TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Ada Hal Lain.


__ADS_3

POV Reva.*


Clara keluar dari toko nya, karena bus sekolah berhenti di depan toko dan keluar dua anak yang menghampiri Clara.


"ganti pakaian dan langsung makan ya, habis kerjakan pekerjaan rumah ya."


"iya ma..."


Kedua anak itu langsung berlalu ke dalam tanpa memperdulikan Reva yang masih meneguk minuman dingin.


"Saya rela meninggalkan pekerjaan ku yang dulu, karena mematuhi suami. memang selama itu selalu mendapatkan uang bulanan, walaupun nyatanya itu dari Bernat.


Berarti Bernat menafkahi ku dan ponakannya, dari situ aja kita sudah bisa melihat betapa brengseknya si Damar.


Niat tulus dari adiknya malah di manfaatkan sedemikian rupa.


Jika seandainya saja Damar tidak menikah lagi dan fokus kuliah dan kerja, saya rasa ngak akan seperti ini.


Mungkin beristri dua masih bisa di cukupi nya, tapi malah berpoya-poya dengan perempuan lainnya.


Istri sah si Damar itu ada tiga, dan istri siri nya ada dua lagi.


Damar juga berkata hal sama, bahwa Damar memiliki warisan yang banyak dan di perjuangkan dari tangan adiknya yang bernama Bernat.


Warisan yang banyak dan bisa mencukupi sampai tujuh turunan.


Padahal keluarga si Damar jauh lebih buruk dari yang sebenarnya, ayah mereka punya istri yang banyak hanya karena pegawai negeri sipil.


Ibunya Damar itu adalah istri siri dari ayah mereka, sementara sudah ada istri pertama dan istri keduanya.


Hanya sebagai pegawai negeri sipil, dan istri yang banyak demikian dengan anak-anaknya.


Kamu percaya kalau Damar memiliki warisan yang banyak dari orang tuanya?


Hanya orang bego yang mempercayai nya, dulu aku menikah sama Damar, karena dia dokter dan kami bersama-sama membangun klinik.


Niatnya Damar akan kuliah lagi untuk mengambil spesialisasi, dan tentunya itu lebih bagus.


Tapi malah nikah dan nikah, harta warisan yang di maksud Damar itu hanya halusinasi semata dan tipu dayanya.


Kamu kan berpendidikan tinggi, melamar aja sebagai dosen.


Sudahi semuanya dan lakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri, jika terus menerus seperti ini, kau nanti nya yang capek dan sakit hati."


"saya tetap mengatakan kau pengecut, dan tetap akan aku perjuangkan hak suamiku.


Akan ku buat si Bernat menyesali semua perbuatannya, dia telah menghancurkan keluarga ku dan juga hidup ku."


"terserah kau aja, kau atur lah disitu."

__ADS_1


Reva pergi dari toko Clara dengan kekecewaannya, karena Clara tidak bisa ajak bekerjasama dan harus mencari dukungan yang lainnya.


drrrt...... drrrt...... drrrt......


"siapa lagi yang nelpon? ngak tau apa orang lagi sibuk seperti ini."


Walaupun ngomel tapi tetap meraih handphonenya dan kemudian menjawab panggilan telepon tersebut.


'*agak lain memang otak mu itu ya, anak mu demam tinggi seperti tapi kau ntah kemana perginya.'


'ini mama kan?'


'iya kurang ajar, pulang kau*.'


Diakhiri secara sepihak dan dengan kesalnya Reva terpaksa harus pulang.


Sesampainya di rumah dan langsung lemas, karena anaknya wajah anaknya sudah pucat dan terlihat sangat lemas.


"kau dari mana Reva? lihat itu anak mu, bentar lagi meninggal itu."


"kenapa ngak di bawah ke rumah sakit ma?"


"itu anak kau, kok mama pula yang repot. sana bawa ke puskesmas."


"aku ngak ada uang ma."


"kan pakai BPJS bisa?"


