perdamaian di tolak, maka saya harus membawa Jepri pulang, sekarang juga.


Waktu kebersamaan dengan Jepri masih ada, jadi saya harus membawanya pulang."


"santai pak Damar, tidak perlu menggebu-gebu seperti itu.


Memang benar pak Damar masih memiliki waktu bersama Jepri, akan tetapi tolong diperhatikan ketentuan dan syaratnya.


Penyalahgunaan hak perwalian sementara, tidak diberi makan, dijadikan sebagai manusia silver untuk mengemis dan juga tidak membawa Jepri ke klinik psikolog.


Jika pak Damar bersikeras untuk membawa Jepri pulang, dan saat ini juga maka kami akan melaporkan anda ke polisi dengan tuduhan eksploitasi terhadap Jepri.


Kalian memanfaatkan Jepri untuk menjadi pengemis, dan merampas yang menjadi hak nya, tentunya itu perlakuan kriminal.


Silahkan lakukan apa yang anda inginkan, dan kami akan melakukan apa yang kehendaki."


Bang Damar tidak berkutik dengan ucapan bang Jidan, seolah-olah dia mati kutu.


"a....a..... bang.... k..a...pan daaaatang? saaangatt bosan disini."


Bang Jepri yang di bantu oleh Togu dan Riyan datang menghampiri kami yang ada disini.


"kita pulang yuk, ngapain Jepri disini? Abang bisa kok merawat mu."


Tawaran dari bang Damar untuk membawa pulang bang Jepri, disambutnya dengan baik.


Bang Jepri merengek untuk pulang bersama Damar dan menangis sejadi-jadinya.


"setelah sembuh ya bang, dokter belum mengizinkan abang pulang."


"ngak......ma....mau...."


Suara itu semakin kuat, dan bingung harus berbuat apa.


"besok pagi ya bang, setelah diperiksa oleh dokter spesialis kulit ya."


"ngak ma......ma....mau...."


Bang Jepri menangis semakin menjadi-jadi dan akhirnya aku memanggil dokter.


"dokter, tolong buat administrasi kepulangan abangku, karena ada dokter yang menangani dan mengaku sebagai dokter terbaik.


Saya sudah berusaha melakukan yang terbaik dan menurut dokter Damar usahaku ini hanya sia-sia saja."

__ADS_1


Dokter itu hanya melongo melihat Ku, air mata ini tidak bisa aku tahan sehingga mengalir di pipiku.


__ADS_2