TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Somasi


__ADS_3

Pertama sekali Tiara menyerahkan dokumen, lalu memberikan surat yang sudah terbuka tapi Tiara menghela napasnya.


"kenapa? panjang amat napas nya?"


Tiara melirikku dan kemudian tersenyum, sementara surat yang terbuka belum aku baca dan hanya tergeletak di meja.


"maaf ya bang karena membuka surat itu, karena surat nya diantar security ke ruangan Tiara.


Surat yang pernah Tiara terima dari pengacara adik-adik Ku, somasi gugatan rumah yang aku beli dengan keringat ku sendiri.


Tapi ada tambahan disitu bang, tentang perwalian bang Jepri."


"malas aku bacanya, ceritakan aja dengan jelas."


Lagi-lagi Tiara menarik napas panjang dan menghembuskan nya, raut wajahnya yang memancarkan kekecewaan.


"okey......


Somasi ini ditujukan kepada abang, atas hak gugatan rumah yang tempati saat ini, serta perwalian bang Jepri.


Somasi dari pengacara bernama Rifai dan rekan-rekannya.


Samalah dengan somasi yang pernah Tiara terima bang.


Mereka menginginkan hak tinggal bapak atau perwalian gitu, dan juga menggugat rumah yang aku beli."


"emangnya orang tua butuh perwalian? lalu apa yang kamu lakukan?"


"iya ela bang..... bang.....


Abang pura-pura bego atau memang tidak mengerti sama sekali?"


"kalau aku ngerti, ngapain aku nanya sama Tiara, agak lain kamu ini?"


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Tiara malah tertawa lepas di hadapan Ku, ternyata tertawa itu menular kepada Ku dan akhirnya kami berdua hanya tertawa walaupun aku tidak paham kenapa Tiara tertawa.


"begini ya abang ganteng, kami kan suku Batak Toba.


menurut tradisi, bahwa orang tua seharusnya tinggal bersama anak laki-laki yang paling kecil berikut dengan rumah tempat tinggal orang tua.


Ada kewajiban moral yang tidak tertulis, dimana semua anak-anak yang sanggup secara ekonomi memberikan biaya hidup kepada orang tua.


Tapi jaman sekarang ini, budaya itu sudah bergeser, banyak para orang tua yang menginginkan hidup mandiri tanpa merepotkan anak-anaknya.


Berhubung rumah satu-satunya milik orang tua kami sudah terjual, karena bujuk rayunya kedua adikku dan bapak sempat tinggal di rumah salah satu adikku dan pada akhirnya bapak di usir oleh mereka.


Akhirnya bapak aku mintak tinggal di rumah ku, seperti yang telah Tiara cerita kemarin itu.


Karena pertikaian mengenai membiayai modal usaha adik-adik, yang tidak pernah ada wujudnya. pada akhirnya rumah aku jual dan membawa bapak tinggal di kompleks itu.


Mereka berdua tidak bisa lagi mengganggu Tiara, dan somasi itu berjalan.

__ADS_1


Harapan dari somasi adalah, jika bapak ada di rumah mereka, maka saya berkewajiban memberikan nafkah kepada bapak, tentunya uangnya akan masuk ke kantung adek-adek.


Kedua adikku itu menyangkal kepemilikan rumah yang aku beli dan menggugatnya.


Tapi Tiara santai menghadapi nya, saya lepaskan aja bapak dan membiarkan untuk memilih tinggal dimana, toh juga bukan hanya Tiara anaknya.


Tiara juga menggunakan alasan tradisi Batak Toba, bahwa anak perempuan tidak berkewajiban untuk menafkahi orang tua dimasa tuanya.


Karena masih ada dua anak laki-lakinya yang sudah bekerja.


Sementara rumah yang Tiara tempati sekarang, jelas riyawat nya.


Dari pengembang Tiara beli, dan hanya sedikit renovasi.


Sumber dananya juga jelas, yaitu dari hasil penjualan rumah yang lama dan pengajuan pembiayaan di bank serta ditambah bonus dari kantor ini.


Mereka tidak bisa berkutik sedikitpun dan aku balik menggugat mereka berdua, untuk menafkahi bapak selama masa hidupnya.


Karena mereka berdua sudah menerima warisan kedua orang tua kami, berupa kebun dan rumah yang sudah terjual.


Akal licik mereka berdua terpatahkan karena ketamakan dan mereka setiap bulan nya harus mentransfer uang lima ratus ribu. sebenarnya satu juta per orangnya, tapi karena tidak sanggup mereka berdua mintak diskon.


Lumayan lah, akhirnya bapak tidak memihak kepada mereka lagi, karena bapak mengetahui siapa yang ikhlas merawat nya dan menyayangi bapak.


Tiara menduga akan sama dengan kasus abang ini, saudara-saudara mu itu bang menginginkan hal sama.


