
Bang Jidan menyeruput kopinya lalu melepaskan kacamata nya, tatapan matanya mengandung makna yang dalam tapi sulit untuk di artikan.
"nanti hakim akan memberikan waktu beberapa hari untuk penggugat, untuk bertemu dengan Jepri.
Agar nantinya Jepri bisa memutuskan tinggal sama siapa.
Tentunya penggugat akan melakukan caranya agar bisa mengambil hati Jepri agar tinggal bersamanya.
Kesaksian Jepri akan diperdengarkan di pengadilan, lalu ada pertimbangan hakim dimana penggugat adalah dokter.
Apalagi Jepri meminta tinggal bersama penggugat dan itu adalah peluang besar bagi penggugat untuk menang.
Jika seandainya penggugat menang, kemudian putusan berkekuatan hukum. maka Jepri akan tinggal bersama penggugat.
Saya yakin seyakin-yakinnya kalau penggugat hanya membutuhkan uang abang mu itu, dan kemudian akan mencampakkan Jepri ke jalanan.
Nah disitulah kita menghukum penggugat, dengan cara menggugat kembali dengan tindak pidana.
Jika Bernat menang gugatan di pengadilan, yakin lah kalau mereka tidak pernah berhenti mengganggu mu dan juga Jepri.
Ditambah lagi masih ada ayah kandung kalian, kali aja abang-abang mu akan bersekutu dengan ayah kandung kalian untuk menjatuhkan mu."
"Bernat harus merelakan hak perwalian ini jatuh ke tangan bang Damar? tidak bisa aku bayangkan apa yang akan terjadi dengan bang Jepri.
Dihadapan saja mereka berani mengatai bang Jepri sebagai orang idiot."
Bang Jidan menghela napas panjang dan kemudian menyeruput kopi hingga dua kali.
"Bernat.....
Kamu harus melihat siapa yang jadi lawan mu, kamu itu tulus dan baik hati.
Jepri hanya sebentar menderita, dan dia akan menyadari siapa yang tulus menyayanginya setelah melewati serangkaian cobaan.
Percaya kepada Tuhan Bernat, Tuhan melihat ketulusan hamba Nya."
Susana hening dan sejenak aku berpikir, ada benarnya juga apa yang di ucapkan oleh bang Jidan.
"baik bang Jidan, saya mengikuti saran abang.
Bernat tidak mau masalah ini berlarut-larut karena jalan hidup harus terus berjalan.
Lalu bagaimana dengan rumah bang?"
"kalau masalah gugatan rumah, Bernat tidak perlu khawatir. dokumen ini sudah valid, saya juga mengenal notaris pembuat akta wasiat ini, beliau adalah notaris yang menjunjung tinggi kode etik profesi nya.
Gugatan rumah di daftarkan di pengadilan negeri, sementara gugatan hak perwalian di pengadilan agama.
__ADS_1
Untuk saksi tambahan gugatan rumah, tolong diskusikan dengan om serta ibu mu itu ya, atau ahli waris dari kakek yang menandatangani akta wasiat ini."
"om Bayu dan kedua ibu itu akan bersedia membantu Ku, karena mereka tidak menginginkan rumah peninggalan itu di jual kepada orang lain.
Karena di sana banyak kenangan yang indah, dan sulit untuk dilupakan.
Sampai saat ini, rumah itu tidak saya renovasi, hanya memperbaiki yang rusak."
"memang benar kenangan itu sulit di lupakan. oh iya saya membawa dokumen ini semua untuk kami pelajari lebih lanjut.
Besok kami datang kemari untuk meminta tandatangan kuasa.
Kira-kira ada lagi yang dipertanyakan dari hasil diskusi kita ini?"
Merasa sudah cukup dan inilah yang terbaik, bang Jidan berkata tidak perlu mempengaruhi bang Jepri agar tetap bersama ku.
Cukup bersikap seperti biasa, karena Jepri juga butuh waktu dan kebebasan memilih.
Jika memang ketulusan hati tidak berlaku, apa gunanya mempertahankan sesuatu yang kita miliki.
Perpisahan pasti terjadi, dan pertemuan yang tidak bisa dipastikan.
Tuhan mempertemukan aku dengan bang Jepri, lewat persaudaraan kami, yang dilahirkan dari ibu yang sama dan ayah yang sama.
