
Tapi berbeda dengan Damar, dirinya masih sanggup tersenyum dan melihat ke arah kamera handphone milik bang Jidan.
"ternyata jual beli organ tubuh manusia adalah bisnis yang instan membuat kita banyak uang.
Hasilnya aku bisa melanjutkan penelitian dan tentunya butuh objek percobaan.
Mendiang Jepri adikku adalah objek yang tepat, dan aku memutar otak agar bisa mendapatkan mendiang Jepri sebagai objek penelitian.
Dengan cara merebut hak perwalian nya serta membuat gaduh adikku yang selama ini merawat nya dengan ikhlas.
Alhasil aku mendapatkan tubuh Jepri dan menyuntikkannya serum tersebut dan ternyata memiliki efek samping yang mematikan dan pada akhirnya Jepri mati.
Perlahan-lahan hutang sudah bisa ku cicil, tapi membayar pengacara dan juga biaya tiga istri yang membutuhkan biaya yang lebih besar membuatku harus mencari korban lagi.
Semuanya terpenuhi dan akhirnya aku bisa memperistri gadis yang cantik dan tentunya masih perawan."
Seketika air mata ku menetes, karena mengingat mendiang bang Jepri.
Korban uji coba dari penelitian iblis berwujud manusia ini, ingin rasanya menggorok lehernya saat ini juga, tapi masih ku tahan.
Empat dokter bedah dari rumah sakit tempat awal Damar bekerja, dan ke empat dokter bedah telah dicabut izinnya karena melanggar kode etik serta mall praktek.
Sebagai orang lapangannya yang mencari korban adalah tugas saudara kembar laki-laki dari Reva.
Reva adalah istri kedua dari Damar dan sebenarnya mengetahui perbuatan suaminya.
Semuanya pengakuannya menguras air mata serta emosi dan bersyukurnya semua komplotan sudah berhasil di ringkus dan yang tersisa adalah pengepul atau penampung organ tubuh manusia yang siap di edarkan kepada pemesanannya.
Ternyata rekening penampungan uang nya, dan rekening itu atas nama Reva, istri keduanya.
Tentunya rekening itu tidak di ketahui oleh Reva, karena dirahasiakan oleh Damar.
Menurut perkiraan Damar, di rekening istrinya masih tersisa sekitar lima milyar rupiah karena sebelumnya sudah digunakan membayar hutang dan sebagainya.
Pihak lapas langsung melakukan sesuatu terhadap nomor rekening tersebut dan berhasil di blokir untuk sementara waktu.
Pengakuan itu sudah berakhir dan Damar sudah dibawa kembali ke sel tahanannya dan kepala lapas menemui kami.
"tolong jangan disebarkan video pengakuan itu, takutnya akan menginspirasi orang-orang di luar sana untuk melakukan hal yang sama."
"iya pak dan kami paham akan hal itu, ini sebagai bukti di persidangan nantinya.
__ADS_1
Hanya kami yang di ruangan ini yang merekam nya dan jika itu bocor ke publik dan itu salah satu dari kami yang di ruangan ini."
"terimakasih atas pengertiannya dan saya akan mengurus anggota ku sendiri."
Lalu kami pamit untuk pulang dan selama perjalanan menuju rumah, pikiran masih melayang-layang dan memikirkan nasib malang yang menimpa almarhum bang Jepri.
Memang bang Jepri berkata, harus ada korban untuk menghentikan kejahatan mereka dan kini baru sadar akan ucapan bang Jepri untuk terakhir kalinya.
"disekitar sini ada sebuah taman yang indah, lengkap dengan kafe yang menyajikan makanan dan minuman yang enak."
"kesana aja yuk, Bernat butuh udara segar bang."
Lalu bang Jidan memutar balik, dan lanjut perjalanan lagi.
Hanya menempuh lima belas menit dalam perjalanan, lalu kami tiba di sebuah taman yang masih sangat asri dan terlihat nyaman.
Berhubung hari ini masih hari kerja, sehingga taman tidak terlalu ramai pengunjung dan bahkan tergolong masih sepi.
