TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Solusi Yang Baik.


__ADS_3

Kopi hitam dalam gelas ku teguk, dan terasa begitu nikmat, demikian dengan bu Sukma dan anaknya serta Juna.


Kami berempat meneguk kopi kami masing-masing dan kemudian saling tertawa.


"menurut Raja ya ma, kita jemput aja si Asiyah. kasihan juga melihatnya di tinggal seperti itu.


Seolah-olah Asiyah tidak punya keluarga lagi nantinya, perlahan-lahan kita buka kembali pikirannya akan doktrin yang berbahaya itu.


Raja yakin kalau Aisyah bisa berubah, kalau memang tidak bisa di bina, ya di binasakan.


Kita berikan kesempatan ma, karena biar bagaimanapun Asiyah itu adik perempuan Ku dan putri mama.


Kalau bukan lalu siapa lagi yang akan mengayomi nya.


Memang berat mengubah pola pikir dari seseorang yang sudah hidup dengan doktrin yang sesat.


Tapi itu tugas kita untuk membawa Aisyah ke jalan yang benar sebelum dia terlalu jauh melangkah.


Mungkin suami yang di angkat polisi, adalah jalan agar kita bisa membawa Asiyah ke jalan yang benar."


Tatapan mata bu Sukma kepada anaknya terlihat kosong, dan pada akhirnya meneteskan air matanya.


"sebenarnya Bernat setuju akan saran dari bang Raja.


Tapi untuk kasus yang Bernat alami, saran dari bang Raja tidaklah akan berguna.


Bernat sudah berulangkali untuk mencoba berdamai dengan mereka, tapi itu tidak berguna dan malah semakin menyakitiku.


Saya mintak karena harus bertindak seperti ini dan inilah yang terbaik menurut ku saat ini yang bisa aku lakukan."


"kamu hebat dan luar biasa nak, bertahun-tahun kamu sabar, di tipu dan juga tidak dianggap.


Ibu baru beberapa tahun mengalaminya dan sudah hampir menyerah dan hampir putus asa.


apa yang kamu lakukan sudah benar nak Bernat, dan seperti kata Raja barusan. bahwa dengan di penjara nya si Firman dan itu kesempatan bagi kami untuk membawa kakak ipar mu itu ke jalan yang benar.


terimakasih karena sudah membantu, dan terimakasih karena ibu mendapatkan solusi.


Sebagai ucapan terimakasih ibu dan karena sudah singgah di rumah makan ibu, maka ibu kasih diskon dua puluh persen.


Terkecuali nak Bernat bertamu di rumah pribadi ibu, tapi ini adalah bisnis.


Ibu juga takut nak Bernat tersinggung kalau memberikan makanan gratis."


"benar kata ibu, bisnis adalah bisnis. karena kita kenalan dan ketika ibu hendak membeli daging ternak ke Bernat.


Palingan juga Bernat bisa memberikan diskon sepuluh persen."


"dikit amat sepuluh persen."


"kalau terlalu dikit, Bernat tambahan sepuluh butir telur ayam kampung, dan lima butir telur bebek."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Kami tertawa karena tawar menawar yang terjadi di atas meja ini, lalu bu Sukma menghitung jumlah yang kami harus bayar.


"lumayan juga ya, tapi yang makan anak lajang sih."

__ADS_1


"bukan karena anak lajang ibu, memang karena masakannya enak semua."


Sanggah Juna dan pemilik restoran itu pun memberikan apel satu buah atas pujiannya.


Setelah membayar dengan diskon dua puluh persen, lalu kami pulang.**


Sore hari sudah tiba dan kami sudah selesai bekerja dan duduk santai dibelakang rumah yang menghadap pemandangan tanaman sayur-sayuran kami.


"maling itu bang....maling......"


Suara dari seorang perempuan dari arah belakang kami, suara itu adalah milik mahasiswi cantik itu.


plak......


