TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Berhadapan Para Warga.


__ADS_3

POV Damar.*


Reva melotot ke arah suaminya yang bernama Damar, dan tatapan sang istri membuatnya resah.


"kenapa?"


"masih bertanya? ngak ada otak mu kurasa, sudah miskin dan masih nekat beristri tiga.


Semua harta kita sudah ludes bang Damar, belum lagi nanti adik mu itu menuntut mu, untuk pertanggungjawaban atas kematian adikmu yang idiot itu.


untuk apa sih bereksperimen terhadap si idiot itu?


Si Bernat sudah punya bukti atas eksperimen mu itu, ngak tau deh mau berbuat apa lagi."


"kamu tenang dulu Reva, nanti biar abang yang menghadapi nya, dan yang terpenting sekarang abang dah keluar dari penjara dulu.


Harta bisa di cari, lagipula adik ku kaya raya kok, pasti dia mau bantuin abang."


"sana pergi dan minta bantuan sama dia, kalau ngak. habis nyawa mu di buat saudara laki-laki Ku.


Ingat ya bang, kamu dah janji akan segera mengembalikan uang itu kepada saudara Ku, mereka itu ngak main-main bang Damar.


Belum tau aja kalau mereka bertiga bandit berdarah dingin."


"kamu tenang aja, sekarang juga abang mau ke rumah Bernat."


Jawabannya kepada sang istri dan keluar rumah setelah mengambil tas kecilnya.


Menggunakan taksi online dan segera menuju kediaman Bernat.**


Baru tiba di depan gerbang rumah sang adik dan langsung disambut dengan gonggongan anjing yang berjumlah tiga ekor dan bertambah lagi dan lagi.


"Bernat....... Bernat........"


Teriakan nya hilang di telan suara anjing yang terus-menerus menggonggong.


"waouuuuu....


ngapain kau disitu? bising tau....."


Suara itu mengagetkan Damar, dan ketika menoleh nya dan itu adalah kepala lingkungan yang selalu berpatroli di wilayahnya.


"pak Bima....


adek-adek kemana ya? seperti ngak ada orang di dalam."


"Bernat dan ketiga adik-adik nya lagi pergi bersama Yusuf, katanya mau survei tempat baru."


"Yusuf anak bapak kan? terus kemana perginya pak?"


"iya anak saya, Bernat dan adik-adiknya kan kerja sama sama Yusuf untuk meningkatkan produksi ternak dan katanya permintaan daging halal semakin tinggi.


Mereka memerlukan lahan baru untuk peternakan.


kemana perginya bapak ngak bisa memberi tahu, karena itu privasi mereka."


"tolonglah kasih tau pak, Damar sangat butuh pertolongan Bernat."

__ADS_1


"ngak berani bapak, kalau Bernat dan adik-adiknya marah, bapak masih bisa membujuknya agar tidak marah.


Tapi ini berkaitan dengan Yusuf, menantu dan cucu-cucu bapak.


Mereka akan menyerang bapak nantinya, dari urusan ribet dan berantam sama anak dan cucu-cucu ku, mendingan keep silent aja deh."


Seketika Damar lemas dan kemudian berjalan mendekati pak Bima.


"Kenapa bapak langsung keluar rumah ketika mendengar anjing menggonggong?"


"dokter oon....


kau kan tau kalau saya itu kepala lingkungan disini, saya selalu patroli di sekitar rumah warga ku, karena memang itu tugas ku.


Ngapain kau kemari? "


"bukan urusan bapak, karena ini hal privasi antara saya dan adik Ku."


"okelah kalau begitu, berhubung rumah ini di titipkan sama saya, dan saya harap anda segera pergi.


takutnya nanti hilang satu ekor sapi nya, sana pergi..."


"kok ngusir? ini itu rumah orang tua kami pak Bima."


"orang tua mu yang mana? kau anak siapa?"


Kedua alis Damar diangkat nya dan tersenyum sinis ke arah pak Bima.


"iya anak ibu dan bapak kami lah, lucu bapak ini dan lebih tepatnya aneh."