"iya jelas kau ngak sempat ngurusin hal-hal penting seperti itu, orang kau sibuk mengurus harta milik orang lain.


Bawa aja ke puskesmas itu, biar mama yang bayarin."


Dengan kesalnya sang mama meminta Reva untuk membawa anaknya ke puskesmas.


Puskesmas tidak terlalu jauh dari rumah petak itu, dan dokter langsung memberikan pertolongan medis terhadap anak Reva.


"maaf ibu, saya sudah memberikan pertolongan pertama pada anak ibu, lebih dibawa ke rumah sakit aja.


Karena fasilitas medis disini kurang memadai, segera ya. biar saya buatkan dulu surat rujukannya."


Ujar dokter itu dan langsung membuatkan surat rujukannya, dan setelah mendapatkan semua itu langsung menuju rumah sakit terdekat dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh mama nya.


Sesampainya di rumah sakit melalui IGD, sang anak langsung di infus dan berbagai penanganan medis lainnya.


"penurun panas sudah diberikan, kita lihat perkembangannya ya. sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat."


"apakah cucuku akan baik-baik aja dokter?"


"berhubung dokter dari puskesmas itu sudah memberikan pertolongan pertama, dan mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.

__ADS_1


Tolong langsung ke administrasi ya bu, biar pasien segera di pindahkan ke ruang rawat inap."


Mereka berdua langsung ke administrasi dan lagi-lagi sang mama lah yang harus menjadi penjamin anaknya Reva.


Semua urusan sudah selesai, dan anaknya Reva di rawat di bangsal umum.


"rasanya percuma mama menyekolahkan kau tinggi-tinggi sampai S2.


bahkan biaya pengurusan dan modal notaris itu semua dari mama.


Sekarang kau tidak bisa lagi menjadi notaris, karena ijin mu sudah di cabut karena perbuatan yang tidak benar.


Sekarang harus mama lagi tidur mengeluarkan biaya untuk anak mu, kau benar-benar tidak berguna.


Mama sudah melarang mu menikahi dokter cabul itu, tapi masih aja ngotot.


Heran mama liat kau, sekolah tinggi-tinggi tapi otak nya doll alias soak."


"Reva ngak tau kalau Damar punya istri lain ma."


"ngak tau kau bilang? memang otak mu yang sudah soak.


berulangkali mama bilang kalau si Damar dokter cabul yang sudah beristri.


Saudara-saudara mu juga jadi rugi karena laki-laki bejat itu, sekarang apa yang mau perbuat?"


"ini semua gara-gara adiknya yang rakus itu ma."


"mama sudah tau semuanya Reva, ngak usah menyalahkan orang lain, perbaiki aja hidup mu."


Mereka berdua tiba-tiba terdiam karena dokter dan dua perawat menghampiri mereka berdua.


"bisa kita bicara di ruangan saya ibu, karena ada hal penting yang ingin saya tanyakan."


Dengan penasaran Reva dan mama nya mengikuti dokter tersebut, sementara anaknya Reva dibawa oleh ke dua perawat itu.


Dokter mempersilahkan Reva dan mama nya untuk duduk dihadapannya.


"apa ada masalah lain pada cucuku?"


"iya ibu, tadi pas di IGD. dokter dan perawat memeriksa ulang pasien sebelum dibawa ke ruang rawat.


Ada bekas luka di perut sebelah kanannya pasien, dan setelah di periksa lebih teliti dan itu bekas jahitan.


Kuat dugaan kami bahwa ginjal pasien sudah di ambil, dan itu yang menyebabkan demam tinggi.


Saat perawat sudah membawa pasien ke ruang ronsen untuk mengetahui lebih jelas."


Reva langsung pingsan mendengar penjelasan dari dokter, dan langsung di baringkan ke ranjang untuk mendapatkan pertolongan medis.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Reva sudah bangun dari pingsan dan mamanya berusaha menenangkannya.


__ADS_2