Aku menyayangi bang Jepri tanpa syarat, karena terlebih dahulu bang Jepri menyayangi Ku.
Sudah seminggu setelah konsultasi kepada bang Jidan dan rekan-rekannya.
Akhirnya kami menjawab gugatan dari ketiga abang-abang Ku itu, yaitu bang Damar, Anggi dan juga bang bang Firman.
Prediksi bang Jidan tepat, kalau ayah kandung kami terlibat dalam hal gugatan. sebagai ayah kandung dan juga turut andil melayangkan gugatan.
Dua gugatan berjalan sekaligus di dua kantor pengadilan yang berbeda, pertama gugatan terhadap perwalian bang Jepri yang dilayangkan oleh ketiga abang-abang Ku dan ayah kandung kami di pengadilan agama.
Sementara gugatan kedua tentang rumah peninggalan yang aku peroleh berdasarkan wasiat, hanya di gugat oleh abang-abang Ku melalui kantor pengadilan negeri.
Hari adalah gugatan pertama dan bisa diwakilkan dengan penasihat hukum atau pengacara dari pihak tergugat.**
Sesuai dengan perkataan bang Jidan, bahwa hakim meminta waktu bang Jepri untuk bersama penggugat.
Mereka bertiga dan juga ayah kandung kami datang ke rumah untuk bertemu dengan bang Jepri.
Aku bekerja seperti biasa, hanya Togu yang mengawasinya.
Pendekatan berlangsung selama tiga hari, dan pada akhirnya bang Jepri dibawa ke rumah ayah kandung kami.
Malam ini aku tidak tidur bersama bang Jepri, ada yang aneh dan tidak nyaman.
__ADS_1
Perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata dikala sendirian di dalam kamar ini.
Memaksa mata ini untuk terlelap, berat dan semakin berat.
Dari kejauhan dibalik kandang sapi itu, aku melihat mama sedang mencangkul.
Mama tersenyum kepadaku dan kemudian mengelus rambut ini seperti biasa dilakukannya ketika aku kelelahan.
"percayalah kepada Tuhan Bernat, ketulusan hatimu dan kasih sayang mu yang ikhlas dan tulus adalah segalanya.
itu yang membuat mu menang, yang tidak dimiliki oleh saudara-saudara mu.
Mama, kakek dan nenek mu sangat bangga kepada mu, kamu adalah anak mama yang berbakti, bahu lebar sebagai tempat sandaran dan dada mu bidang sebagai tempat membenamkan wajah agar tidak terlihat sedang menangis.
Mama percaya kepadamu dan itulah alasannya kamu menjadi tempat sandaran mama."
Aku tidak bisa bicara untuk membalas ucapan mama, dan suara yang memanggil nama Ku membuat mama pergi dengan awan putih.
brak...... ' suara pintu yang dipaksa untuk dibuka'
"bangun bang Bernat.... bangun bang......"
Samar-samar aku melihat Togu, Riyan dan Juna menangis sambil memelukku.
Terasa sesak karena mereka bertiga memelukku.
"kenapa kalian bertiga memelukku?"
Lalu mereka bertiga melepaskan pelukannya seraya menghapus air matanya masing-masing.
"Abang teriak-teriak di kamar ini, kami kira abang ntah kenapa."
"segitu nya kalian nangis?"
Sanggahan kepada Togu, karena merasa lucu melihat laki-laki berbadan kekar menangis seperti itu.
"Abang tahu kan kalau kami bertiga anak yatim piatu, kami bertiga abang pungut dari jalanan dan diperlakukan seperti layaknya manusia.
Diluar sana kami mengais makan untuk kami makan, dan abang adalah penyelamat kami.
Bagiku pribadi, bang Bernat adalah ayah, abang, sahabat, teman dan sekaligus bos Ku.
Aku takut jika aku kehilangan abang, karena tidak mau kehilangan ayah untuk kedua kalinya."
Kami hanya bisa berpelukan lagi, dan suara perut yang berbunyi karena kelaparan yang akhirnya mengakhiri pelukan kami berempat.
Orang lain yang tidak ada hubungan pertalian darah menjadi keluarga, sahabat, teman dan rekan kerja.
__ADS_1
Aku bersyukur telah dipertemukan dengan ketiga keluarga ku ini.