Mereka akan meminta pertanggungjawaban abang akan nafkah bang Jepri serta biaya yang lainnya.


Lalu menggugat rumah yang abang tempati walaupun mereka tidak tahu menahu riwayat dari rumah tersebut.


Menurut abang gimana?"


Aku hanya tersenyum dan mengangguk setuju terhadap pernyataan dari Tiara, karena memang benar seperti itu.


"berarti abang harus menyewa pengacara iya."


"pengacara.....?


Saya juga butuh bang."


"saya juga."


Obrolan kami berhenti karena Lamhot dan Sion dari rumah potong hewan mendatangi kami di ruangan ini dengan membawa surat.


Ternyata surat itu adalah somasi, Tiara langsung menepuk jidatnya.


Mereka berdua langsung duduk di hadapanku dengan raut wajahnya yang muram.


" kami berdua sudah pamit ke mak Lisa untuk menemui abang disini, Lamhot dan Sion butuh pertolongan abang.


Begini loh bang, kami berdua ini adalah sahabat sejak kecil dan sama-sama putus sekolah demi adik-adik kami bang.


Biarlah kami putus sekolah dan bekerja, asal mereka bisa sekolah dan hidup dengan layak.

__ADS_1


Lamhot misal nya ni bang, semua gaji dan bonus Lamhot ini adalah untuk biaya sekolah dua adek Ku serta biaya hidup kami.


pulang kerja saya harus beres-beres rumah serta memasak, karena tidak ingin menggangu belajar mereka.


Kami itu dulu ngontrak bang, dan sisa hasil pekerjaan, baik itu gaji dan bonus. aku tabung di koperasi, pada akhirnya bisa membeli rumah dengan cara KPR (kredit perumahan rakyat).


Setelah kerja disini dengan gaji yang jauh lebih baik dan bonus yang sangat baik, akhirnya kami berdua ini berhasil melunasi KPR nya setelah pengajuan pelunasan.


Perlahan-lahan rumah di renovasi, berhubung sudah lebih dari lima tahun kredit berjalan, sehingga bisa renovasi rumah KPR.


Menambah dapur, dan membeli sisa tanah disamping rumah. lalu merenovasi lagi, dengan menambahkan luas bangunan.


Terlihat mewah dan bagus bang, karena di renovasi dan ada penambahan luas bangunan.


Adik-adik bilang itu adalah rumah warisan, padahal itu saya beli dengan cara KPR bang.


Kedua adikku sudah selesai kuliah tapi masih nganggur.


mereka terlalu memilih-milih pekerjaan, katanya mau buka usaha saja dan menginginkan rumah ku di jual buat modal.


Lamhot sudah habis-habisan untuk membiayai sekolah mereka hingga selesai kuliah.


hanya rumah yang aku miliki untuk tempat berteduh, tapi itu mereka ingin menjualnya dan pada akhirnya menggandeng pengacara untuk menggugat saya.


Apa yang harus aku lakukan bang?"


Penjelasan dan curhatan Lamhot yang sama persis dengan Sion, mereka mengadu kepadaku dimana aku juga mendapatkan surat somasi dari abang kandung ku sendiri.


"tenang aja, mengenai pengacara biar Tiara yang cari, kita gugat mereka balik.


Enak aja, tidak tahu berterima kasih, benalu dan ihhhhh.......


geram loh, kita sudah berjuang sampai titik darah penghabisan, kita hanya mengumpulkan seperak demi seperak untuk kita dan itupun masih mau di mintak lagi.


Tenang kalian semua, dan akan kita buat mereka membayar apa yang mereka perbuat."


Dengan berapi-api Tiara berkata demikian lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


Terdengar begitu akrab saat panggilan itu, dan tidak lupa juga menghubungi Juna yang sempat menawarkan pengacara.


Tiara sudah selesai menelpon dan kemudian duduk dihadapan ku.


Lalu Juna menghubungi Ku, yang mengatakan kalau sudah ada yang memboking seluruh pengacara itu, yaitu Tiara.


"Namanya Jidan dan partner bang, mereka adalah pengacara top yang akan membantu permasalahan ini."


Pengacara yang di disebutkan oleh Tiara ternyata pengacara yang sama dengan yang hendak di tawarkan oleh Juna.


"baiklah kalau begitu, nanti biar saya yang menanggungnya. serta membayar biaya yang sudah dikeluarkan oleh Tiara untuk menghadapi somasi itu.


Tiara nanti buatkan jadwal pertemuan dan buat anggaran Nya serta masukkan biaya yang kamu keluarkan waktu itu."


Dengan tegas dan mantap, Tiara mengatakan siap. sudah saatnya untuk bangkit dan melawan kezaliman.

__ADS_1


__ADS_2