Satu buah tomat yang busuk mendarat tepat di kepala Risa, anak mahasiswi yang sedang melaksanakan praktek kerja lapangan di peternakan ini.


"tutup mulutmu yang bau itu Risa, enak aja bilang bude maling."


Tomat yang melayang itu adalah perbuatan ibu Risma, bude dari mahasiswi cantik itu. sepertinya mereka tidak pernah akur.


"bude.....


lihatlah ni rambut ku, kotor jadinya kan."


"siapa suruh teriak maling? kau kira bude mu ibu maling? nanti bude koyak mulut mu itu ya."


Adu mulut itu masih berlangsung dan akhirnya bu Risma mendatangi kami dengan memegang sayuran dan juga beberapa bumbu masak di tangannya.


"iya maling.....


plasss.....


Bayam merah yang sudah di ikat, lalu di pukul ke kepala Risa ponakannya.


"auhhhh.....


dah kyak ibu tiri aja deh."


"diam kau."


Walaupun terlihat serius tapi lucu aja, sehingga kami tertawa akan tingkah mereka berdua.


"ngapain lagi datang? bukannya tadi jam dua sudah pamit mau ke kampus?"


Bukannya menjawab pertanyaan bude nya, Risa malah mengambil tomat yang sudah merah dari plastik yang baru di ambil oleh bu Risma.


Tomat itu dibelah nya lalu di lumuri ke seluruh rambutnya.


"eh pengasuh sapi, di rumah sudah habis sampo ya?


perasaan bude baru belanja kemarin, cepat amat habis nya?"


"masih banyak loh bude, ini karena rambut Risa sudah terkena tomat yang dilempar bude tadi.


Sekalian aja Risa buat pangir atau pengganti conditioner alami.


Kandungan pada tomat ini bude, sangat bagus untuk menjaga kesehatan rambut dan kulit kepala.

__ADS_1


apalagi tanaman tomat disini adalah organik, jadi sangat cocok untuk rambut Risa yang mencetarkan."


"ohhhh.....


jadi kamu yang menghabiskan tomat dan juga daun bunga lidah buaya bude di rumah?"


"berdua bude, sama Nina. ngak bude lihat rambut kami kinclong dan tumbuh dengan sehat serta lebat."


haaaaaa......


Bu Risma hanya menghela napasnya dan kemudian menatap ponakannya itu.


"kau ngapain lagi kemari? bude ngak perlu di jemput, bude itu sudah ada langganan tukan becak."


"idih.....


PD amat mau mau jemput, kami juga sudah tau kalau bude itu ada langganan tukang becak."


Jawab Risa dengan nada nya yang menjengkelkan, lalu menatapku dengan tatapan genit nya. sebenarnya itu meresahkan hatiku karena tatapan itu membuat resah dan akhirnya....


"ahhhhhh.....


sakit bude, asyik mencubit Risa aja lah."


"kalau orang tua itu bertanya ya jawab peseong....."


"iya bude iya.....


begini bude, eh bang Bernat.....


biar lebih pas, ntar biar Risa panggil teman-teman ya.


girls......


come on girls....."


Ternyata Dinda dan dua teman perempuan yang mengenakan almamater kampus yang sama datang ke meja ini.


"silahkan duduk girls, rumah ini adalah milik calon suamiku, ngak udah sungkan-sungkan ya..."


"ihhhhh......


mana mau nak Bernat sama perempuan bar-bar kau itu.


Gadis aneh nan ajaib, dimana sampo nya tomat dan daun lidah buaya.


dasar aneh....."


haha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha haha


Lagi dan lagi kami tertawa, karena sanggahan dari ibu Risma yang nyeleneh.


Menurut pribadi ya, Risa itu ngak bar-bar tapi dia adalah mode asyik gitu.


Mungkin saja rumah ini adalah milik calon suami nya, tapi apakah getaran hati benar adanya?


Tatapan Risa itu benar-benar membuatku hatiku semakin bergetar dan bingung untuk mendeskripsikannya.

__ADS_1


__ADS_2