TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Kecelakaan.


__ADS_3

Memesan makanan dan minuman untuk kami nantinya, karena adek-adek akan segera tiba di tempat ini.


drrrt.... drrrt..... drrrt..... drrrt.....


Nomor baru dan sepertinya ini adalah nomor telepon dari instansi terkait, dan kemudian aku menjawab panggilan telepon tersebut.


' apa benar saya bicara dengan pak Bernat?'


'iya, saya sendiri bu, ini dari mana ya?'


'saya Fika dari rumah sakit Permana, disini ada pasien dalam terluka parah karena kecelakaan mobil.


Pasien yang bernama Togu, Riyan dan Juna, saat ini pasien sedang berada di ruang operasi dan mohon bapak segera datang kemari ya.'


'iya bu.'


Lemas rasanya kaki ku dah tidak sanggup lagi untuk berdiri.


Handphone ku kembali bergetar dan ternyata yang menghubungi adalah bang Jidan.


'*kamu dimana sekarang dek, biar jemput ya.'


'di kopi kafe*.'


Handphone itu terjatuh lagi dari tanganku dan tidak berapa lama kemudian bang Jidan sudah tiba di kafe ini.


"tadi abang dan teman-teman sedang meeting di kafe simpang jalan raya itu, dan terdengar suara mobil yang sedang tabrakan.


Lalu kami keluar dari kafe karena penasaran melihat apa yang terjadi.


Begitu terkejut nya ketika melihat mobil yang bonyok itu, karena mobil itu pernah abang pakai.


mudah-mudahan adek-adek bisa terselamatkan."


Hanya air mata yang mengalir deras di pipiku dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Tidak berapa lama dan kami berdua sudah tiba di depan rumah sakit dan aku keluar dari mobil.


"Togu, Riyan dan Juna dimana bu?"


"sabar ya pak, pasien masih di ruang operasi."


"ruang operasi nya sebelah mana?"


"disebelah sana pak, nanti lurus dari sini dah kemudian belok kiri ya."


Langsung berlari menuju ruang operasi, dan sesampainya di sana melihat lampu itu masih merah yang artinya operasi belum selesai.


"Bernat tenang ya, sabar.... sabar. untuk administrasi nya sudah di urus oleh Tiara. kamu tenang ya dek."


"gimana ini bang Jidan? adek-adek ku masih di ruangan itu?"


"iya....iya....iya ...


kamu tenang ya, dokter lagi berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk adik-adik Mu."


Mondar-mandir seperti orang kebingungan dan terus-menerus memerhatikan lampu merah itu.

__ADS_1


"gimana keadaan anak-anak pak pengacara?"


"belum selesai operasi bu Risma, kami juga lagi menunggu disini."


"apa yang terjadi bang Bernat?"


"ngak tau Risa, a.... adek.... adek-adek masih di dalam."


"sabar ya, kita tunggu dulu sampai dokternya keluar dari ruangan itu.


Semoga saja Togu, Riyan dan Juna. bisa selamat dan tanpa kekurangan apapun."


Sungguh aku tidak bisa mendengar penjelasan dari bang Jidan, karena diri ini sudah dipenuhi kekwatiran.


Hampir dua jam kami menunggu disini dan akhirnya lampu itu berubah menjadi biru.


"dokter..... dokter......


adek-adek ku gimana dokter?"


"berkat doa kalian semua, ketiga pasien berhasil diselamatkan tanpa cacat.


Tinggal masa pemulihan dan mungkin satu jam lagi pasien akan sadar, untuk saat pasien akan berada di ruangan intensif sampai pasien sadar."


"terimakasih Tuhan....."


Segala puji syukur atas kehadirat yang Maha Kuasa, karena adek-adek masih selamat dari maut.


Tidak berapa ketiga adek-adek sudah keluar dari ruang operasi dan terbaring lemah di ranjang nya.


Kemudian perawat membawa mereka ke ruangan intensif, dan kami hanya bisa melihatnya dari kaca yang kecil itu.


