TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS

TALI PERSAUDARAAN YANG PUTUS
Baru Terasa.


__ADS_3

POV Anggi.*


Masih menatap Anggi yang berdiri dihadapannya, sehingga Anggi harus bertanya dua kali kepada pak Bima.


"maaf saya tidak memberikan kontak seseorang tanpa seijin yang bersangkutan, karena itu melanggar privasi.


Sebaiknya kamu pulang aja, ngapain berdiri disini dan buat keributan."


"tolonglah pak Bima, sudah bingung ini mau tinggal dimana, kalau hanya saya ngak apa-apa tidur di kolong jembatan, tapi bagaimana dengan kedua anak-anak ku ini?"


"itu urusan mu dokter Anggi.....


cepat pergi dari sini, ntar kau di kira maling oleh warga sekitar."


Ucap pak Bima lalu memberhentikan becak betor untuk Anggi serta kedua anaknya.


Anggi tidak berkutik lagi dan langsung naik ke becak betor tersebut dan meninggal pak Bima yang berdiri di depan pagar itu.


"untung masih ada sisa uang."


Anggi bicara kepada dirinya sendiri dan meraih sesuatu dari plastik itu.


Tidak berapa lama kemudian, becak betor itu berhenti di depan gang lalu Anggi turun sambil menuntun anak-anaknya.


Gedung yang besar seperti kos-kosan yang menjadi tempat berteduh malam hari ini, setelah membayar biaya sewa selama satu malam dan langsung menuju kamar yang disewa nya bersama kedua anaknya.


"lapar....."


Anak Anggi yang paling kecil berkata lapar begitu juga dengan anaknya yang paling besar, dan Ia baru sadar kalau dirinya juga sedang kelaparan.


"tunggu disini ya, biar Papa beli makanan dulu untuk kita."


Kedua anaknya itu mengganguk mengerti, lalu Anggi menyalakan televisi untuk di tonton anak-anaknya.


Anggi menelusuri anak tangga penginapan itu dan akhirnya tiba di ruangan resepsionis dekat pintu masuk.


"permisi kak, di daerah sini yang jual makanan di mana ya?"


"keluar dari sini lalu belok kiri dan langsung ketemu food court yang menjual segala jenis makanan dengan harga yang terjangkau dan enak."


"terimakasih ya kak, satu lagi. kakak tahu kontrakan di daerah sini?"


"saya kurang paham mengenai standar kontrakan yang bapak inginkan, tapi di belakang penginapan ini, berjejer kontrakan. ada yang rumah petak dan juga kamar kos-kosan yang bervariasi.


Mudah-mudahan bapak bisa menemukan kontrakan atau kos-kosan yang sesuai dengan kebutuhan bapak."


Anggi kemudian berterima kasih atas informasi dari resepsionis dan melanjutkan langkahnya untuk mencari makanan.


Sesuai dengan arahan dari resepsionis dan akhirnya ketemu dengan food court yang di maksud.

__ADS_1


Lalu Anggi memilih makanan khas Padang, dan setelah menerima pesanan nya lalu membayar nya.


Sebelum ke pergi ke penginapan, terlebih dahulu Anggi singgah di warung untuk membeli minuman.


Kemudian beranjak pergi karena anak-anaknya sedang menunggunya di kamar penginapan.**


Setelah kenyang dan sudah memandikan anak-anaknya, lalu menidurkan keduanya dan Anggi keluar dari kamar penginapan tersebut.


Berjalan menelusuri gang dan tibalah sebuah depan rumah yang sangat besar.


Anggi menekan bel dan seorang perempuan paru baya menghampiri nya.


Perempuan baru baya itu menanyakan tujuan Anggi datang ke rumahnya, setelahnya perempuan paru baya itu mengajak Anggi untuk melihat kamar kontrakan nya.


"biaya sewa kamar untuk perbulannya seharga delapan ratus ribu rupiah, sudah ada AC di kamar utama dan juga dapur serta kamar mandinya.


Hanya listrik yang di tanggung pengontrak, karena sewa kontrakan sudah termasuk biaya air, dan kebersihan.