Pemandangan ke arah danau buatan dan itu sangat menyejukkan pikiran ini, lalu tiba-tiba saja kapucino dingin sudah tersaji dihadapan ku tanpa aku sadari.
Berikut dengan ikan bakar dan dua porsi nasi, dan kami berdua menikmatinya sambil memandang ke arah danau buatan itu.
Akhirnya kenyang juga, dan secara bersamaan kami berdua bersama-sama menyeruput kopi yang tersaji.
Untuk Firman dan Anggi, mungkin akan mendapatkan hukuman penjara seumur hidup."
"Sebenarnya Bernat menginginkan kalau si Damar itu mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.
Agar kebebasannya terenggut sama seperti dia merengkuk nyawa anak-anak itu.
Semoga saja dia di hantui rasa bersalahnya, dan juga menderita di penjara seperti penderitaan keluarga korban karena kehilangan anak-anak mereka."
"sudah..... sudah......
ikhlaskan hati mu adinda, dan lapangkan hati mu.
Tuhan tidak pernah tidur dan selalu adil dalam setiap langkah kehidupan umat-Nya.
Percayalah kalau Tuhan akan membalas setiap perbuatan buruk umatnya."
"terimakasih ya bang atas semua nasihatnya."
__ADS_1
"sama-sama Bernat, dan abang sangat-sangat bersyukur mengenal kalian semua.
Pribadi yang kuat dan penuh dengan kekeluargaan dan pengayoman mu itu membuat ku takjub.
Kamu adalah pria yang hebat dan pantas aja Risa klepek-klepek kepadamu dan orang tuanya jatuh hati kepada mu sehingga langsung merestui hubungan kalian."
Hanya tersenyum dengan sanjungan dari bang Jidan.
"sebenarnya Bernat ingin memulai kehidupan disini, tempat kelahiran Ku.
Risa juga menginginkan hal yang sama, karena disini jauh lebih maju ketimbang di tempat asalnya.
Lalu hal itu di dukung kedua orangtuanya Risa, tapi aku ragu jadinya.
Mungkin nanti dari keluarga yang lain dari pihak ayah kami yang belum terungkap akan mengganggu ku kelak nantinya."
"tenang aja dan tetap aja pada rencana yang semula.
Yaitu menjadi rumah peninggalan sebagai kantor utama dan kalian nantinya tinggal di perumahan elit itu.
Abang yakin kok sama Risa, yakin kalau Risa mampu membuat semuanya terkendali.
Risa akan membuat pernikahan kalian berdua menjadi sempurna dan abang yakin itu."
"amin......."
Segera aku amin kan harapan itu dan semoga saja semua sesuai dengan keinginan.
"masalah yang lainnya yang berhubungan dengan kepolisian dan juga pengadilan adalah urusan abang dan juga tim.
kalian fokus aja untuk kerja, dan abang bersama tim yang mengurus mereka yang kamu maksud."
Nasihat dari Jidan memang sulit untuk diterima, mengampuni dan mencoba ikhlas akan perlakuan zalim dari saudara Ku.
Sungguh sulit untuk ikhlas dan mengampuninya tapi aku harus mencoba nya, sebab rasa dendam yang berkelanjutan akan menjadi penyakit dalam jiwa.
Tidak ada gunanya menyimpan dendam, toh juga tidak akan menjadikan ku kaya raya jika dendam ini aku pelihara.
Tidak juga bisa mengembalikan bang Jepri ke dunia ini, dan mungkin saja ini akan menjadi masalah bagi almarhumah bang Jepri.
Ikhlas adalah kuncinya yang mampu mengobati hati yang terluka, sebab Tuhan mampu melihat isi hati umat-nya.
__ADS_1
Seperti pesan mendiang bang Jepri, agar tidak lupa untuk bahagia dan saatnya membahagiakan diri sendiri dan sudah cukup berkorban selama ini.
Bukannya mengungkit tentang apa yang telah diberikan, tapi ini masalah etika dan hati.