"cepatlah siuman bang Togu, bang Riyan dan juga bang Juna.


Kan dah janji mau double kita, lihat bang Bernat sudah seperti induk ayam yang kehilangan anaknya."


Seketika kami menoleh ke arah Diana, karena ucapannya yang nyeleneh.


Air matanya yang berderai tapi masih bisa berucap demikian.


"dua minggu lagi kami wisuda loh, siapa nanti yang membawa bunga untuk Naura bang Riyan."


Kemudian kami menoleh ke arah Naura, yang bicaranya nyeleneh juga.


"awas aja kalau bang Juna ingkar janji ya, kan dah janji akan membawa bunga untuk Vira saat wisuda."


Apa lagi Ekavira, ini cewek ada hubungan apa sama adek-adek ku ya?


"bang Bernat yang sabar ya, adek-adek abang itu pasti segera siuman, ketiga calon adik ipar ku akan menjadi pengiring di pernikahan kita."


"Risa...."


"iya bude....."


"liat situasi dong Risa, ngak kau lihat susana sekarang gimana?"


"iya bude...."

__ADS_1


"bang Togu gerak loh."


Ujar Diana dan seketika tiga dokter bersama perawat yang mendampingi mereka datang dengan setengah berlari ke ruangan ICU itu.


Sementara kami masih dilarang masuk dan hanya bisa mengintip dari kaca kecil itu.


Tidak berselang lama, dua dokter dan satu perawat keluar dari ruangan tersebut dan dokter itu tersenyum.


"luar biasa sekali perkembangan kesehatan pasien itu, mereka bertiga sudah siuman dan itu berkat doa bapak ibu sekalian.


Mohon di tunggu dulu ya, perawat dan staf sedang mempersiapkan ruangan rawat inap untuk ketiga pasien."


"mereka bertiga adek-adek ku dokter, apa saya bisa masuk ke dalam?"


"sabar ya pak, sedang dipersiapkan untuk dibawa ke ruang rawat inap.


Sabar ya pak, dikit lagi ya."


"kalau calon istrinya bisa masuk ngak?"


"sabar ya...."


Kami hanya menoleh Diana yang bicara seperti asal saja dan kemudian kami fokus ke pintu ruangan yang sudah di tutup dokter tadi.


Akhirnya adek-adek ku berhasil keluar dari ruangan intensif itu dan kami mengikuti mereka ke ruang rawat inap.


"kakak sengaja membuat mereka bertiga dalam satu kamar ya, supaya ngak ribet. semua urusan administrasi sudah kakak urus."


"terimakasih kasih ya kak Tiara, maaf sudah merepotkan."


"ngak ada yang merasa direpotkan, kita kan keluarga dan sudah saatnya saling tolong menolong.


Bernat melihat adek-adek dan kakak yang mengurus administrasi nya, istilahnya berbagai tugas lah.


Ada yang ingin kakak sampaikan, tapi nanti aja, mari kita lihat dulu keadaan adek-adek."


Ujar kak Tiara, dan kemudian kami semua langsung masuk ke dalam ruangan.


"Togu, Riyan, Juna.....


terimakasih karena adek-adek ku karena sudah siuman."


"bapak-ibu....


pasien belum bisa di ajak bicara, mohon bersabar ya."


Ucap perawat itu dan kami hanya bisa menatapnya dengan air mata kebahagiaan yang berderai di pipi.


"Risa mau menunjukkan sesuatu sama abang."


"Diana juga bang."


Ucap kedua gadis itu, dan akhirnya kami memilih untuk berunding terlebih dahulu.


"abang-abang dan kakak-kakak, kalian ngobrol aja dulu, biar Vira dan bude yang berjaga-jaga disini."


Ucap Ekavira yang memberikan handphonenya kepada Risa.

__ADS_1


Lalu kami keluar dari ruangan dan bang Jidan meminta satu ruangan kosong untuk kami diskusi.


Perawat menuntun kami ke suatu ruangan yang tidak terlalu besar tapi cukuplah untuk kami.


__ADS_2