"kau yang aneh, di tanya apa jawaban nya malah pertanyaan.


Bernat berpesan agar menolak masuk ke rumah nya bagi orang yang bernama Damar, Firman dan Anggi serta antek-anteknya yang tidak berguna.


Foto wajah kalian semua sudah ada sama Ku dan segera lah kau enyah dari hadapan Ku."


"belagu banget.....


memang bapak siapa? kok seenaknya aja mengusir saya."


"saya kepala lingkungan di daerah sini, dan Bernat bersama adik-adiknya sudah memberikan amanah untuk menjaga rumah nya dari maling seperti kau."


"saya bukan maling ya pak."


"ngak usah banyak bacot, kalau ngak saya teriak maling nih."


"ada apa pak kepling (kepala lingkungan, atau kepala RT)? mana maling nya?"


Ucap seorang warga yang datang bersama tiga orang temannya, dan seketika itu Damar terlihat gugup.


"saya bukan maling, saya datang kemari untuk mengunjungi adik-adik ku."


"nama kau siapa emangnya?"


"D....a...mar....."


Damar menjawab pertanyaan warga itu dengan terbata-bata dan ketakutan.

__ADS_1


"jadi kau yang bernama Damar......."


Ucap pria itu dan mengambil dua benda yang seperti besi dari rekan nya.


teng ........ teng........ teng........ teng.......


Suara dari kedua benda yang di pukul dan seketika para warga lain berkumpul dan mengelilingi Damar.


"bapak-ibu ibu yang terhormat, pria brengsek ini bernama Damar.


Pria ini yang membunuh almarhum Jepri dan si bangsat yang memfitnah peternakan kita.


Si gila ini dan adiknya yang bernama Firman, mengatakan dan menyebarkan kalau ternak-ternak kita diberikan makanan yang mengandung zat kimia berbahaya.


ini nih orang nya, sang penyebar fitnah."


Para warga semakin banyak dan mengelilingi Damar dan terlihat dari sorot matanya yang menggambarkan ketakutan.


"eh bangsat....


kau tau dari mana kalau makanan ternak-ternak kami itu mengandung zat kimia berbahaya?


emangnya pernah kau memeriksa atau meneliti makanan ternak kami?


jawab bangsat......"


Ujar seorang ibu-ibu yang terlihat sangat geram kepada Damar.


"apa apaan ini?"


Suara bas dari seorang pria yang menghampiri kerukunan para warga tersebut dan secara serentak mereka menoleh sumber suara tersebut.


"begini pak Lurah.....


si bangsat ini memfitnah ternak-ternak kami, sehingga kami yang punya ternak rugi karena perbuatannya.


Si bangsat ini memfitnah ternak-ternak kami di media sosial dan berkata kalau pakan ternak kami mengandung zat kimia berbahaya.


Pakan ternak kami sudah diteliti oleh adik-adik mahasiswa di kampus nya dan dinyatakan sangat-sangat aman dan bebas dari segala zat kimia berbahaya."


"begitu ya pak Sugeng....


bisa tolong panggilkan para mahasiswa itu serta penanggung jawab mereka?"


"bisa pak Lurah, bahkan saya bisa memanggil dosen mereka."


"baik kalau begitu, mintak mereka datang ke balai Lurah dan seret pengacau ini.


Bapak-ibu.....


Jangan bertindak anarkis ya, kita selesaikan dengan damai.


Saya sebagai Lurah disini dan cukup mengenal para warga Ku yang selalu mengedepankan cara damai, saya tidak ingin para warga ku berakhir di penjara karena pengacau ini.


kita balai Lurah aja yuk."


Cara Pak Lurah yang memenangkan warganya dan mereka mengikuti pak Lurah menuju aula kelurahan.

__ADS_1


Sesampainya di aula kelurahan dan Damar langsung di minta duduk di hadapan mereka sembari menunggu para mahasiswa yang melakukan penelitian terhadap pakan ternak para warga.


__ADS_2