Area kos-kosan full sisi TV dan kemanan bisa ibu jamin sebagai manusia.


apakah tertarik untuk menyewa kontrakan ini?"


"iya bu, tapi besok aku kemari lagi tapi saat ini akan aku bayar untuk biaya sewa satu bulan dulu."


Setelah memberikan uang sewa kontrakan lalu Anggi kembali ke penginapan.**


Anggi baru keluar dari kamar mandi dan telah mengganti pakaiannya, kemudian menatap kedua anak laki-lakinya.


"besok kita pindah ke rumah baru nak dan sabar karena papa akan memberikan yang terbaik untuk kalian berdua."


Ucapnya dengan pelan kepada kedua anaknya itu.


"besok aku akan mendatangi kantor si bodoh itu, dengan membawa kedua keponakan nya ini dan mungkin akan membuat nya iba.


Anak bodoh itu pasti akan membuka pintu hatinya lagi, dan aku merayu nya agar memberikan modal membuka klinik gigi lagi.


harus dan harus, hanya perlu modal sedih yang bisa mengoyakkan hati si bodoh itu."


Ujarnya lagi dan kemudian merebahkan tubuhnya di samping kedua anaknya itu.**


Suara langkah kaki dan isak tangis kedua anaknya yang membangunkan Anggi, kedua anak laki-lakinya itu kelaparan.


"kenapa kalian menangis?"


"lapar Papa...."


Jawab anaknya yang paling besar, dan tidak berapa kemudian pegawai penginapan mengetuk kamar yang ternyata membawa sarapan untuk dua orang saja.


Anggi langsung memberikan makanan itu kepada anak-anaknya dan baru saja di masukkan ke mulut sudah di muntahkan.

__ADS_1


"ngak enak pa....


nasi keras dan ngak ada rasanya."


Ucap anak pertamanya dan Anggi langsung membuatkan susu untuk keduanya karena tadi malam sudah dibelinya dari warung.


Kedua anak itu sudah minum susu lalu Anggi mencoba memakan makanan yang tersedia itu.


Baru saja masuk ke mulut tapi sudah di muntahkan.


Anak-anak sudah minum susu dan telah selesai di mandikan, demikian juga dengan Anggi yang sudah bersiap untuk cek out dari penginapan.


Anggi membawa anak-anaknya ke kontrakan dan berusaha menyiapkan segala sesuatunya.


Setelah itu bersiap-siap untuk berangkat ke kantor Bernat, sesuai dengan rencananya tadi malam.


Menggunakan becak betor, Anggi membawa kedua anaknya pergi.


Perjalanan dua puluh menit, akhirnya Anggi turun bersama anak-anaknya di halaman kantor Bernat.


"Bernat....."


Anggi bertriak memanggil Bernat yang berpapasan dengannya, dimana adiknya itu datang bersama seorang dua orang laki-laki yang mengenakan almamater kampus dan seorang pria lagi yang membawa tas.


Anggi langsung menggendong anaknya dan berlari menghampiri Bernat.


"kita masuk kedalam aja, kasihan anak-anak mu."


Ujar Bernat, dan Anggi langsung tersenyum. mungkin karena merasa misi nya mulai berjalan.


Anggi dan anak-anaknya dibawa Bernat ke suatu ruangan, sementara ketiga pria yang bersama Bernat pergi ke tempat lain.


"anak-anak....


kenalin om ini adalah om kalian, namanya om Bernat."


Lalu anak-anak itu salim ke Bernat lalu duduk disamping Anggi.


"ngapain datang kemari?"


Tidak seperti biasanya, Bernat selalu sopan kepada saudara-saudaranya tapi kali ini Bernat terlihat dingin kepada Anggi.


"jutek amat....."


"langsung aja, saya masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.


Saya tidak membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak penting."


"saya abang mu Bernat, berikan minum dulu kenapa."

__ADS_1


"tuh ada air minum, ambil aja sendiri."


Jawab Bernat dengan nada ketus, lalu Anggi bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah dispenser.


__ADS_2